Terima kasih, Tuhan. Peruntunganku bagus hari ini. Sedikit terbayar lelahku. Ada si gadis duduk tepat di belakang kursi kemudiku. Si gadis putih bening. Berparas begitu manis. Manis seperti rasa madu. Madu dicampur sekilo gula pasir. Engkau biarkan gadis manis itu seharian bersamaku. Seharian melintas jalur sumatra melewati waktu.
Sekali-sekali. Kutatapi kedua bola matanya. Bola mata bulat berbentuk kacang almond. Bola mata indah yang dipayungi alis tebal. Kutatap jelas-jelas setiap lirik matanya. Setiap lirikannya begitu sendu penuh makna. Serta tajam penuh pesan. Dengan hati-hati kedua bola mata indah gadis manis itu, kutatap lewat kaca tengah mobil-ku.
“Oh nikmatnya mengais rezeki di temani sigadis manis.”
*sopir BUSuk