Senyap menyelimuti kota kecil itu di pagi hari. Sesekali terdengar gonggongan anjing yang saling bersahutan. Seorang pemuda dengan cekatan berlari melintasi jalanan kota yang masih basah sisa hujan semalam. 30 menit berselang, sampailah ia ke tempat tujuannya, rumah tua dengan halaman yang tidak terurus. Pemuda itu menghela napas panjang. Peluh keringat membanjiri di sekitar dahi, pelipis, leher, dan tengkuknya.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu yang memang tidak terkunci. Ia sekarang berada di sebuah ruangan berbentuk kotak yang sepertinya merupakan ruang tamu rumah tua tersebut. Matanya menjelajahi setiap sudut ruang tamu hingga sampai ke suatu pintu di pojok kiri ruang tamu tersebut. Dilangkahkan kakinya menuju pintu tersebut. Pintu itu tidak sepenuhnya tertutup. Suara menderit terdengar ketika ia mendorong pintu. 6 pemuda yang duduk melingkar di ruangan itu seketika menoleh melihat dirinya.
“Kau terlambat lagi Sam.” ujar pemuda berambut pirang yang tampak paling tua.
“Kau terlambat 3 kali dalam bulan ini, apa saja yang kau lakukan semalam Sam?” pemuda berkulit hitam yang duduk persis di depannya menimpali.
“Maafkan aku.” pemuda yang ternyata bernama Sam tersebut menjawab pelan.
“Duduklah Sam.” ujar si pirang