Assalamualaikum.
Hallo Steemian, seperti janji di postingan pertama, saya akan berbagi cerita mengenai pengalaman saya dan tim ketika berkunjung dan berkegiatan bersama adik-adik di sebuah sekolah di pedalaman Aceh bernama Sekolah Swasta Merdeka pada tanggal 11 Maret 2017. Sekolah ini terletak di Desa Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.
Saya akan membagi cerita ini dalam potongan-potongan kecil cerita. Kita akan memulai cerita ini dari program profil kami yang bernama Ransel Baca. Ransel Baca merupakan program yang bertujuan mendekatkan akses bacaan, peningkatan kualitas pendidikan dan memotivasi anak-anak di pelosok Aceh untuk terus melanjutkan jenjang pendidikan. Program ini sendiri merupakan salah satu subprogram dari gerakan bernama Balai Baca. Saya tidak akan bercerita banyak mengenai Balai Baca, informasi lengkap mengenai ini dapat diakses di https://balaibaca.com.
Persiapan Ransel Baca ini sudah kami mulai pada awal Januari 2017, dimulai dengan penyusunan konsep, penjaringan tim relawan, komunikasi dengan pihak yayasan pengelola sekolah, kontak sponsor, pengumpulan donasi, memperkirakan rute dan moda transportasi. Walaupun letaknya di Kabupaten Aceh Timur, tapi untuk sampai sekolah ini kami sampai ke sekolah ini kami harus menyusuri sungai yang ada di Aceh Tamiang selama 7 jam perjalanan, menggunakan boat yang sebenarnya tak lebih dari sampan bermotor. Menaiki boat ini memiliki sensasi tersendiri, ceritanya ada di part selanjutnya.
Tim terdiri dari 10 orang, berasal dari berbagai latar belakang, diantaranya aktivis lingkungan, bidan, pelajar, photografer, guru, dan mahasiswa. Hati tegak dan niat kukuh telah kami tegaskan. Tapi manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan terkabul atau tidaknya niat tersebut. Berbagai berita dan isu negatif muncul di media cetak dan media online mengenai kejadian-kejadian di Aceh timur, mulai dari berita penembakan, boat yang tenggelam, isu ada korban yang di mangsa ular, isu ganasnya jeram yang ada di sungai yang akan kami lewati nantinya. Hhmmm... ngeri-ngeri sedap, beberapa relawan mulai mundur dengan berbagai alasan, ada yang dapat pekerjaan tiba-tiba, tidak dapat izin dari keluarga, ada yang memang takut. Apa boleh buat, ini relawan bukan suatu profesi yang dapat dipaksakan. Setiap hal memiliki resiko, tinggal bagaimana kita mengambil tindakan, maju atau mundur.
Tapi ada yang tetap tenguh memilih untuk berangkat, menjalankan misi yang kami anggap hal yang mulia. Kini kami tinggal berempat, saya, Ichwan, Nurul dan Rahma, dengan jantung yang berdegup kencang, dengan keyakinan yang sebenarnya belum begitu bulat, malam itu kami memutuskan BERANGKAT!!!