MANY THINGS I want to write, but how? A question that often makes me unable to sleep at all at night. Then it becomes a problem that often ends in grunting for days, feeling that I am a useless, or even more sadistically, I come to regret that I belong to a mob of fools.
Being burdened with feelings of guilt for yourself is like the most latent disease that eats away at the body very slowly. And feeling stupid yourself is the same as cancer that lodges in the mental, attacking the spirit, killing the triggers of motivation until you lose your mind to return to work as you have done before. If so, how wretched am I.
The feeling of having no ideas for writing is one of the most common experiences for novice writers. But an excess of ideas is an equally bad problem that keeps novice writers in a battle of their own minds; which idea was written first? In the end, he didn't write anything.
At least I've had problems like the ones I mentioned above over and over again, like the last one I've had in the last two days. At first I wanted to write about a country that is increasingly showing its ruthless face to the people, while in front of the power of capital it is nothing more than a buffalo with its nose poked out. But the idea was immediately dispelled because the state has its own way of ensnaring critics, and I, who is blind to the law, am of course afraid of all forms of state cruelty.
At the same time, I also want to write about the behaviours of celebrities who constantly show off their wealth, while small people live suffering, especially in the midst of this pandemic season.
Basically, I want to write about inequalities, such as the fact that the rich only get richer, while the poor continue their life in endless suffering. But as I mentioned earlier, there are a lot of inequality in my country, and this makes me confused where to start. Confusion that led to: I did not write at all.
With that confusion, until as I write this little note, I realize that I have lost by many things. First, I was defeated by the confusion itself. Furthermore, I think this hurts the most, I was also defeated by the state, because of the inequalities it couldn't resolve, I felt surrounded by many ideas. While at the same time I needed to learn more about how to narrate them in a coherent way, clear, unambiguous, so my article can be easily understood by the readers.
Speaking of learning a lot, I think it's a never ending process, and the way I learned to write was through constant practice plus more reading. That's it for now, I'll add in another chance.
Banyak Hal Yang Ingin Kutulis, Tapi Bagaimana?
BANYAK HAL yang ingin kutulis, tapi apa? Pertanyaan yang sering membuatku sama sekali tak bisa tidur malam. Lantas jadi persoalan yang kerap berujung pada gerutu berhari-hari, merasa diri tak punya manfaat, atau bahkan lebih sadis lagi tiba pada penyesalan bahwa aku termasuk dalam gerombolan kaum dungu.
Terbebani dengan perasaan bersalah untuk diri sendiri tak ubahnya penyakit paling laten yang menggerogoti tubuh dengan sangat perlahan. Dan merasa dungu sendiri sama halnya seperti kanker yang bersarang di mental, menyerang semangat, membunuh pemicu motivasi hingga kau kehilangan akal sehat untuk kembali berproduksi. Jika demikian, betapa celakanya aku ini.
Perasaan tak ada ide untuk menulis adalah satu hal yang paling sering dialami oleh penulis pemula. Tapi kelebihan ide jadi persoalan yang sama buruknya yang membuat penulis pemula terjebak dalam pertarungan pikirannya sendiri; ide mana lebih dahulu ditulis? Ujung-ujungnya ia tak jadi menulis apa pun.
Setidaknya aku mengalami persoalan seperti kusebutkan di atas berulangkali, seperti yang terakhir kualami dalam dua hari ini. Tadinya aku hendak menulis tentang negara yang kian hari kian menampakkan wajah bengisnya terhadap rakyat banyak, sementara di hadapan kuasa modal tidak lebih seperti kerbau yang dicucukkan hidungnya. Tapi ide tersebut langsung buyar oleh sebab negara punya caranya tersendiri untuk menjerat para tukang kritik, dan aku--yang buta hukum ini, tentu saja takut dengan segala bentuk kebengisan negara.
Pada saat yang sama aku juga mau menulis tentang petingkah selebriti yang terus-terusan pamer kekayaannya, sementara orang-orang kecil hidup menderita apalagi di tengah musim pandemi begini.
Sejatinya ingin sekali aku menguraikan segala ketimpangan yang ada. Tapi seperti yang kusebut tadi, ada banyak sekali ketimpangan yang terjadi di negaraku ini, perihal yang membuatku bingung harus memulainya dari mana. Kebingungan yang berujung pada: aku tak jadi menulis sama sekali.
Dengan kebingungan itu, sampai pada saat aku menulis catatan kecil ini, aku sadar bahwa aku telah kalah oleh banyak hal. Pertama, aku kalah oleh kebingungan itu sendiri. Selanjutnya, kupikir ini paling menyakitkan, aku juga dikalahkan oleh negara, yang karena ketimpangan-ketimpangan yang tak mampu dibereskannya aku jadi merasa dikepung oleh banyak ide sementara pada waktu yang sama aku perlu lebih banyak belajar lagi bagaimana menarasikannya secara runtut hingga tulisanku nanti enak dibaca.
Omong-omong tentang belajar banyak-banyak, kukira ini proses yang tak berkesudahan sampai kapan pun, dan cara aku belajar menulis adalah dengan terus-terusan latihan ditambah memperbanyak bacaan. Sekian dulu, lain waktu aku tambahkan.