Saksikanlah, Kami Telah Siap Sedia

Words
322
Reading
2 min
8y
Listen to this post
~2 min

Tak sampai 36 jam lagi Ramadhan akan meninggalkan kita. Maka awal datangnya Syawal menjadi suasana yang disambut dengan penuh suka cita.

Tentu bertakbir bersama adalah prioritas dalam merayakan malam menuju hari kemenangan tersebut namun tak lengkap rasanya bisa tak disambut dengan hal biasa saja.

IMG_20180613_090151.jpg

Ketika saya kecil perang budee trieng (meriam bambu) adalah perhelatan yang paling dinanti. Para punggawanyapun berlomba mencari jenis bambu dan ukuran spesial serta tingkat tua tertentu hingga menghasilkan suara yang menggelegar.

Berbilang tahun, mungkin karena dirasa suaranya agak kecil, entah siapa yang memulai, sumber suara beralih pada karbit. Hanya saja metodenya waktu itu karbit dibakar dalam wadah yang ditanam dalam tanah.

IMG_20180613_090247.jpg

Hingga medio tahun 2000an muncullah drum minyak yang disambung sebagai wadah dibakarnya karbit. Ini ekperimen yang monumental menurut saya bagaimana tidak, ritual ini menjadi hal yang lazim setiap malam lebaran hingga saat ini. Ditempat saya menjadi aneh ketika tak terdengar suara karbit pada malam lebaran.

IMG_20180613_090434_HDR.jpg

Ketika musim meriam bambu dahulu sepanjang Krueng Baroe kawasan Kecamatan Indra jaya dan Kecamatan Delima atau lebih dikenal dengan nama Garot adalah arena berbalas meriam bambu. Masyarakat bergotong royong menyiapkan balai-balai tempat meriam bambu ditata. Peta pelakunya adalah anak-anak usia SD hingga SMP.

IMG_20180613_090553_HDR.jpg

Untuk biayanya biasanya masyarakat saling urun menyumbang demi menyelenggarakan acara tersebut. Hingga sekarang jaman karbitpun sistem tersebut masih berjalan. Malah saya dengar pada masyarakat yang pulang mudik lebaran memang menyiapkan alokasi dana khusus untuk acara tersebut.

IMG_20180613_090526_HDR.jpgTambak beberapa serdadu berdiri diatas drum yang sudah ditanam tanah.

Kegiatan ini sendiri sebenarnya mengundang kontroversi yang tidak sedikit. Saya pernah mendengar pemilik rumah di sekitar lokasi harus mengungsi meninggalkan rumah kerena suaranya yang bukan kepalang. Belum lagi kisah masyarakat yang mengaku beberapa lembar kaca jendelanya retak hingga pecah kerena getaran yang sangat kuat. Bayangkan bila di rumah tersebut ada anggota keluarga yang sakit.

Andai saja ada yang mampu mengelola ini bisa menjadi moment pariwisata tahunan. Namun juga harus juga memperhatikan kenyamanan masyarakat sekitar serta tidak meninggalkan takbir sebagai kegiatan pokok malam lebaran.

Saksikanlah, Kami Telah Siap Sedia | Ecency