Public Speaking, Bukan Asal "Ngomong"

Words
364
Reading
2 min
Listen
Play
9y

IMG-20180117-WA0072.jpg

Sebuah hasil survei di sebuah majalah menyebutkan bahwa ketakutan manusia berbicara di depan publik adalah berada di urutan kedua setelah kematian. Walau tidak semenakutkan yang dibayangkan, nyatanya banyak orang tidak mempunyai kemampuan berbicara di depan umum. Ketakutan langsung menyergap. Gemetar dan keringat dingin adalah sebagian dari gejala yang ditimbulkan. Sebagiannya lagi memilih “melarikan diri” ketika tanggung jawab itu dibebankan. Bahkan yang lebih parah lagi, ada yang menyebutkan: “Saya lebih baik ditembak mati daripada harus berdiri dan berbicara di depan umum.”

Kalimat terakhir di paragraf atas boleh jadi bercanda semata. Tapi pernyataan tersebut sedikit banyak menggambarkan bahwa berbicara di depan publik seolah memang tidak mudah. Public Speaking, Bukan Asal “Ngomong,” tema yang diangkat pada pertemuan ke-26 Forum Aceh Menulis (FAMe) itu menunjukkan bahwa berbicara di depan publik membutuhkan keahlian dan juga persiapan. Seseorang tidak bisa tampil berbicara di depan umum dengan serta-merta, apalagi hanya dengan abra kadabra. Semua butuh latihan. Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa “naik tanpa persiapan, turun tanpa penghormatan.”

IMG_20180117_165913.jpg

Kemampuan berbicara di depan publik seolah terkesan sepele. Ilmu berbicara ini mungkin memang tidak seribet APBA yang tak kunjung disahkan. Memang tidak mudah, tapi tidak juga semenakutkan yang dibayangkan. Teknik public speaking adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan latihan tanpa henti. Kemampuan ini harus dimiliki oleh setiap orang. Apalagi dalam kehidupan sosial dan komunitas yang mengharuskannya untuk tampil di depan publik.

Pertimbangan itu pula yang kemudian menggerakkan FAMe untuk mengadakan pelatihan public speaking sebagai salah satu bahan ajar di forum menulis tersebut. Pelatihan yang diadakan pada Rabu, 17 Januari 2018 di Museum Tsunami di Kota Banda Aceh itu menghadirkan Mr. Saifuddin Bantasyam sebagai pemateri tunggal untuk mengisi acara tersebut. Peserta yang hadir pun beragam. Mulai dari mahasiswa, hingga juru bicara pemerintah. Beragamnya peserta dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesi tersebut menunjukkan bahwa keahlian public speaking itu menjadi kebutuhan berbagai kalangan.

IMG_20180117_165028.jpg

Pertemuan yang hanya berlangsung selama dua jam tersebut membuat banyak peserta mengetahui kesalahan kecil bahkan kesalahan fatal yang telah dilakukannya selama ini. Ilmu public speaking bukanlah teori penuh bunga yang disimpan dalam lemari tua. Namun ia adalah ilmu yang harus dilatih berulang-ulang hingga melahirkan keahlian. Tidak ada yang instan. Semua butuh latihan. Bersegeralah! Sebelum Anda hilang kehormatan hanya karena tidak ada persiapan.

#SalamLiterasi

Public Speaking, Bukan Asal "Ngomong" | Ecency