REFERENDUM ACEH

Words
971
Reading
5 min
Listen
Play
8y

Orang Aceh sudah menorehkan tinta sejarah yang sangat mengagumkan saat menggerakkan 2 juta masyarakat Aceh untuk memperjuangkan referendum dalam acara Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh, 8 November 1999 silam.

Dunia terkejut karena aksi kolosal tersebut. Aksi itu sebagai perlawanan masyarakat sipil (civil society) terbesar dalam sejarah perlawanan manusia (kalimat ini pasti terdengar bombastis). Aksi tersebut sekaligus menandai era baru kebangkitan nasionalisme Aceh yang sempat timbul-tenggelam itu. Kalian tahu, orang Aceh mampu melakukannya, dan sejak itu seluruh mata warga dunia tertuju ke Aceh.
image
Orang Aceh sudah menorehkan tinta sejarah yang sangat mengagumkan saat menggerakkan 2 juta masyarakat Aceh untuk memperjuangkan referendum dalam acara Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh, 8 November 1999 silam.

Dunia terkejut karena aksi kolosal tersebut. Aksi itu sebagai perlawanan masyarakat sipil (civil society) terbesar dalam sejarah perlawanan manusia (kalimat ini pasti terdengar bombastis). Aksi tersebut sekaligus menandai era baru kebangkitan nasionalisme Aceh yang sempat timbul-tenggelam itu. Kalian tahu, orang Aceh mampu melakukannya, dan sejak itu seluruh mata warga dunia tertuju ke Aceh.

56521.jpg
Image source

Nasionalisme yang menemukan momentumnya seiring terbukanya kran demokrasi Indonesia, dengan sangat cepat menjalari sanubari rakyat Aceh. Ia mampu membangkitkan energi perlawanan yang demikian kuat: kesediaan berkorban untuk cita-cita ini.

Melalui protes sipil itu, orang Aceh mengirimkan satu pesan khusus kepada pemerintah Indonesia: orang Aceh sudah muak dengan menjadi bagian bangsa yang tidak jelas ini! Melalui referendum, orang Aceh berharap ada penyelesaian akhir yang mengagumkan dari karut-marut dan konflik yang tak berkesudahan. Harapan itu sangat realistis dan rasional.

Kala itu, mayoritas rakyat Aceh meng-amin-kan referendum sebagai solusi final penyelesaian Aceh. Spanduk referendum dipasang di semua tempat di Aceh, di rumah-rumah, di pertokoan, mesjid, perkantoran dan di simpang jalan yang saban hari dilewati truk reo. Badan jalan di Aceh telah disulap menjadi grafiti referendum. Ada anggapan, tulisan referendum di Aceh menjadi tulisan terpanjang di dunia. Mengagumkan!

Dalam setiap pembicaraan di Aceh, kata-kata referendum diselipkan untuk memperteguh dan mengentalkan nasionalisme Aceh yang mulai tumbuh subur itu. Kata ini pula yang membuat ikatan persaudaraan Aceh menjadi semakin kuat. Baik itu bagi mereka yang berdomisili di Aceh maupun bagi mereka yang berada di luar Aceh, yang hanya menyimak pemberitaan tentang Aceh dari media massa. Terbentuk sebuah imagined community- dari teori Andersonan - di antara sesama orang Aceh dalam melihat Aceh sebagai sebuah bangsa.

1412234(1).jpg.jpg)
Image source

Bangsa Aceh yang berada di luar memiliki bayangan yang sama tentang masa depan Aceh, atau tentang referendum yang diperjuangkannya itu. Sebuah jalinan komunikasi terbangun dengan sendirinya untuk memperjuangkan referendum secara bersama-sama dengan mereka yang berada di Aceh. Apa yang sedang berlangsung di Aceh dikampanyekan ke seluruh dunia, sehingga gerakan itu menembus batas-batas teritorial Negara.

Gerakan referendum di Aceh kemudian menjadi pembicaraan hangat di kalangan politisi Indonesia. Kita masih sama-sama ingat ketika Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia menyampaikan sebuah pernyataan penting dalam lawatan luar negerinya, ke Phnon Penh, Kamboja. “Jika di Timor Timur boleh ada referendum, kenapa di Aceh tidak boleh.” Tak pelak pernyataan itu semakin memperkuat betapa referendum harus dilihat sebagai sesuatu yang sangat penting. Pernyataan Gus Dur ini boleh jadi sebagai penekanan atas pernyataan sebelumnya sehari setelah digelar Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum. Saa itu Gus Dur menyampaikan isyarat bahwa Referendum akan digelar 7 (tujuh) bulan ke depan.

