Tentu pendekatannya adalah sejarah. Dengan sejarah hal-hal masa lalu dapat terungkap. Sebelum sampai ke masalah, baiklah kita kaji pertama sejarah Rupiah. Yaitu mata uang yang berlaku saat ini agar nyambung dengan pokok bahasan kita. Menurut Adi Pratomo alumnus Teknik Kimia UGM, seorang peneliti sejarah uang Indonesia, kata Rupiah berasal dari bahasa Mongolia, rupia, yang berarti perak. Waktu itu, Mongolia di bawah Genghis Khan, dilanjutkan Timur Leng, dan Kubilai Khan melakukan kumpulan invasi ke negara-negara selatan. Diaduan, India, Afghanistan, dan Pakistan serta negara utara, Rusia dan beberapa negara Eropa Timur lainnya.
Nama rupia kemudian menyebar. Sebab, negara-negara bekas jajahan Mongolia itu melakukan perdagangan ke berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. "Makanya, saudara rupiah itu sebetulnya adalah rubel, mata uang Rusia," katanya. Namun rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya tambahan huruf 'h' di akhir kata rupia, sangat khas sebagai pelafalan orang-orang Jawa. Anda dapat menggunakan kata Rupia secara otomatis atau 5 Masehi yang berarti PERAK.
Menurut Puji Harsono seorang ahli uang di Bandung mengatakan "Anda mungkin sering mengetik kata rupiah menjadi perak.Misalnya, saat mengatakan," Saya cuma punya uang 500 perak. "Pernahkah Anda bertanya mengapa harus diganti perak? Mengapa tidak emas? Pada tahun 1892, Belanda uang koin dari perak seharga 1 gulden Satu gulden makna satu perak atau satu rupiah.Mungkin dilatarbelakangi hal itu, istilah perak masih digunakan sampai sekarang. Kata lain, seperti ringgit (2,5 gulden), juga masih dikenal. (0,5 gulden), setalen (1/4 gulden), dan ketit (1/10 gulden) mungkin tidak lagi terdengar.
Demikianlah memang Rupiah itu adalah nama lain dari koin peraknya penjajah Belanda.
Jejak mata uang emas dan warna-warni pada periode di Indonesia, yang disusun Puji Harsono setelah ini. Periode ini saya sesuaikan dengan jejak mata uang emas dan perak yang ada di nusantara sbb:
Mata uang Indonesia Mencetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin itu disebut dalam dua jenis bahan emas dan perak, memiliki berat yang sama, dan memiliki beberapa nominal:
Masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0,30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas zaman Syailendra bentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) jadi 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian lingkaran ditemukan huruf Devanagari "Ta". Di belakangnya Terdapat yg dicetak (lekukan Ke hearts) Yang dibagi hearts doa Bagian, masing-masing Terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan "S esame Seed".
Sedangkan koin perak Masa memiliki diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakang sudah menggunakan pola “Bunga Cendana”.
Pada zaman Kerajaan Daha dan Jenggala , uang-uang emas dan perak tetap dengan berat standar, ada bangunan dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah menjadi bundar, sedangkan koin peraknya memiliki desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.Pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja dapat menggantikan seekor domba.
Pada masa KERAJAAN PASAI mata uang emas untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan memiliki standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai memiliki diameter 10-11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar "Malik az-Zahir" atau "Malik at-Tahir".
Setelah Pasai berhasil ditaklukkan oleh KERAJAAN ACEH pada 1524, sultan-sultan Aceh tetap mengikuti tradisi dari kerajaan Pasai dalam pembuatan mata uangnya. Bahkan uang Dirham Aceh berdiameter lebih besar, antara 12-14 mm. Pada bagian belakangnya ada tulisan Arab “as-Sultan al-adil”, yang berarti Sultan yang adil. Aceh juga membuat uang uang dari timah / timbal, yang disebut “Keueh”, dengan nilai satu Mas sama dengan 400 Keueh.
Pada masa KERAJAAN GOWA di Sulawesi Selatan mata uangnya disebut dengan “Dinara”, yang terbuat dari emas. Sultan Alauddin Awwalul Islam yang memerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1593-1639, adalah sultan Gowa yang pertama beralih ke agama Islam. Sultan Hasanuddin, yang memerintah pada tahun 1653-1669, dengan gelarnya “Saya Mallombasi Muhammad Bakir Dg Mattawang Krg. Bontomangape ”. Dengan kekalahannya melawan Belanda, Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya tanggal 18 November 1667. Dalam perjanjian itu menyebutkan bahwa wilayah Minahasa, Butung dan Sumbawa yang tadinya termasuk dalam wilayah Kesultanan Gowa harus diserahkan kepada VOC. Dan semua pedagang-dari Eropa selain dari VOC, mencari untuk melakukan perdagangan di wilayah timur.
Perdagangan dengan VOC (1602-1799)
Tahun 1595 untuk pertama kalinya kapal Belanda menginjak daratan Indonesia. Ekspedisi ini dikepalai oleh dua bersaudara, Cornelis dan Frederick de Houtman, dan mendarat di pelabuhan Banten. Mereka membawa koin-koin perak untuk dipakai membeli rempah-rempah, baik yang dinamakan Real Batu atau Real Bundar. Namun mereka kecewa karena uang di Banten adalah picis-picis dari timbal.
Pada tahun 1743, VOC melakukan perjanjian dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Salah satu dari layanan tersebut adalah membagikan hak kepada VOC untuk mencetak mata uangnya sendiri. Uang yang mirip dengan ini dikenal dengan nama "Derham Djawi" atau "Java Ducat" atau "Gold Rupee" (untuk koin emas), dan "Silver Java Rupee" (untuk koin peraknya). Terjadi pada masa ini. Kapal VOC yang tenggelam di Brazil yang mengangkut salah memesan adalah 180.000 koin emas.