Dalam dunia penulisan, hal ini tentu tidak dibolehkan. Sama seperti lirik lagu: kau yang memulai, kau pula yang mengakhiri. Memulai tanpa mengakhiri berarti tidak bertanggung jawab. Sedangkan mengakhiri tanpa memulai maka itu hal yang membingungkan. Tulisan harus menjadi tanggung jawab masing-masing penulis. Tidak ada istilah mengirim artikel ke media massa lalu memberi tanggung jawab kepada redaktur untuk menambahkan kalimat penutup peserta doa.
Permasalahan lain yang dihadapi penulis pemula adalah tidak percaya diri. Banyak dari penulis pemula yang merasa tulisannya tidak pantas dikirim ke media dan juga takut dikritik kesalahan tulisannya. Akhirnya, setelah berlelah-lelah mencari data, belajar menganalisis, hingga menyelesaikan artikel, tulisan tersebut pun harus mengalami nasib naas dengan hanya menjadi pelengkap penderita di folder laptop penulisnya. “Ketakutan” yang berlebihan tersebut hanya akan membelenggu penulisnya dan tulisan tersebut seolah teronggok tak berguna. Padahal selama apa pun tulisan itu disimpan, dapat dipastikan, ia tetap tidak akan berkembang biak. Dan parahnya, ada yang mengaku sulit dan mengeluh karena merasa tulisannya tidak dimuat di media massa. Setelah ditelusuri, ternyata tulisan tersebut memang tidak pernah dikirimkannya.
Bagi yang sudah berhasil mengalahkan rasa tidak percaya diri, persoalan lain yang sering dihadapi penulis pemula adalah mudah kecewa, patah arang, sekaligus patah hati ketika tulisannya itu ditolak oleh media. Tidak hanya itu, mereka kemudian menghakimi diri bahwa dirinya memang tidak berbakat menjadi penulis. Cita-cita menjadi penulis pun langsung digantinya seketika. Memanggul senjata mungkin dianggapnya lebih mudah daripada memanggul pena. Ia pun memutuskan untuk berhenti menulis.
Ditolak oleh media memang menyakitkan. Namun ada juga persoalan lain yang terjadi ketika tulisan sudah dimuat di media adalah banyak penulis pemula yang cepat puas ketika tulisan sudah selesai, apalagi sudah berhasil dimuat di media massa. Di sinilah titik masalah dimulai. Begitu tulisan pertama dimuat di media, banyak yang menyambutnya secara bangga dan gembira hingga lupa menulis tulisan kedua. Rasanya ingin kenduri tujuh hari tujuh malam untuk merayakan keberhasilannya. Berbangga hati karena berhasil menerbitkan tulisan memang tidak salah. Tapi yang jadi masalah adalah lupa menulis tulisan kedua, sehingga itu menjadi tulisan pertama sekaligus terakhirnya.
Walau tidak semuanya, yang tersebut di atas adalah beberapa masalah yang dihadapi oleh kebanyakan penulis pemula. Kebingungan, tidak percaya diri, dan mudah patah arang karena mengalami penolakan, maka itu kemudian dijadikan alasan untuk berhenti menulis, bahkan sebelum memulai. Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa sehebat apa pun penulis yang kita kenal dan kagumi hari ini, mereka pernah menjadi penulis pemula. Mereka pernah mengalami masa-masa tidak tahu bagaimana memulai dan susah mengakhiri tulisan, sulitnya mencari ide, bahkan berpuluh-puluh kali menerima penolakan yang menyakitkan dari media.
Akhirnya, semua keputusan terletak di tangan kita. Mau tetap menulis, atau pensiun sebelum waktunya. Karena sesungguhnya, tidak ada yang tidak bisa menjadi penulis, kecuali yang tidak mau.