Sudah puluhan kalender saya menghabiskan hidup, hanya suguhan Pucok Krueng yang membuat saya takjub tak sudah, sampai-sampai saya merasa sedang di wilayah surgawi. Padahal jelas-jelas hulu sungai itu berada di Lhoknga, Aceh Besar, Indonesia.
Kalau tidak salah perhitungan, saya sudah hattrick bertandang dan juga nyemplung ke Pucok Krueng. Airnya yang sangat dingin—entah berapa derajat celsius soalnya saya tidak membawa termometer—sungguh menusuk-nusuk daging sekaligus tulang dalam tubuh.
Baru koprol sekali dua, saya sudah nyerah naik ke permukaan. Bagaimana tidak, ketika berendam dalam air saya merasa sedang diperam kulkas kabin teratas, lama-lama saya bisa beku dan bisa jadi mati kedinginan. Selain keindahan, keteduhan bawah air, hutan lebat dan dinding gunung menjulang, Pucok Krueng seperti punya misteri tertentu. Entah apa itu, barangkali ada hantu blawu (salah satu nama makhluk halus khas Aceh).
Namun, Pucok Krueng tak semengerikan secara kasat mata. Sepanjang gelaran menjadi tempat mengelabui suntuk, belum ada kasus yang berakhir nyawa di sana. Jadi, kalau anda ingin ke Pucok Krueng dengan niat berenang, saya menyarankan datanglah saat siang sedang terik menga-nga. Agar suhu dingin tidak terlalu menyiksa. Dan, satu lagi, debit air juga tidak menentu. Jika air sedang tinggi keindahan akan tampak memukau. Seringkali, kala kemarau air akan menyusut, maka pemandangan tak lagi elok.
Penampakan pada foto-foto di atas adalah kedatangan saya pada jadwal keberuntungan, sebab saya bertandang setelah hujan turun dua hari sebelumnya. Celakanya, saya tiba saat matahari telah jatuh di barat, maka suhu dingin air yang berwarna seperti Hulk itu sedang di level maksimal.
Di bawah ini penampakan Pucok Krueng sewaktu saya berkunjung pada waktu yang tidak tepat. Sungguh menyiutkan semangat ritual pemandian. Bagaimanapun debit air Pucok Krueng, ianya tetap punya sihir menarik pengunjung menari-nari dalam pelukan air. Kecuali bagi yang tidak bisa berenang. Sial betul.