Bukan Berkhalwat

eungga(35)
Published in
#steemit
Words
747
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Annyeong, Steemians…

Kali ini aku bakal cerita sedikit mengenai Pemandangan Geli Kemarin. Tanpa bermaksud menyebarkan aib siapapun atau mencoba membuka aib seseorang. Kejadian kemarin murni tanpa aku atau mereka sengaja, kalau bahasa keren anak sekarang kenikmatan dalam sial. Ahh padahal dari sudut pandangku hal ini tidak mengandung unsur nikmat dari segi manapun, sungguh.

Kemarin cuaca tidak 'seberingas' biasanya, mataharipun tidak seleluasa hari sebelumnya menyinari bumi sebab awan menghalangi. Dan Alhamdulillah cuaca kemarin bersahabat denganku, sebab rencana perjalananku lumayan banyak hari itu.

Dimulai dari menjemput temanku yang rumahnya berjarak sekitar 7 km dari rumahku, lalu mencoba survey tempat yang ingin kami (aku dan temanku) jadikan tempat usaha. Tempat pertama sudah kami kunjungi, dan rasaku tempat itu lumayan cocoklah untuk sementara. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan berikutnya. Sampai di traffic lights kami nyaris saja celaka, disebabkan keteledoran kami sendiri. Nasib baik kami tak ape, kata Upin dan Ipin eh kataku maksudnya.

Aku yang berstatus sebagai penumpang menyampaikan pendapat bahwa aku ingin lewat dari depan alun-alun mesjid IC di Kotaku, sebab katanya kemarin akan diadakan eksekusi hukuman cambuk bagi pelanggar kasus kejahatan seksual dan perjudian. Aku tak mengatakan maksudku secara gamblang pada temanku hanya ingin lewat jalan ini saja alasanku. Kulihat suasana alun-alun mesjid ramai dikarenakan ada acara perlombaan tarik tambang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar alun-alun. Tidak kulihat adanya tanda-tanda akan diadakannya eksekusi cambuk hari itu rasaku. Lalu kami melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, aku sesekali mengecek ponsel dan memanjakan mata dengan melihat pepohonan dan bangunan yang kami lewati. Hingga sampailah di jalanan yang lumayan sepi, namun ini jalan utama, sesepi apapun pasti ada kendaraan lain.

Dari arah berlawanan kulihat dua orang pria berpakaian biasa saling berboncengan. Aku tidak bermaksud memperhatikan, namun kulihat lelaki yang duduk di belakang sedang seperti memberi rangsangan pada leher lelaki di depannya, ntah hanya sekedar bercanda atau gimana. Aku harap mereka bercanda. Aku sampai memutar kepalaku mengikuti arah pandangku yang terus tertuju pada mereka. Dih, bencana apa ini? Pikirku. Lalu kuputar kepalaku ke arah depan dan kutanyakan pada temanku apa dia melihat kejadian tersebut, ternyata tidak. Setelah kuceritakan kami hanya tertawa.

Masih tak habis pikir dengan kejadian siang kemarin, sore harinya kami pulang dan melewati jalan yang sama di Desa K. Aku tersenyum simpul ketika mengingat kejadian siang kemarin, kukira sore harinya akan biasa. Sampai kami di jembatan arah ke kota, tanpa sengaja mataku melihat ke arah sebuah sepeda motor matic. Kulihat mahasiswa laki-laki berboncengan, ketika sepeda motorku melewati kendaraan mereka kulihat tangan kiri pengemudi dan tangan kanan penumpang saling bertautan di atas paha kanan lelaki yang membawa sepeda motor tersebut. Kontan saja aku buang muka. Lalu kami memperlambat kecepatan jalannya sepeda motor kami, kami menunggu momen kedua ehh maksudnya memperjelas penglihatan sebelumnya. Lumayan lama motorku melaju dengan kecepatan lambat, sampai akhirnya motor kedua lelaki tadi melewati kami. Kulihat mereka duduk biasa seperti pengendara lainnya. "Ahh mungkin tadi mereka sedang melepaskan kait benang yang tersangkut di kantung celana salah satunya" pikirku geli. Aku teringat lagi kejadian tadi siang dan kejadian barusan. Ck! Semoga ini hanya murni rasa curigaku saja, bukan bencana :D

image

Berkaca pada dua kejadian tersebut aku jadi teringat kasus prostitusi yang tengah hangat menjadi santapan media dan panas di dalam kepalaku. Keenam korban prostitusi alias wanita tuna susila (WTS) itu bebas. Mereka dikembalikan kepada orang tua mereka masing-masing dengan alasan mereka tidak tertangkap basah sedang melakukan perbuatan yang melanggar hukum seperti berkhalwat atau melakukan zina. Sehingga mereka tidak layak dijatuhi hukuman sesuai peraturan daerah yang berlaku. Mereka hanya KORBAN. Sekali lagi saya sebutkan bahwa mereka K O R B A N.

Aku sempat membaca berita di media online, ada 3 golongan yang akan mendapatkan hukuman berdasarkan Perda nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat (mesum) Provinsi Daerah Istimewa Aceh, seperti yang disebutkan oleh pihak berwajib yakni :

  1. Orang yang berkhalwat atau berdua-duaan laki-laki dan perempuan meski tidak melakukan apapun,
  2. Orang yang tidak berpakaian sebagian atau seluruhnya, dan
  3. Orang yang berzina atau melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan yang sah atau belum menikah.

Hemm merujuk pada peraturan yang demikian, aku terima jika mereka (WTS) tersebut tidak diberikan hukuman karena mereka tidak tertangkap basah atau tertangkap tangan. Nanti jika tertangkap tangan mungkin akan lain ceritanya. Ini sudah bahasa hukum, jadi terima gak terima yaaa aku harus terima.

Balik lagi kepada kejadian siang dan sore kemarin, aku rasa jikapun mereka benar melakukan sesuatu hal negatif seperti yang aku pikirkan, maka mereka juga lolos dari perda yang aku sebutkan di atas. Karena mereka bukan dari golongan poin 1 sampai 3.

Wallahu alam bisshawaf

Bukan Berkhalwat | Ecency