Mesjid Raya Baiturrahman Aceh "Icon Wisata Islami Aceh"

Words
1049
Reading
5 min
Listen
Play
9y

acehnet_-_mesjid-raya-baiturrahman-aceh-icon-wisata-islami-aceh.jpg
Mesjid Raya Baiturrahman Aceh dari dulu sejak dibangun telah mengalami perubahan yang banyak. Dimulai dari ketika peristiwa dibakarnya mesjid ini oleh belanda sehingga dibangun kembali, perluasan area mesjid oleh pemimpin masa itu dan hingga kini perombakan yang lebih modern dengan mengusung konsep seperti Mesjid Nabawi.

Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ini telah menjadi ikon Aceh. Bangunan utama masjid berwarna putih dengan kubah hitam besar dikelilingi oleh tujuh menara. Kesan megah semakin terasa dengan adanya kolam besar dan pancuran air di bagian depan masjid yang mengingatkan pada Taj Mahal di India.

Dan pada tahun 2017 mesjid raya baiturrahman semakin megah dengan ada nya 12 unit payung - payung elektrik dengan kolam persegi panjang sebagai taman di tengahnya menyulap Masjid Raya Baiturrahman layaknya Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi

"The Great Mosque of Baiturrahman Aceh from the beginning since it was built has undergone many changes. Starting from when the mosque was burned by the Dutch so it was rebuilt, the expansion of the mosque area by the leader of that era and up to now more modern reshuffle with the concept like Mosque Nabawi.

The mosque built by Sultan Iskandar Muda in 1612 has become an icon of Aceh. The main building of the mosque is white with a large black dome surrounded by seven towers. The impression is more pronounced with the existence of a large pool and a water fountain at the front of the mosque that reminiscent of the Taj Mahal in India.

And in 2017 the baiturrahman mosque is getting magnificent with its 12 units of electric umbrellas with rectangular pools as the park in the middle conjures the Baiturrahman Great Mosque like the Nabawi Mosque in Medina, Saudi Arabia"
mrb_20170214_200244.jpg
Masjid ini menjadi tempat wisata religi di Aceh yang banyak dikunjungi karena keindahannya. Situs Huffington Post memasukkan Masjid Raya Baiturrahman ke dalam daftar 100 masjid terindah di dunia, bahkan Yahoo! menyebut masjid ini sebagai salah satu dari 10 masjid terindah di dunia. Hal ini tentu saja semakin membuat bangga warga Aceh dan Indonesia.

Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, Selain Masjidil Haram di kota suci Makkah, Masjid Raya Baiturrahman ini juga menjadi salah satu pusat pembelajaran agama Islam yang dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mempelajari Islam dari seluruh penjuru dunia.

Pada tanggal 26 Maret 1873 Kerajaan Belanda menyatakan perang kepada Kesultanan Aceh, mereka mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel Van Antwerpen. Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pante Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Namun peperangan pertama ini dimenangkan oleh pihak Kesultanan Aceh, di mana dalam peristiwa tersebut tewasnya Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang merupakan Jenderal besar Belanda akibat ditembak dengan menggunakan senapan oleh seorang pasukan perang Kesultanan Aceh yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monumen kecil di bawah Pohon Kelumpang yang berada di dekat pintu masuk sebelah utara Masjid Raya Baiturrahman.

Sebagai markas perang dan benteng pertahanan rakyat Aceh, Pada saat itu, Masjid Raya Baiturrahman digunakan sebagai tempat bagi seluruh pasukan perang Kesultanan Aceh berkumpul untuk menyusun strategi dan taktik perang. Sejarah mencatat bahwa pahlawan-pahlawan nasional Aceh seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien turut serta mengambil andil dalam mempertahankan Masjid Raya Baiturrahman.
"mesjid baiturrahman.jpgThis mosque became a religious tourism place in Aceh which is visited for its beauty. The Huffington Post site includes the Baiturrahman Great Mosque in the list of 100 most beautiful mosques in the world, even Yahoo! called this mosque as one of the 10 most beautiful mosques in the world. This is of course increasingly making people proud of Aceh and Indonesia.

During the Sultanate of Aceh Darussalam, in addition to the Grand Mosque in the holy city of Makkah, Baiturrahman Great Mosque is also one of the learning centers of Islam visited by people who want to learn Islam from all over the world.

On March 26, 1873 the Kingdom of the Netherlands declared war to the Sultanate of Aceh, they began to fire cannon fire into the mainland of Aceh from the warship Citadel Van Antwerpen. On April 5, 1873, the Dutch landed at Pante Ceureumen under the leadership of Johan Harmen Rudolf Köhler, and immediately mastered the Great Mosque of Baiturrahman. Köhler then carried 3,198 soldiers. A total of 168 of them were officers. But this first battle was won by the Sultanate of Aceh, where in the incident the death of General Johan Harmen Rudolf Köhler who was the great Dutch general as shot by a rifle by a warrior soldier of the Sultanate of Aceh who later perpetuated his shot on a small monument under the Tree Kelumpang which is near the entrance north of the Baiturrahman Great Mosque.

As the headquarters of the war and the bastion of the people of Aceh, At that time, the Baiturrahman Great Mosque was used as a place for the entire army of the Aceh Sultanate of war gathered to develop war strategy and tactics. History notes that Aceh's national heroes such as Teuku Umar and Cut Nyak Dhien participated in taking part in maintaining the Baiturrahman Great Mosque".
Saat bencana tsunami meluluh lantakan Tanah Rencong Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, Masjid Raya Baiturrahman masih tetap berdiri dengan megahnya, ombak tsunami yang mulai membasahi Bumi Aceh sungguh tak mampu menghancurkan rumah Allah ini. Pada saat itu Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat bagi rakyat Aceh berlindung juga sebagai tempat evakuasi jenazah para korban tsunami yang bergelimpangan.

Setelah melewati berbagai peristiwa-peristiwa bersejarah, sampai saat ini Masjid Raya Baiturrahman masih tetap berdiri kukuh sebagai simbol agama, budaya, semangat, kekuatan, perjuangan dan nasionalisme Suku Aceh.
"When the tsunami devastated the Land of Rencong Aceh on December 26, 2004, the Great Mosque of Baiturrahman still stands majestically, the waves of the tsunami that began to wet the Earth of Aceh really could not destroy this house of God. At that time Baiturrahman Great Mosque became a place for the people of Aceh to take refuge as well as a place to evacuate the bodies of tsunami victims who lie.

After passing through various historical events, to this day Baiturrahman Great Mosque still stands firmly as a symbol of religion, culture, spirit, power, struggle and nationalism of the Aceh Tribe".

Mesjid Raya Baiturrahman Aceh "Icon Wisata Islami Aceh" | Ecency