Bukan hanya sampai di situ, dalam suatu pembicaraan dengan Radio Netherland, Gus Dur secara lebih diplomatis menyampaikan tentang fenomena referendum di Aceh. “Sebagai seorang nasionalis, saya sangat berharap mereka menjadi bagian dari NKRI. Namun sebagai seorang demokrat, saya tidak mungkin menghalangi keinginan mereka untuk menentukan nasib mereka sendiri.” Berbagai pernyataan Gus Dur membuat politik Indonesia semakin panas dengan isu soal Aceh. Sayangnya, Alwi Shihab, menteri luar negeri dalam kabinetnya membantah persetujuan Gus Dur itu. “Gus Dur tidak mengatakan menyetujui, tetapi dalam wacana demokrasi referendum dimungkinkan untuk dilaksanakan.”

Isu referendum mendominasi pemberitaan nasional. Setiap hari pernyataan tentang referendum Aceh dikutip media. Kita mungkin bertanya, mengapa referendum Aceh begitu penting? Jawabannya, karena Indonesia takut kehilangan Aceh. Berita referendum dimuat besar-besar di media agar semua politisi Indonesia memandang serius persoalan ini. Kita di Aceh tak perlu repot-repot mengirim siaran pers atau pers release karena pihak media sendiri yang mewawancarai para pejuang referendum. Saat itu kita tidak memerlukan adanya media sendiri untuk mengkampanyekan referendum. Namun, sejarah telah mencatat, bahwa kita telah menerbitkan sebuah media yang bernama “SUWA”, sebuah media yang akhirnya pingsan karena tak tahan kuatnya persaingan.

referendum.jpg
Image source

Kita semakin menyadari betapa penting referendum bagi kita. Menyimak berbagai pemberitaan ketika DOM baru dicabut di Aceh, banyak rakyat kita yang dibunuh secara kejam oleh tentara Indonesia, ribuan lainnya mengalami penyiksaan yang berat. Ribuan perempuan diperkosa, dan praktek-praktek penyiksaan yang sebelumnya tidak diketahui tetapi sudah dipraktekkan oleh tentara Indonesia di Aceh. Referendum tidak lain adalah sebagai obat mujarab untuk mewujudkan kerinduan mereka akan hadirnya kehidupan yang bermartabat dan merdeka.

Melalui referendum, kita bukan sedang menghidupkan kembali arwah orang yang mati dibunuh oleh tentara Indonesia! Kita ingin agar mereka-mereka yang sudah tenang di alam kubur itu tahu bahwa kita sedang berjuang, sekeras-kerasnya dengan keteguhan sikap seperti yang pernah mereka tunjukkan. Minimal, kita bisa memenuhi harapan mereka hidup dalam suasana damai dan mereka, sesuatu yang tak bisa mereka nikmati selama hidupnya. Dengan demikian, arwah mereka akan tenang di alam sana.

Setelah lama ditunggu, harapan itu tak kunjung datang juga, sekali pun kita pernah merasakan arti kemerdekaan itu. Namun, janji-janji yang terlanjur diucapkan oleh presiden Gus Dur sampai dilengserkan oleh MPR tahun 2001 belum dipenuhinya. Sementara harga untuk mewujudkan referendum semakin mahal. Dan perjuangan yang kita lalui semakin sulit. Banyak sudah korban jatuh di pihak kita. Terakhir yang cukup parah adalah ketika kita menyelenggarakan Sirarakan (Sidang Raya Rakyat Aceh untuk Kedamaian), setahun setelah SU MPR. Banyak rakyat yang ingin menghadiri acara itu dicegat di jalan-jalan di Aceh: mobil mereka ditembaki, perlengkapan mereka dimusnahkan, spanduk-spanduk dan bendera yang mereka bawa disita. Bukan hanya itu, ratusan orang juga menjadi korban. Itu adalah saat-saat paling pahit yang kita alami.
image

REFERENDUM ACEH | Ecency