MELUKAI DIRI SENDIRI

Words
718
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Yuk mengenal masalah remaja yang suka melukai diri sendiri...



Saya ingin bercerita tentang dunia remaja yang cukup pelik dengan masalah tentang individunya, tentang sosialnya karena perasaannya dikelola pikiran negatif.

Awal cerita...

Siang yang terik di kota kami membuat saya ingin rehat sejenak melakukan aktifitas saat itu, duduk dan sekedar minum sambil menonton televisi...

Tiba-tiba pintu diketuk dan saya tersilap siapa remaja cantik di hadapan saya yang datang diantar sopir pribadinya di siang yang terik seperti itu. Saya persilahkan masuk dan gadis remaja cantik itu dengan sopannya mencium tangan saya...

Oke...ada apa denganmu nandaku sayang ???

Setelah mengawali obrolan pembuka akhirnya si cantikpun mengungkapkan perasaan yang sepertinya lama ingin dikeluarkan.

Perasaan ...??? ya...semacam curhat pada seseorang yang mungkin saja bisa memberikan solusi tepat atas problemnya.

Saya rangkum ceritanya : bahwa, selama dia merasakan kehidupan, si cantik tidak merasa puas, padahal dia terlahir dari keluarga berkecukupan, bahkan keluarganya cukup terpandang di kota kami.

Si cantik berkisah, hari-harinya dirasakan sepi...terkadang dia kebingungan harus melakukan aktifitas apa. Mama dan Papanya adalah orang tua yang punya kesibukan masing-masing yang cukup padat. Sementara saudara yang lain asyik dengan kegiatannya masing-masing, terkadang ingin berbicara dan mengadu atau berkeluh tetapi harus pada siapa.

Akhirnya, teman setia si cantik adalah gadget...padanyalah dia melampiaskan perasaannya, dan di dunia tanpa batas (maya) si cantik menemukan sahabat-sahabat senasib dan tergerak untuk saling berbagi apa yang akan dilakukan.



Mau tahu apa yang mereka lakukan ...???

Ya...mereka membuka komunitas sebagai remaja yang melampiaskan emosinya,kekecewaan hidupnya, rasa marah , sedih, putus asa, perasaan ditolak, atau perasaan kosong dalam dirinya dengan cara menyakiti dirinya sendiri...yaitu dengan rela menyayat bagian-bagian tubuhnya oleh pisau atau benda tajam lainnya. Mereka akan merasa jiwanya plong dan tenang setelah melihat ada goresan dan bisa saja mengeluarkan darah segar . Inilah yang disebut Self Injury ataupun self cutting.



Saya memahami bagaimana perasaan seorang remaja yang pada dasarnya masa tersebut adalah suatu periode kehidupan yang penuh dinamika yang membutuhkan suatu sikap diri untuk bisa masuk dalam suatu peer group yang positif, namun mereka ada pada posisi atau keadaan lingkungan yang tidak mempunyai empati padahal mereka sangat membutuhkan adanya empati dari orang-orang sekelilingnya.

Saya bertanya pada si cantik...
“Apakah dengan melukai diri sendiri seperti itu, memberikan dampak sesuatu yang lain dalam perasaanmu ?”

Si cantik menjawab ...
“untuk sementara yaa...merasa lega...”
Luar biasa dampak yang ditimbulkan dari perasaan kecewa ...

Bila kekecewaan demi kekecewaan terjadi maka self cutting bagi remaja seperti ini akan menjadi suatu kebiasaan, menjadi sebuah obsessive-compulsive disorder (OCD).

Saat itu...dengan menahan diri untuk tidak lebih banyak bertanya saya dengan sabar terus mendengarkan si cantik mengeluarkan isi hatinya, mengeluarkan semua yang selama ini dipendamnya...

Saya melakukan diri saya sendiri berpihak pada si cantik, saya apresiasikan apa yang dia rasakan, saya tidak menyalahkannya.

3 jam si cantik terus bercerita, menangis, tertawa bahkan terkadang terlihat emosinya memuncak, saya mendengarkan dengan hanya sekali sekali keluar kata “terus ...” “oh...ya” kata –kata tersebut yang kadang terlontar dominan dari mulut saya.

Setelah sekian lama si cantik bercerita...si cantik mengahirinya dengan kata-kata “ aku sekarang legaaaa bunda...” bolehkan lain kali aku datang kembali ?

Aku tersenyum...dan memeluk gadis cantik di hadapanku itu,” any time sayang...bunda akan dengarkan perasaanmu, datang saja atau tlp juga boleh jangan ragu“, dan rona wajah si cantik terlihat bahagia dan terlihat matanya lebih berbinar menampilkan aura cantik remajanya. Diapun berpamitan dan mengucapkan terima kasihnya...

Heeemmm...apakah sampai disini ceritanya ? ternyata tidak...

3 sampai 4 kali, tingkat emosionalnya naik dan si cantik merasa harus kembali melakukan cutting dan cutting lagi...

Saya...bukan orang yang senang untuk tidak peduli pada orang lain, terlebih ini adalah klien yang merupakan aset masa depan bangsa, masih sangat muda, masih panjang perjalanan hidupnya untuk berjaya dengan segala macam cita-citanya, saya terus mencari tahu

keberadaannya, mencari tahu kondisinya dan tentu terus menghubunginya dengan sikap seperti orang tuanya, dengan menanyakan kabar, kesehatannya, aktifitasnya, ataupun kegalauannya. Akhirnya beberapa kali si cantikpun hadir di hadapanku dengan permasalahannya yang setiap bertemu semakin tipis dan hampir terkikis, akhirnya Alhamdulillah saat ini si cantik sudah memasuki dunia perkuliahan dengan cita-citanya yang sering dia ceritakan untuk bisa menjadi dokter, dan si cantik kini kuliah kedokteran.

Aiiii...luar biasa perjalananmu ananda cantik, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya...yakin itu !!!

Demikian sahabat steemit semua, semoga ceritaku dapat memberikan khazanah ilmu yang berkaitan dengan psikologi remaja.

Terima kasih ... telah meluangkan waktu untuk membaca dan menyimaknya, salam ...


by: betterlife@betterlife