Sekitar pukul 11 malam, kami berangkat dari Markas Balai Baca menggunakan mobil bak terbuka yang dipenuhi barang-barang bawaan kami dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk kami duduk. Kami diantar oleh dua teman, Arif dan Dayat yang juga seorang steemian. Arif sebagai supir, aku Ichwan dan dayat dijatahi duduk di belakang menemani barang-barang bawaan yang kami bawa, berbeda dengan 2 wanita tim kami, mereka menempati kursi VVIP yang hangat di sisi pak supir yang sedang bekerja mengendarai mobil supaya selamat sampainya. Tapi dengan posisi ini, kami akan mendapatkan lebih banyak pemandangan malam dalam perjalanan.
Kota tujuan kami adalah Langsa, sekitar lima jam perjalanan dari Kota Bireuen. Perjalanan kami ditemani angin dingin dan langit cerah beserta gemerlap bintangnya. Sesekali mobil kami terhentak karena jalan berlubang dan menghantamkan tulang ekor kami ke bak mobil yang anda tau bahwa itu terbuat dari besi, dan besi adalah benda padat yang sangat keras. “Huuukkhhh” hanya helaan nafas yang tak sempat keluar dari mulu itu mampu ku ekspresikan, walau sebenarnya dalam hati aku juga ingin berkata kasar. Perjalanan ini cukup panjang, kejadian tersebut berulang berkali-kali bahkan ketika kami sudah tertidur lelap.
Kami tiba di kota langsa pada pukul 4 pagi dan langsung menuju rumah Pak Riski yang merupakan Pengurus Yayasan Anak Merdeka dan Guru di Sekolah Swasta Merdeka yang merupakan tujuan kami. Shalat, istirahat sebentar dan sarapan, pagi itu kami bertemu Pak Jol yang juga merupakan guru di sekolah tersebut dan melanjutkan perjalanan.
Kami diinformasikan bahwa untuk mencapai desa dimana sekolah ini berdiri, kami harus menaiki boat dan menyusuri sungai besar Aceh Tamiang. Hhmm... Boat, cukup nyaman dan aman lah ya. Tak seperti ekspektasi, boat yang kami bayangkan ternyata sebuah sampan bermotor yang lebarnya hanya sekitar 1 meter. Subhanallah, bayangan-bayangan buruk yang sebelumnya aku ceritakan pada Part 1 (https://steemit.com/indonesia/@sikucel/ransel-baca-part-1-berangkat) kembali menghiasi pikiran.
Setelah semua barang bawaan kami disusun dalam boat, dengan jantung berdegup kencang satu persatu dari kami naik dalam boat. Tapi karena licinnya pijakan yang sudah berbalut lumpur, Nurul terpeleset dan tubuhnya seketika dibalut lumpur. Dalam boat yang yang bergoyang karna gelombang, aku tertawa dengan jahatnya.
Dan Kamipun Berangkat!!!
Bersambung.
Karena cerita ini sudah melebihi 300 kata, dikhawatirkan pembaca kehilangan fokus dan jadi nggak seru lagi. Jadi saya akan memotong cerita perjalanan ini ke part selanjutnya.
Selanjutnya Ransel Baca Part 3 – Cerita 7 Jam Mengarungi Sungai