Selepas shalat Jumat, saya dan tiga kawan menuju Gampong Riseh Tunong, Sawang. Memakai dua sepeda motor, kami mulai mengaspal dari Matangglumpangdua. Setiba di persimpangan Krueng Mane, sebelum kami belok kanan ke arah selatan, kawan saya membeli sekantong kue pulut untuk dimakan bersama durian setiba disana.
Jarak Krueng Mane ke Riseh Tunong, lumayan jauh, kami melewati puluhan perkampungan. Beberapa tikungan membingungkan kami mau ke belok kemana. Beberapa orang yang kami temui mengarahkan kami terus jalan ke arah selatan. "Masih jauh bang, sekitar lima perkampungan lagi."
Benar pula. Saking jauhnya, pantat saya kebas bukan main. Jalan yang kami lalui rusak parah. Sisa-sisa aspal di pinggir badan jalan tak banyak membantu, banyak batu. Beberapa kendaraan yang mendahului tampak terburu-buru, menyisakan kepulan debu. Kawan saya menggurutu. Saya diam saja.
Setiba di Riseh Tunong, kami disambut oleh Sumadi Arsyah. Sekotak durian sudah siap dibungkusnya. Ia menyarankan pinggiran sungai untuk menyantap durian. Beberapa menit setelah beres-beres, kami tiba dibantaran sungai. Beberapa rintik hujan mulai jatuh. Kami lanjut saja, durian dibelah, bersamaan dengan pulut, masuk ke mulut. Nikmat betul.
Selesai mengeyangkan perut, kami menikmati alam Riseh Tunong. Riak sungai bikin teduh, cuaca yang semula mendung mulai tampak cerah. Matahari menyala. Saya bercengkrama dengan Sumadi, sementara kawan-kawan berjalan menyusuri pinggiran sungai. Air yang jernih membuat seorang teman saya berkali-kali mencaci muka.
Sebelum pulang ke Matangglumpangdua, kami menyempatkan menyusuri kampung pedalaman berhutan kiri kanan itu. Ketika melintas di jembatan gantung, sebuah pojokan sungai di bawah pepohonan lebat, tampak menggoda. Seketika kami kesana, berteduh kembali, menikmati air sungai. Setelahnya kami pulang.