Aku seakan terbelenggu
Terpaku dalam ketidaksadaranku
Lidahku pun kian keluh
Hanya mampu meratap dalam bisu
Gelap hingga tanpa cahaya
Sepi tak terdengar bingar tawa
Tertawan dalam diksi senja
Yang menggores akhir sebuah cerita
Lolongan jiwa kian mendobrak dada
Bergemuruh dalam samar adzan yang menggema
Seakan sejuta tangan menahan langkah
Hanya terbiaskan dalam titik air mata
Aku lelah ......
Aku lelah untuk meraba dalam gulita
Aku letih ......
Letih menikmati surga ilusi
Kerongkonganku kian kering
Tak lagi kugemakan lagu dengan nyaring
Aku benar ingin kembali
Jauh meninggalkan jejak kaki
Aku rindu surya yang hangat membelai
Aku rindu camar pagi yang riang bernyanyi
Aku rindu wangi melati
Sungguh aku rindu akan dunia yang kutinggal pergi
Entah akankah waktu akan membawahku pergi
Ataukah ia membiarkanku mati disini
Namun jiwaku menjadi saksi
Harapanku tuk kembali meraih tangan ILLAHI
TUHAN jika setiap detik mampu kuputar
Biar kegemakan dalam halilintar
Betapa getir harapan dalam keputusasaan
Membunuh bijak dalam kehidupan
Betapa ngilu tembang sesal ternyanyikan khalbu
Perih bagai terajam seribu sembilu
Betapa dalam luka yang digali tawa
Hingga akhirnya raga terkubur air mata...