Bergemuruh badai disebuah kamar Palem Inn
Bergumul bergulat mencekik urat nadi
Kuseret engkau di sofa itu
Kucampak kau pada busa bertumpuk
Sejumput adegan terpantul dalam cermin
Wajahmu terengah menyinggung taring
Matamu membara membakar syarafku
Mencengkram leherku tersendat mati
Tak ada badai yang berlalu
Terus terombang-ambing
Menggulung akal sehat dan nurani
Sekejap tsunami menyapu habis
Saat kudendang tembang asramadana
Kutindih engkau demi benih kehidupan
Tiba-tiba ku melayang terbang
Selaksa kilat kau raih punggungku
Kau tusuk jemarimu dalam tuk mendekatmu
Hanya mengeleng kepala tanpa kata
Karena kata itu hilang
Bersembunyi dalam jeritanmu