Pagi ini saya ke kebun belakang rumah. Saya melihat bunga belimbing yang bunganya dihisap oleh serangga.
Luar biasa, pohon ini tidak pernah bosan terus berbunga walaupun kupu-kupu atau serangga lain menghisap nektar dan merusak keindahannya. Ternyata setelah bunga dihisap bunga menjadi layu dan jatuh, muncullah buah yang yang awalnya kecil, semakin hari bertambah besar. Bahkan buahnya jauh lebih besar dari bunga yang jatuh.
Saya jadi teringat ketika masih sekolah dulu, saya kurang senang dengan teman yang suka menyontek dan tidak pernah membiarkan kawan saya menyontek jawaban saya. Saat pulang sekolah saya menceritakan kepada orang tua saya tentang perasaan saya itu. Orang tua saya memuji tindakan saya dan menyarankan saya untuk mengajarkan kawan saya.
Apa manfaat bagi saya?
Sebuah pertanyaan terlintas dipikiran saya saat itu walaupun tidak saya ungkapkan. "Bukankah setelah saya ajarkan, dia akan pandai dan menjadi sainganku".Pikiran negatif saya berbicara dan saya pun berusaha menepisnya serta mengikuti yang disarankan orang tua saya.
Ternyata benar, saya bisa mengulang pelajaran sambil mengajarkan teman, dapat bekerja sama dalam kelompok, teman menjadi memori kedua bagi saya karena ada yang mengingatkan saat ada hal yang terlupakan. Yang paling nikmat adalah kegelisahan dan ketidaksenangan saya hilang berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan saat bersama teman-teman.
Ya, sebuah simbiosis mutualisme yang tidak hanya berlaku bagi siklus kehidupan hewan atau tumbuhan. Tetapi juga berlaku dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Merelakan satu kenikmatan hilang, maka akan membuka pintu bagi kenikmatan-kenikmatan yang jauh lebih besar.