Boat Mini di Ujong Pi

Words
412
Reading
2 min
Listen
Play
9y

image
Kami tiba di Ujong Pi ketika mentari lindap ke barat, dan makin dalam. Ada geliat kehidupan yang terlihat begitu kami memasuki sebuah jalan sempit di samping sebuah sekolah menengah pertama. Sekelompok anak-anak sedang bermain layang-layang di sebuah tanah kosong di bibir pantai.

Kampung yang berhadapan langsung dengan selat malaka itu tampak seperti gadis pemalu, yang kerap mengintip dari balik jendela. Ujong Pi menyimpan banyak pesona, khas sebuah kampung nelayan. Boat bermesin 25-35 PK berjejer di tepi pantai. Di dermaga kerangka baja yang menjorok ke laut, sejumlah muda-mudi bercengkrama dan berselfie ria. Sebuah sore yang ceria.

image

Posisi Ujong Pi memang sedikit tersembunyi dibanding tetangganya, Gampong Ie Masen dan Sagoe. Dari arah Simpang Beutong, kita akan berjumpa dengan perempatan Keude Lawueng. Di perempatan itu, kita ambil jalan ke arah kiri. Singkatnya, gampong nelayan yang terkenal dengan Mie Sure-nya ini bisa ditemukan setelah menempuh 35 menit berkendara dari Kota Sigli.

Ini adalah kali kedua aku datang ke Ujong Pi setelah kedatangan pertama yang malang. Saat itu aku pergi bersama Andy Firdhaus, pemilik akun andifirdhaus@andifirdhaus, yang merecoki kepalaku dengan cerita Mie Sure Ujong Pi yang menggugah selera. Namun, kami harus pulang dengan perasaan kecewa. Warung tutup karena kenduri maulid.

image

Hari ini, aku datang lagi bersama Murtalamuddin, Kadis Pendidikan Pidie dan Muhammad MTA, penasehat khusus gubernur Aceh bidang politik dan keamanan. Aku sempat galau setelah sebuah boat yang berlabuh minim ikan tangkapan, sebuah isyarat bahwa aku bakal gagal menikmati mie sure (mie dengan ikan tongkol).

Tak jauh dari lokasi itu, aku melihat dua boat mini di sebuah genangan yang lebih mirip kolam. Boat mainan itu berlayar ke sana ke mari. Sejenak memoriku memutar ke masa lalu di saat aku masih bermain boat mainan yang digerakkan dengan baterai. Namun, boat yang kulihat itu dibuat persis menyerupai bentuk aslinya.

image

Seusai menikmati boat mainan itu, aku beranjak ke lokasi tempat anak-anak muda sedang bermain bola. Mereka menyulap pantai itu sebagai lapangan bola. Satu boat lain berlabuh, dan sekali lagi kami berharap ada ikan tongkol yang dibawa pulang. Beruntung, kami bisa membeli tujuh ekor ikan tongkol kecil (jereubok) seharga Rp60.000, sedikit lebih mahal dari harga di PPS Lampulo, Banda Aceh.

Kami memilih jalan memutar, menuju warung mie sure. Di genangan yang menyerupai kolam itu, seorang anak kecil mengambil boat mainan yang ketika itu hanya tinggal satu unit lagi. Dia mendekap boat itu layaknya seorang ibu yang menyusui anaknya. Itu terakhir kali aku berada di sana, dan hari sudah mulai gelap. Magrib pun menyapa Ujong Pi, gampong nelayan di bibir selat Malaka.[]

image

image

Boat Mini di Ujong Pi | Ecency