Desa telah Dipenuhi Musang tak Berkumis

image


Musang, memiliki kehidupan pada malam hari, kebiasaan memakan ayam, sehingga kita mengecap dia pencuri. Dia juga terkenal pandai memanjat pepohonan. Tahukah kita bahwa berpura-pura mati adalah salah satu cara musang untuk melindungi dirinya. Suara musang juga bisa menakuti para kaum penakut akan hantu *blau*. Begitulah sekilas tentang musang. Sehingga saya tertarik memberi judul Desa ini adalah milik Musang tak Berkumis. Padahal jelas dia memiliki kumis, meski pun tak sama seperti kumis manusia.

Baiklah, jangan terlalu serius. Santai & rileks saja, sambil menyuruput kopi ek musang (luwak). Wokeh, brother!


Musang betina, musang kecil, musang sedang, sama saja. Sama-sama musang pencuri biji kopi dari petani kopi. Musang yang ini juga lebih memilih memangsa anak ayam yang menjadi rezeki bagi sang pemilik, ketika malam buta, matanya tak ikut buta. Justru matahari kebenaranlah yang membuatnya buta.
Buta mata, buta hati.

Pak Sudi ketika pagi selalu menghitung jumlah ayamnya, pagi itu berbeda. Anak ayam berukuran sedang, yang suka tidur di atas pohon, hilang. Lalu dengan suara lantang, dipanggil istrinya, kadang telah tergoreng dalam wajannya, pikir Pak Sudi, ternyata tidak.
Periksa punya periksa, tetangga dan anaknya juga tak ada yang melihat ayam itu. Kata Pak Sudi, ayam itu adalah jenis ayam mahal, siyam Thailand, orang-orang menyebutnya.

image


Malam tiba. Malam ini Pak Sudi tak ingin ikut buta dalam kegelepan malam, dia berjaga-jaga di atas *rangkang* yang dekat dengan kandang dan juga pohon tempat ayam tidur. Hampir-hampir dia tertidur ketika jam telah melewati pukul 02.00, namun dia dikejutkan dengan suara riuh ayam-ayam, diambilnya senter, lalu tepat tersenter pada mata yang memerah, berbulu coklat, dugaan Pak Sudi akan maling ayam berwujud manusia ternyata salah, dikejarnya sambil disenter nampak wajah musang ketika berpaling sebelum lari, dan di kejauhan sambil berlari sang musang membunyikan bunyi seperti hantu menangis "iiiiiiiiiiiiiiiiiiii".

Keesokan paginya, Pak Sudi ke warung kopi dan menceritakan kisahnya semalam.
"Hei, kalian tau apa, kamu Ahmad yang banyak ayam, dengarkan, Desa kita telah dipenuhi oleh musang tak berkumis___" semua tercengang mendengar ceritanya, mereka menduga itu kata sindiran karena Dana Desa telah banyak terkucur ke kampung-kampung, atau semacam poh sampeng gaya halus Pak Sudi. "Mereka mengelolanya dengan benar," terdengar Ali menyautnya, yang sedari tadi asik baca koran.
"Kamu, Ali. Dengarkan dulu, ini bukan sindiran, hai Mak Ali. Berceritalah kronologis kejadiannya.
Baru semua paham, bahwa kita tidak boleh lengah. Bisa-bisa dana yang begitu besar lenyap tak tinggal bekas. Hanya segelintir perut saja yang terlihat kembung, dan kita pemilik sah sang ayam meski ayam itu tidur di atas pohon rambutan milik tetangga, yang jelas itu ayam kita. Mulai tak nyambung si Makuse itu. "Sudahlah, kalian kubilang A, kau bilang A terbalik., Min, kopi pancung (setengah gelas) satu, mestinya bilangnya setengah juga karena kopi setengah gelas janga satu." Maklum Pak Sudi tak naik pikir dengan mereka.
Nanti datang Pak Keuchiek (Sebutan Kepala Desa di Aceh) bisa-bisa tak dapat daging qurban, lebaran haji di depan mata. Baru tabu rasa kalian.
Lalu Pak sudi, mengambil koran dan terlena dengan Opini Tuanku Nan Kacau di Aceh Trend itu.

image


Selamat beraktifitas, abaikan kekacauan mereka. Mereka memang suka begitu. Kopi tadi yang saya suruh seruput, jangan lupa dihabiskan lalu ngutang. **Peace: @jubagarang**

All images are illustrations.
Image Source: Image 1 | Image 2 | Image 3

H2
H3
H4
3 columns
2 columns
1 column
Join the conversation now