Hai Steemian! Semoga hari ini kita dalam keadaan sehat semua. Amin. Kali ini saya ingin menyampaikan persoalan sosial di tengah masyarakat kita. Banyak pesoalan sosial yang menarik untuk diulas menjadi sebuah tulisan. Namun hanya tinggal kemauan kita saja untuk menuliskan persoalan sosial di sekitar kita.
Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan dari pusat Kota Meulaboh ke Kecamatan Kaway XVI. Jarak perjalanan sekitar 30 Kilometer dengan memakan waktu selama 45 menit. Dalam perjalanan saya melihat banyak tanaman dan tumpukan kayu di badan jalan serta beberapa spanduk.
Karena penasaran dengan pemandangan yang ironi ini, saya memutuskan untuk singga di sebuah warung kopi, di samping jalan yang di punuhi tumpukan kayu. Setelah saya bertanya-tanya dengan warga disana, saya mendapakan sedikit informasi yang bisa saya tulis di steemi.
Ternyata warga Kecamatan Kawai XVI, Aceh Barat, memblokir ruas jalan lintas Meulaboh-Tutut karena jalan dipenuhi debu. Sejumlah warga mengaku mulai teranggu kesehatannya akibat debu dari badan jalan.
Sekitar dua kilometer jalan Meulaboh-Tutu di blokir warga. Jalan tersebut menimbulkan debu ketika dilintasi kendaraan. Warga mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan sejak beberapa bulan terakhir.
Warga memblokir jalan dengan menaruh tamanan, kayu-kayu serta bererapa spanduk sebgai bentuk protes di badan jalan. Jalan ini menimbulkan karena rusak kembali setelah beberapa hari usai diperbaiki.
Warga mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah terkait dampak debu yang di timbulkan dari jalan tersebut. Pembangunan jalan Meulaboh-Tutut dari anggaran Anggara Pendapata Belanja Aceh (APBA) senilai 4 miliar ini, diperbaiki pada desember tahun 2017 lalu. Namun jalan ini kembali rusak setelah tiga hari usai pekerjaan.
Selain itu saya juga menggali informasi melalui pemberitaan media massa. Beberapa media menuliskan berita tentang jalan tersebut. Dari hasil riset saya ini, saya mendapat informasi, perbaikan jalan ini diduga sarat korupsi dan saat ini sedang di tangani Kejaksaan Negeri Meulaboh.