Antara Neraka Post, CoHA dan Sekber

toshare(41)
Published in
#aceh
Words
372
Reading
2 min
Listen
Play
8y

CoHA.jpg

Link atau jaringan menjadi hal penting dalam peliputan pemberitaan. Membangun jaringan adalah satu langkah mencapai tujuan. Maka, posko atau tempat berkumpul menjadi tuntutan.

Bagi warga Aceh termasuk jurnalis yang gemar nongkrong, posko layaknya pusat informasi. Di sana mereka bisa berbagi info, baik info awal atau pos siap untuk liputan. Demikian juga untuk tempat diskusi berbagai hal yang berkembang.

coha2.jpg

Era tahun 1990-an kalangan jurnalis atau wartawan di Aceh mengenal poso yang dikenal dengan Neraka Post. Nama neraka post dikutip dari banyaknya sumber informasi atau beragam perilaku wartawan di Banda Aceh saat itu. Posko yag terletak di Jalan Cut Meutia, Banda Aceh ini berkumpul para wartawan dari berbagai latar belakang. Sebut saja wartawan yang memiliki media hingga ada sebutan WTS alias wartawan tanpa surat kabar. Konon pula ada bagi-bagi rezeki hasil intip proyek pemerintah.

Coha3.jpg

Seiring tumbuhnya media pasca reformasi dan berbarengan dengan tingginya ekskalasi konflik Aceh, posko wartawan pun tumbuh di tempat lain. Henry Dunant Center atau HDC yang hadir ke Aceh memfasilitasi perundingan damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) membentuk satu kegiatan Cessation of Hostilites Agreement (CoHA) atau kesepakatan penghentian kekerasan menjadi inspirasi posko jurnalis peliput konflik.

Warung CoHA adalah sebuah pondok sederhana yang dijadikan warung kopi tempat berkumpulnya para jurnalis dalam dan luar negeri. Di warung CoHA juga, para penghubung GAM dan jurnalis sering bertemu untuk peliputan konflik. Warung yang terletak di Jalan Teuku Hamzah Bendahara, Kuta Alam, Banda Aceh persis di depan sekretariat PWI Aceh.

Belakangan, warung CoHA ini pun sempat diplesetkan sebagai Warung Kongkow-kongkow dan Ha Ha. Entah siapa yang menabalkan nama itu, yang pasti itu sejarah bagi jurnalis di Aceh.

Perkembangan pembangunan di Banda Aceh menyebabkan warung itu pun tergusur. Karena tanah kosong yang ada di belakangan pertokoan Pante Pirak akan dibangun. Ternyata hingga saat ini masih belum juga direalisasi.

Pasca tergusurnya warung CoHA, tempat berkumpul junalis pun berpindah ke samping kantor Telkom Aceh berdekatan dengan Masjid Raya Baiturrahman. Sebuah warung tenda kemudian dinobatkan sebagai sekber atau sekretariat bersama para jurnalis dari beragam platform.

Zaman media tanpa batas kadang tak membutuhkan posko dalam bentuk fisik. Karena melalui grup media sosial, info liputan bisa tersebut. Maka, posko jurnalis menjadi hal penting. Seiring mengingatkan nostalgia, saya jadi teringat kembali pada CoHA dan posko bersama. Kongkow-kongkow dan Ha ha.

Antara Neraka Post, CoHA dan Sekber | Ecency