RAMADHAN kali ini saya dapat berkumpul lebih intens dengan keluarga. Sebelumnya saya banyak beraktivitas dengan tugas-tugas editing di media tempat saya bekerja sampe larut malam.
Tarawih di mushala kantor, itu rutinitas bertahun-tahun. Alhamdulillah, kali ini dapat tarawih bersama di masjid bersama anak-anak.
Waktu tidak begitu tersita kali ini, kecuali jika ada jadwal kuliah di kampus.
Pada pekan kedua, beberapa kawan memberi jadwal isi ceramah Ramadhan di Masjid. Tawaran pertama Saya tolak, karena tidak bidang pada posisi penceramah agama. Tentu beda dengan seminar-seminar akademik atau tugas kewartawanan selama ini.
Jujur, agak berbeda saat berdiri di atas mimbar di depan jamaah masjid dengan isi kajian ilmiah terkait kerja-kerja media. Lidah agak kelu jika membahas berbagi petuah agama kepada jamaah.
Aku Bukan Ustadz, sering beralasan begitu jika ada permintaan dari masjid. Tapi, Malam kedua Ramadhan Teungku imum di mushala sepertinya 'menjebak' saya. Langsung todong untuk pengganti imam shalat dan ceramah Ramadhan.
Apa boleh buat, menolak dalam tatapan puluhan jamaah shalat Isya tentu sesuatu yang tidak bisa dimengerti jamaah. Peci, baju koko, dan janggut sering disalahartikan sebagai tanda kealiman seseorang.
Sukses malam itu, 20 menit ceramah berlalu tanpa hambatan. Pasti tak sekondang ustadz beneran, cukup mengisi kekosongan dan sepatah dua patah nasihat tersampaikan.
Pekan kedua, ustadz Dr Abizal M Yati, Lc dai muda yang kondang di Banda Aceh menghubungi saya untuk bersama-sama berangkat Safari Ramadhan di Aceh Jaya. Ia meyakinkan saya bisa bergabung agar dapat meliput kegiatan sekaligus menjadi penceramah.
Perlu beberapa menit saya jawab permintaan itu. Tapi ustadz Abizal cukup lihai meyakinkan saya, "belajar lah mumpung ada kesempatan sambil mengasah kemampuan, kan dasarnya sudah ada tinggal dibiasakan saja," katanya.
Bismillah saya pastikan ikut dengan rombongan safari Ramadhan ke Aceh Jaya. Beberapa materi saya persiapkan seputar Ramadhan dan Lailatul Qadar.
Puasa kali ini, setiap jadwal sahur salah satu stasiun televisi swasta menayangkan sinetrom Ramadhan berjudul "Aku Bukan Ustadz".
Sinetron ini mengisahkan lakon ustadz selebriti yang tampil menjadi dai kondang dalam kepura-puraan. Namanya Ustadz Raihan yang berceramah dengan bantuan suara stafnya di belakang layar melalui headset canggih.
Meski awalnya tidak serius menonton sinetron ini, akhirnya Saya agak tertarik dengan penokohan dan jalan cerita bagaimana ustadz gadungan menjadi tenar dan terkenal dengan kepura-puraanya selama ini.
Kembali ke kegiatan Saya Di Calang, Aceh Jaya. Terpikir juga, sinetron "Aku Bukan Ustadz" karena saat telepon ke Banda Aceh mengabarkan keadaan di Aceh Jaya, Istri saya nyeletuk, "Bagaimana, bisa ceramahnya. Jangan-jangan macam film Aku Bukan Ustadz," katanya agak sedikit bercanda.
Saya yakinkan Istri bahwa safari berjalan lancar tidak ada hambatan, kecuali satu masjid yang saya agak pelan-pelan dan hati-hati berbicara dengan Bahasa Aceh. Kebetulan satu masjid agak ke pelosok Teunom dan masyarakat lebih suka bertutur dengan bahasa Aceh.
Ini tantangan bagi saya tentunya, karena tidak berbahasa ibu bahasa aceh. Meski demikian saya tidak terlalu ragu dengan kemampuan berbahasa aceh, istri saya memang agak khawatir dengan bahasa aceh saya yang belum sempurna, sesempurna penutur lokal.
Dalam ilmu dakwah juga dibahas terkait keutamaan berdakwah dengan bahasa kaum aslinya. Selain cukup efektif, berdakwah bilisani kaumihi dengan bahasa kaumnya lebih tepat.
Alhamdulillah, meski masuk kategori dai pemula dengan bahasa campur Aceh dan Indonesia, saya belajar banyak dari lapangan dakwah yang masih terbuka.
Tema-tema yang saya sampaikan seputar akhlak sebagai muslim dan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan.
Saya menghindari kajian khilafiyah yang tiada manfaat bagi jamaah, selain juga ilmu saya belum sampai.
Keutamaan ukhuwah islamiyah sejatinya menjadi pedoman bagi kita agar kehidupan masyarakat tetap berjalan pada tuntunan syariah.
Oh ya, selesai ceramah jamaah masjid biasa mengajak saya ngopi di kedai kopi. Ada yang baru bagi kebiasaan ngopi Saya, kali ini kopi Ie jok yang dipesan jamaah masjid.
Cukup nikmat menyebut kopi ie jok mameh perasaan aren, nikmat!