"Karap abeh tutop blang," kata Polem menunjuk hamparan sawah di ujung gampong Kumbang, Trueng Campli.
Polem kini berusia lebih 58 tahun. Selain berprofesi petani, dia juga memiliki dua hektar tambak. Karena faktor usia, dia tak aktif lagi mengelola tambak. Anaknya kini yang mengambil alih tambak itu. Lagi pula, sejak dua puluh tahun terakhir, hasil tambak tidak begitu menjanjikan.
Sebulan yang lalu, warga gampong ini baru saja memanen hasil sawahnya. "Jadi nyoe pade salah musem?" Aku pura-pura tidak tahu. Polem cuma mengangguk.
Seperti kebanyakan gampong di Kabupaten Pidie, masyarakat di sini juga menanam padi dua kali dalam setahun: padi reguler dan tanam padi musim gadu alias pade salah musem. Masa panen dua jenis padi ini tidak beda, yaitu sekitar 3 bulan 10 hari.
Musem luah blang diperkirakan akan berlangsung tak lama seusai lebaran. Pada saat musem luah blang, masyarakat akan menanam cabai dan jagung. Istilah musem luah blang ini merujuk pada kondisi masa cuti tanam yang cukup lama, bisa berbulan-bulan lamanya sebelum masa tanam normal dimulai.
Dalam sepuluh tahun terakhir, masa musem luah blang dimanfaatkan masyarakat untuk menanam semangka. Menurut mereka hasilnya lebih menjanjikan, dan masa panennya pun tidak lama.
Cukup mudah menandai musem luah blang di Gampong kami. Yaitu, penampakan tanaman semangka di sebagian besar lahan warga, ternak dilepas dengan bebas, serta permainan layang-layang.
Lima hari lalu, aku pulang ke kampung. Lahan masih banyak kosong, belum ditanami padi. Dua di hari di kampung, satu persatu lahan itu mulai ditanami, dan ketika aku balik ke Banda Aceh, seluruh areal lahan sudah berisi. Masyarakat menyebutnya tutop blang!
Pade salah musem dapat menambah sumber pendapatan petani. Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?