Tiga menit saja menutup hidung dari akses udara, manusia sudah berada dititik nadir antara hidup dan mati.
Dalam konteks 'kelemahan' ini, mengapa manusia kemudian merasa dirinya sebagai mahkluk paling kuasa atas makhluk lainnya ?
Tiga menit saja menutup hidung dari akses udara, manusia sudah berada dititik nadir antara hidup dan mati.
Dalam konteks 'kelemahan' ini, mengapa manusia kemudian merasa dirinya sebagai mahkluk paling kuasa atas makhluk lainnya ?