Networking is Number One (Testimony part-1) Indonesia Version
Dua puluh lima tahun menjadi jurnalis bukan waktu yang sedikit. Banyak pengalaman diperoleh selama meniti karir jadi pewarta. Tak hanya pengalaman menyenangkan, banyak pula yang tak menyenangkan. Dibentak, dilecehkan hingga nyaris ditembak pernah saya alami.
Mengawali dunia jurnalistik di sebuah Harian Mimbar Umum terbitan Medan, awalnya menyenangkan. Melalui jasa seorang teman-Hamdan namanya, saya mencoba belajar menulis berita olahraga. karena pada saat ini, hanya bidang olahraga yang terbuka peluang.
Saat berita pertama dimuat, senangnya bukan main. Beberapa kali membaca berita sendiri. Bukan sekadar mendapatkan kepuasan, tapi untuk evaluasi terhadap bahasa jurnalistik yang tentunya masih rancu. Saya belajar dari banyak berita orang lain dan membandingkan dengan berita sendiri.
(source: m.bukalapak.com)
Dua tahun meniti karir di Harian Mimbar Umum, beberapa event olahraga saya liput. Mendapatkan ID card liputan hingga gratis menonton adalah kepuasan lain. Kebahagiaan ini berlanjut hingga meliput sebuah event kejuaraan Bridge Nasional sekitar tahun 1994 silam.
Saat meliput kejuaraan Bridge, saya berkenalan dengan seorang wartawan olahraga Harian Merdeka- cikal bakal Rakyat Merdeka- koran milik Jawa Pos Group saat. Setahun kemudian saya mencoba menawarkan diri menjadi koresponden Harian Merdeka-joint venture atau patungan antara Herawati Diah dan Dahlan Iskan-pimpinan Jawa Pos yang pernah jadi menteri semasa presiden SBY.