Kejutan dari Seorang Pilot

Words
467
Reading
3 min
9y
Listen to this post
~3 min

STEEMIT IMG_20171125_094031.jpg

SETIAP langkah dalam kehidupan kita adalah rahasia sang Ilahi. Untung ataupun malang, sama-sama tak bisa diterka kedatangannya. Apa lagi hendak diatur oleh masing-masing pribadi. Bagi kita, ketika apapun yang terjadi adalah sebuah kejutan yang harus diterima dengan lapang dada. Baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan.

Saya pun baru mendapatkan kejutan, ketika pilot yang saya tumpangi menelpon saya dan meminta saya pindah ke bangku paling depan. Tadinya saya bersama ayijufridar@ayijufridar akan terbang dari Bandara Adi Soemarmo, Solo ke Soekarno Hatta, Jakarta dan mendapatkan kursi di bagian tengah pesawat. Ternyata pilot yang menerbangkan pesawat yang kami tumpangi adalah teman sebangku saya saat kelas 2 dan 3 SMP serta di kelas 1 SMA.

Kejutan kali ini tentu sebuah kebahagiaan. Karena terakhir kali saya mendapat kejutan yang sama pada tahun 2012 ketika bersama dua orang teman lainnya sedang dalam penerbangan dari Soekarno Hatta ke Polonia, Medan.

STEEMIT IMG_20171125_094031.jpg

Ada banyak kisah yang kami lalui di masa kecil dulu. Ikut perkemahan penggalang pramuka, menjadi pengurus OSIS dan naik sepeda mini sepulang sekolah. Kehidupan kami saat itu sangat bahagia, walau uang jajan kami berdua selalu yang paling kecil dibandingkan teman-teman sekelas. Maklum, ayah saya cuma seorang guru, dan ayah sahabat saya itu bintara di TNI Angkatan Udara.

Sebagai generasi beras catu, kami pun maklum dan memang harus berhemat. Namun saat sudah bersekolah di bangku SMA, kondisinya belum juga berubah. Bahkan semakin parah. Karena sebagai sekolah favorit, nyaris kami ini menjadi siswa di kelas sosial terendah. Berbeda dengan anak-anak lain yang berkecukupan. Tak heran, saban hari, setiap jam istirahat tiba kami lebih sering ke perpustakaan dari pada ke kantin.

Alasannya sederhana. Bukan untuk membaca buku kami rajin masuk pustaka. Tapi menghindari ‘godaan’ di kantin. Lebih lagi aroma bakso yang begitu kuat. Sangat menggugah.

Tapi begitulah. Kondisi itu tidak menyurutkan kami untuk terus melangkah. Hingga naik ke kelas dua SMA, sahabat saya pamit. Dia pindah sekolah ke Medan, karena ayahnya dipindahkan ke satuannya yang lama di Pangkalan TNI AU di Medan. Kami berpisah, tetapi komunikasi masih terus terjalin melalui surat.

STEEMIT IMG_20171125_094131.jpg

Tahun 1991, saya menamatkan SMA di Lhokseumawe. Sahabat saya menamatkan SMA Angkasa Medan. Saya kuliah, Dia ikut seleksi sebagai penerbang TNI AL di Surabaya. Tahun 1994 dia pulang ke Lhokseumawe untuk pertama kalinya dengan uniform pilot.

Pagi itu hari Minggu. Saya masih di rumah ketika pintu depan rumah saya terdengar ada yang mengetuk. Ketika pintu dibuka ibu saya, Ia terperanjat. Karena melihat sahabat kecil saya sudah berseragam pilot TNI.

image

Kali kedua, Dia pulang ke Lhokseumawe tahun 2003. Saat itu Dia ditugaskan untuk menjemput Brigjen (Mar) Safzen Noerdin. Beliau adalah Wakil Panglima Komando Operasi di Aceh. Karena telah selesai tugasnya, beliau akan kembali ke Surabaya.

Dan saya bertemu sang pilot kembali tahun 2012 dan 2017. Sebuah pertemuan yang jarang terjadi secara fisik. Tetapi hati kami selalu tertaut. Saya bangga pada mu capt dan saya bangga jadi sahabat kecil mu.

zainalbakri@zainalbakri

image

BZB.gif

telor.gif

Kejutan dari Seorang Pilot | Ecency