Saya Diteror

Words
740
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Saya terpaksa menulis ini karena sudah tidak tahu lagi ke mana harus bercerita. Ntah apa salah saya, sejak beberapa bulan terakhir kerap mendapat teror hingga tengah malam. Padahal saya bukan anggota KPK yang harus merasa terancam oleh koruptor yang takut dipenjarakan karena kasus korupsi yang menjeratnya. Saya juga tidak tergabung dalam kelompok militan ISIS sehingga harus diteror dan diwaspadai gerak-geriknya. Saya juga bukan orang kaya yang mempunyai mobil mewah atau pun sekarung berlian yang membuat saya layak menjadi sasaran. Padahal yang meneror saya saat itu posisinya jauh lebih kaya dibandingkan saya yang masih jauh dari kata sejahtera.

Ada dua peneror saat itu. Teror pertama itu dimulai sejak awal Agustus 2017. Ketika sedang disibukkan dengan menyusun tugas akhir kampus, sekonyong-konyong muncullah teror melalui pesan singkat WA. Saya “dipaksa” untuk menuruti perintahnya yang bahkan saat itu saya belum paham pada apa yang dimaksudnya. Karena tak mempan, peneror itu pun mengubah strategi dengan memberi saya iming-iming kesejahteraan. Saya bergeming. Sang peneror mulai icah (kesal dan mungkin tak habis pikir melihat pendirian saya). Ia pun mengambil jeda untuk berhenti meneror.

Namun ketenangan saya ternyata tak bertahan lama. Setelah kira-kira sebulan setelah aksi teror itu terjadi, muncul peneror kedua, yang saya rasa memang anak buah kiriman peneror pertama. Ia melancarkan aksi yang sama. Saya dipaksa melakukan apa yang mereka minta. Teror itu saya alami berbulan-bulan lamanya tanpa menceritakannya kepada orang lain. Saya menganggap diri saya sudah dewasa hanya untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Namun sepertinya dua orang peneror ini memang tak kunjung menyerah. Berbagai usaha dilakukan untuk membujuk sekaligus memaksa saya untuk melakukan perintah mereka. Dipaksa, diiming ini-itu, bahkan diselipkan aksi pamer harta. Karena tidak tahan lagi, saya terpaksa mengikuti perintah mereka. Setelah hampir lima bulan diteror, akhirnya saya meluluskan permintaan mereka. Dengan ares-aresan, saya pun kemudian memilih berdamai.

Namun walau sudah berdamai, saya tetap harus mengungkapkan kasus ini tentang siapa sebenarnya peneror tersebut. Peneror pertama berciri-ciri kulit putih dengan tinggi badan sedikit pendek untuk ukuran laki-laki. Ia juga berkacamata yang membuat saya berpikir ketika pertama kali bertemu, laki-laki ini berprofesi sebagai seorang dokter. Ternyata... (Ahh... Sudahlah!). Laki-laki ini beberapa kali meneror saya, tak peduli walau saya sedang dikejar deadline sedang menyusun tugas akhir. Yang semakin mengherankan, ntah apa cita-citanya lelaki kaya ini meneror saya warga miskin yang terkadang masih menagih janji 1 juta/KK dari Pemerintah.

Lanjut ke peneror kedua. Dan ia juga laki-laki. Peneror kedua ini sebelas dua belas dengan peneror pertama. Malah saya anggap ia adalah titisannya. Sama seperti peneror pertama, ia juga melancarkan aksi terornya melalui WA. Saya beberapa kali mendapat pesan mulai bernada halus hingga perintah. Dan laki-laki ini meneror saya hingga rentang waktu tiga bulan. Aneuk muda mulai leumoh.

Bisa Anda bayangkan sendiri saudara-saudara. Saya diteror oleh dua laki-laki bahkan terjadi dalam antarprovinsi. Peneror pertama lebih kejam. Ia bahkan ngatain saya kampungan hanya karena masih makan bakso. Padahal saat itu saya yang berdomisili di Kota Medan sedangkan laki-laki berkacamata itu tinggal di kampung. Menyedihkan.

Namun seiring berjalan waktu, saya mulai membuka mata terhadap aksi teror mereka. Dua laki-laki ini sebenarnya bermaksud baik. Jika bukan karena peduli, buat apa mereka berepot-repot sampai tengah malam hanya untuk berbagi kebaikan pada saya. Berkat teror dua laki-laki ini, akhirnya saya bergabung di Steemit. Ya, saya “diteror” untuk segera membuat akun Steemit dan segera posting tulisan pertama setelah hampir lima bulan mati suri.

Dua laki-laki itu adalah guru saya. Peneror pertama adalah Pak zainalbakri@zainalbakri, guru yang mungkin kehabisan cara untuk membujuk saya untuk posting tulisan di steemit hingga kerap “pamer” isi wallet di akunnya untuk membuat iri saya. Kata beliau: hari gini penulis gak aktif di Steemit? Capek dehh!!! Peneror kedua adalah samymubarraq@samymubarraq adik kelas sekaligus guru saya di dunia persteemitan. Dia mungkin juga asek ulee (geleng kepala) melihat kakak kelasnya satu ini yang tak kunjung posting tulisan di steemit, padahal dulunya saya yang berbusa-busa menyuruhnya agar selalu menulis.

_20180121_003001.jpg
Sumber: Instagram Pak Zainal Bakri

Namun begitulah, penyesalan selalu datang terlambat. Saya malu dengan dua guru saya ini. Terima kasih kepada dua guru Pak zainalbakri@zainalbakri dan samymubarraq@samymubarraq yang sudah “meneror” saya dengan baik, hingga kemudian posting tulisan pertama sejak 10 hari terakhir. Dua orang luar biasa yang membantu saya berdiri tegak untuk menyambut gemerlapnya literasi dan perkembangan teknologi. Karena boleh jadi, tanpa “teror” dua laki-laki ini, sampai hari ini saya belum posting tulisan apapun di Steemit. Terlepas dari itu semua, saya tidak membalas apa-apa selain hanya memberi hadiah 3 M: makasih, makasih, makasih. Hehehe....

Samy 20180121_002208.jpg
Sumber: Foto profil Samy Mubarraq

Saleum hormat keu guree. Semoga panyang umu mudah raseuki.

Saya Diteror | Ecency