Kadang-kadang aku mengira kalau anak laki-lakiku yang soon to be 14 years old ini masih anak kecil yang imut. Dan kelupaanku terkadang 'bisa saja' membuatnya malu. Misalnya,
- Aku mengambil gambar 'ntah' dia lagi ngapain yang menurutku lucu tanpa sepengetahuannya, lalu upload ke media sosial.
Layaknya ketika masih imut-imut dulu, aku senang aja mengambil gambarnya yang menurutku lucu dan menarik, lalu ku posting ke media sosial. Tapi belakangan, tidak semua gambar segampang dulu meng-upload-nya. Kalau si Hamdi tau, aku baru saja membuat sebuah status mengenai dirinya, bakalan diprotes.
Suatu waktu, aku kembali meng'capture' nya sedang membaca sebuah buku yang cukup tebal. "Ah sudah lama tak update status tentang buku yang sedang dia baca." Fikirku.
Maka aku mengambil gambarnya, dan ternyata dia sadar. Lalu bilang, "Maaa, please lah Ma. Pasti mau posting itu di Facebook. Nggak mau Hamdi, nggak usah di upload-upload lah."
Lalu kujawab "Nggak papalah, Hamdi ya baca aja. yang posting kan Mama, bukan Hamdi."
Akhirnya dengan sedikit perdebatan yang tidak alot, dia menyerah. Tapi dengan catatan, "Jangan posting yang aneh-aneh." Katanya.
Menurutku, mungkin dia malu kalau mamanya ini terlalu pamer, karena di friendlist ku juga banyak guru-gurunya di Sekolah.
Pernah juga dia kesal aku upload video dia sedang bermain gitar. Malu katanya, karena di friendlist Instagramku ada teman-temannya juga. sedangkan temannya juga ada yang lebih jago main gitarnya.
Padahal buatku, walau yang lain lebih jago, sekecil apapun keahliannya udah bikin aku bangga. Nah, beda pemikiran ya antara ibu dan anak.
- Mengulang pertanyaan yang sama mengenai teman-temannya, atau dirinya dan temannya (ternyata ini sedikit annoying buat anak laki-laki).
"Tadi gimana di sekolah?"
"Baik-baik aja."
"Ngapain aja?"
"Biasalah, pulang sekolah main basket dulu."
"Hamdi deket nggak sama si anu. trus si ini.. ? Si ini itu gimana kalo di sekolah? Kalo si unu gimana sama Hamdi. Si Ono ?" Nah kalo begini, dia mulai kesal nih. Aku nanyanya terlalu detil bikin dia ngerasa aku terlalu ingin tau privasi teman-temannya. Kalau sudah begitu, dia pasang defense buat teman-temannya.
"Duh, Ma. Nggak gitu juga, Ma. Biasa aja. Yang kayak gitu jangan terlalu diambil hati ah. Hamdi temenan sama semua oranglah."
- Paling tidak suka kalau aku datang ke sekolah untuk protes sesuatu yang menurutnya nggak perlu. Misal, dia pernah cerita,
"Ma, kayaknya yang juara 3 ICT kemaren harusnya Hamdi. Soalnya gambar yang juara 3 kemaren mirip sama punya Hamdi, tapi dia punya lebih kaku dan kasar."
"Kok bisa mirip?" Tanyaku.
"Soalnya, habis Hamdi ngerjain, Hamdi foto trus kirim ke grup kelas. Jadi pada liat." Jawabnya.
"Trus, taunya Hamdi kok bisa mengira yang harusnya juara 3 itu Hamdi?" Tanyaku lagi.
"Setelah diumumkan juara 3, tiba-tiba guru ICT Hamdi nepuk pundak Hamdi, trus ngomong kalau poster bikinan Hamdi sebenarnya bagus."
"Hamdi jadi mikir, jangan-jangan Pak Gurunya salah ngambil poster karena mirip. Tapi karena udah terlanjur diumumkan namanya, jadi ya udah." Lanjutnya.
"Looh, kok bisa begitu sih. Coba besok mama ke sekolah, nanya gurunya." Seruku.
"Haduuuuh, nggak perluuuuu, Maa. Apaan sih Mama. Lagian itu cuma lomba pelajaran di sekolah aja kok. Yang penting nilai Hamdi A. " Tolaknya menanggapi keinginanku untuk mendatangi gurunya.
Ya sudah, Aku urung mendatangi gurunya :)
Kejadian lain yang membuatnya kesal adalah, tanpa sepengetahuannya aku langsung whatsapp gurunya tentang sebuah project yang dianggap belum dikumpulkan padahal sudah dikumpulkan Hamdi ke guru pengganti (waktu itu gurunya cuti). Dia kesal waktu aku bilang sudah menghubungi gurunya hari itu.
"Loh Mama Whatsapp Bu Guru? Kan udah Hamdi bilang, biar Hamdi aja yang ngurusin. Hamdi kan mesti nemuin guru pengganti yang kemaren dulu. Ihh Mamaaaa. Lain kali ngomong ke Hamdi dulu lah. Bu guru yang ini agak sensitif Ma orang nya." Serunya kesal.
Yaaah... salah deeeh.
- Kalau aku ngomel nggak jelas karena capek, akan disambut dengan candaan ala dia. Misal,
"Hamdiii... hal-hal yang udah jadi rutinitas itu nggak perlu mama bilangin berulang-ulang laah. Kalo udah selesai semuanya , langsung jemur pakaian. Pokoknya Hamdi nggak perlu ke sekolah kalo pekerjaan yang di rumah belum beres. Hamdi itu sekolah buat diaplikasikan ke rumah. Kalo di rumah masih juga diingatkan buat ini itu, mending nggak usah deh sekolah. Di rumah aja." Gerutuku kalau melihat dia masih santai sebelum berangkat sekolah padahal pakaian yang sudah dicuci belum juga dijemur.
Candaan ala dia itu mirip betul dengan ayahnya yang menghadapi aku kalau lagi mengomel. Uufftt.
"Hayo Adekkk... Mama udah marah tuh. Adek ssiiiih nggak jemur pakaian. Senangnya bikin Mama marah aja." Candanya gangguin si Ahza yang padahal aku marahnya ya ke Hamdi.
Dan kalau ayahnya, modelnya begini juga, "Hayoo Hamdi... hayo Ahza.. bikin Mama marah. emang enak kena maraaaah " Sambil bersenandung. 11 -12 yaa -_-
- Sudah mulai ada yang kasih kasih coklat dan bilang suka. This is the hardest dealing sebenarnya. Apalagi kalau si remaja kita juga mulai menyukai seseorang. Tapi Alhamdulillah sampe sekarang nggak ada yang aneh-aneh. Dan buat aku jelas ya, "Suka' itu biasa tapi "No Pacaran"