Rasa bahagia itu bisa datang dimana saja dan kapan saja. Begitu juga dengan rasa ke tidak bahagiaan. Pastinya rasa bahagia tidak bisa di ukur dengan materi atau finansial. Walaupun ada pendapat kebahagian itu harus didukung oleh materi.
Pastinya saya sedang merasakan kebahagian, karena bertemu teman steemian dari Kalimantan @afrizalar. Ia orang Aceh, tapi kini menetap sementara di Kalimantan karena urusan kerjaan.
Saya mengenal Ayah Zal panggilan akapnya, di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sekitar tahun 2009. Pada tahun tersebut saya pertama sekali ke Kota Meulaboh dan nemetap hingga kini.
Saya permah numpang tinggal di kantor LSM tersebut tempat Ayah Zal bekerja, dengan waktu yang lumayan lama hampir tiga tahun. Di lebmaga sosial ini pula saya belajar tentang fenomena sosial di tengah masyarakat. Saya dan @afrizalar pernah beberapa kali melakukan gerakan sosial kemanusian. Namun saat itu kami belum menjadi steemian.
Beberapa waktu lalu saya membagikan postingan Steemit di halaman media sosial yang lain. Ternyata postingan saya menjadi awal perkenalan kami sebagai steemian. Kami hanya saling cerita sepintas tentang steemit di media sosial dan cerita berlanjut ke WhatsApp.
Memang tidak banyak yang kami bicarakan tetang steemit. Saya hanya menawarkan untuk bergabung di grup WhatsApp KSI Chapter Barsela. Karena di grup WA tersebut bisa saling berbagi ilmu tentang Steemit.
Melalui pesan singkat WA saya mendapat kabar bahwa @afrizalar pulang ke Aceh, akhir bulan tiga lalu. Kesempatan bertemu teman steemian dari jauh menjadi sesuatu yang luar biasa. Kami hari ini bertemu di warung kopi dimana tempat saya saring nogkrong, Warkop Endatu.
Biasanya kami membicarakan banyak hal tentang isu-isu sosial masyarakat di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Barat. Namun kali ini pembicaraan kami jauh bergeser dari biasanya, kami membahas tentang steemit, tepatnya tentang semangat menulis di steemit.
Bersama kami juga turut ketua KSI Chapter Barsela @bairuindra. Ketua dan
@afrizalar saling memperkenalkan diri, karena baru kali ini mereka kenal tatap muka, walaupun telah ke berkomunikasi di grup WA. Ternyata mereka saboh gampong, tapi meuturi di steemit, (ternyata mereka sekampung, tapi berkenalan di steemit).
Hanya ini cerita kebahagian saya sari ini. Kebahagian menurut saya cukup dengan cara yang sederhana, bisa bertemu dengan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup saya dan pernah hidup bersama saya.