In many organizations we often meet, a leader at the lower, middle, and upper levels creates an organizational system dependency. The aim is to preserve power so that the wheels of the organization cannot run optimally without the presence of the relevant officials.
Under these conditions, the leader will always be needed. Dependence was deliberately created to raise the bargaining position. Even if time travel makes him unable to stay in that position, he has a bargaining position to place his people or to get a certain position at the upper level.
This is not a commendable act, of course. We can find such a mode anywhere, in any institution, both private companies and government institutions. To streamline its interests, people like this have several followers to work together.
However, because this plot consists of people who only make profits, the ties between them are very fragile. When their opportunities are closed, when they are in a big problem, one by one the followers will break away.
To avoid disruption of the organization's wheels, people like this should not be given the opportunity from the start. If you have got a position for a long time, then someone like this can create a bigger problem that can harm the company.
If the organizational system has run strong, people like this cannot do much. Usually, cunning people like this can act arbitrarily in an organization that is still looking for forms, systems that are still fragile, weak supervision, and filled with people who prioritize their own interests rather than organizational goals.
*****
*INDONESIA*
Menciptakan Ketergantungan untuk Kekuasaan
Di banyak organisasi sering kita temui, seorang pimpinan di level bawah, menengah, sampai level atas menciptakan ketergantungan sistem organisasi. Tujuannya adalah melanggengkan kekuasaan agar roda organisasi tidak bisa berjalan maksimal tanpa kehadiran pejabat bersangkutan.
Dengan kondisi demikian, pimpinan tersebut akan selalu dibutuhkan. Ketergantungan itu sengaja diciptakan untuk menaikkan posisi tawar. Kalaupun perjalanan waktu membuat dia tidak bisa bertahan di posisi tersebut, dia memiliki posisi tawar untuk menempatkan orang-orangnya atau untuk mendapatkan posisi tertentu di level lebih atas.
Ini bukan tindakan terpuji, sudah tentu. Kita bisa menemukan modus seperti itu di mana saja, dalam lembaga apa saja, baik perusahaan swasta maupun lembaga pemerintahan. Untuk memuluskan kepentingannya, orang seperti ini memiliki beberapa pengikut untuk bekerja sama.
Namun, karena komplotan ini terdiri dari orang yang hanya mengeruk keuntungan, ikatan di antara mereka sangatlah rapuh. Ketika peluang mereka sudah tertutup, ketika mereka masuk dalam masalah besar, satu persatu pengikut akan melepaskan diri.
Untuk menghindari terganggunya roda organisasi, sebaiknya orang seperti ini tidak diberi kesempatan sejak awal. Kalau sudah mendapatkan jabatan dalam waktu yang lama, maka orang seperti ini bisa menciptakan masalah yang lebih besar yang bisa merugikan perusahaan.
Bila sistem organisasi sudah berjalan dengan kuat, orang seperti ini tidak bisa berbuat banyak. Biasanya, orang licik seperti ini bisa berbuat seenaknya dalam sebuah organisasi yang masih mencari bentuk, sistem yang masih rapuh, pengawasan lemah, dan dipenuhi orang-orang yang mengutamakan kepentingan sendiri dibandingkan tujuan organisasi.
*****