The man has a career as a dress instructor of his own hard work, then helped the education of children dropped out of school.
Hello Steemians, I I want to tell you about a friend of mine, his name Riswandi. He won 3 out of 33 participants nationally while representing the province of Aceh in the event of Teachers Appreciation and Educational Staff of Early Childhood Education and Community Education (GTK Paud and Dikmas) which took place on 22-28 May 2016 in Palu, Central Sulawesi.
Riswandi is also the only one of 16 Aceh representatives who achieved the award. He appeared as a fashion instructor carrying the name of Course and Training Institute (LKP) 'Ibu n Me' Gandapura which is the guidance of Education and Culture Office of Bireuen Regency.
"I am there displaying my clothing pattern result from using Tarla system, Participants are asked to practice directly in front of juries to become garment," Riswandi said when interviewed on Saturday, October 15, 2016.
Tarla is a process that produces sewing patterns that Riswandi created since he pioneered a career as a tailor as well as fashion stylist. The name was also used to wake up, Tarla Designer. "Tarla is my popular name in Banda Aceh," said the man born in 1985.
Riswandi explained, Tarla stands for Team Analysis Reconstruction Lead and Amaliorate. More details, he added, Tarla is a plan that contains a series of activities involving interaction models, information processes, personal and behavioral modifications designed to achieve educational goals.
Since his lecture in the Prodi Educational Welfare Program Family Dressing Unsyiah, Riswandi has started the business of fashion in kosnya. From the boarding house, he received the services of sewing clothes and clothing.
Riswandi previously also majored in Fashion Clothing in SMKN 2 Lhokseumawe. She intentionally took the course because she wanted to watch the dress code. Ordinary, women who learn fashion.
"It's a bit strange to some, but I feel like I'm born from a family of artists My grandmother and my mother are tailors, so I can be like them," said the man from Sawang, North Aceh.
Since elementary school, he likes to take pictures. But can not sew until he menempuah lecture. Graduated S1, Riswandi S2 in Prodi Education Technology and Vocational Tata Clothing State University of Padang (UNP), West Sumatra.
"Alhamdulillah from the sewing and dress code I can finance my own lecture until now," said the man who is currently pursuing S3 Tata Clothing also at the UNP.
He claimed to still take a higher education while working. "Demanding knowledge while working makes it easier for us to innovate for our work," he said.
Began to become a fashion instructor at LKP Mom 'n Me Gandapura in 2014, she taught for basic courses of trade and commerce. My mother set up Siti Aisyah, a resident of Gampong Lhok Mambang, Gandapura Sub-district, Bireuen, in 2012. "I want to help the community around me, LKP is a place for them to learn," Siti say.
From the process of opening a sewing course, has now begun courses dressing and sewing patchwork (sewing sack). The training is for housewives and school dropouts from Gandapura. LKP Mom 'n Me was later nurtured by the Bireuen Education and Culture Department. Riswandi is grateful to teach the children to drop out in my LKP Ibu 'n. He attracted tremendous interest from participants who were dropping out of middle school and high school.
Halo Steemian, saya ingin bercerita tentang teman saya, namanya Riswandi. Dia memenangkan 3 dari 33 peserta secara nasional saat mewakili provinsi Aceh dalam hal Guru Penghargaan dan Staf Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (GTK Paud dan Dikmas) yang berlangsung pada tanggal 22-28 Mei 2016 di Palu, Sulawesi Tengah .
Riswandi juga satu-satunyadari 16 wakil Aceh yang meraih penghargaandi ajang tersebut. Dia tampil sebagai instruktur tata busana membawa nama Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) ‘Mom n Me’ Gandapura yang merupakan binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.
“Saya di sana menampilkan pola busana karya saya hasil dari menggunakan sistem Tarla. Peserta diminta praktikkan langsung di depan dewan juri hingga menjadi pakaian jadi,” cerita Riswandi saat diwawancarai Bina Kreasi, Sabtu (15/10/16).
Tarla merupakan proses menghasilkan pola jahit yang diciptakan Riswandi semenjak ia merintis karier sebagai penjahit sekaligus penata busana. Nama itu pula yang dipakainya untuk usahanya, Tarla Designer. “Tarla adalah nama populer saya di Banda Aceh,” ujar pria kelahiran1985 itu.
Riswandi menjelaskan, Tarla merupakan singkatan dari Team Analysis Reconstruction Lead of dan Amaliorate. Lebih rinci, lanjutnya, Tarla merupakan perencanaan berisi rangkaian kegiatan yang di dalamnya melibatkan model interaksi, proses informasi, personal serta modifikasi tingkah laku yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan.
Semenjak kuliah di Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Busana Unsyiah, Riswandi sudah memulai bisnis tata busana di kosnya. Dari rumah kos, ia menerima jasa jahit pakaian dan tata busana.
Riswandi sebelumnyajuga mengambil jurusan Tata Busana di SMKN 2 Lhokseumawe. Sengaja dia ambil jurusan itu karena ia ingin pelajari tata busana. Biasanya, perempuan-lah yang belajar tata busana.
“Dianggap aneh memang oleh sebagian orang. Tapi saya merasa terlahir dari keluarga seniman. Nenek saya dan ibu saya adalah penjahit, jadi saya pun bisa menjadi seperti mereka,” ujar pria asal Sawang, Aceh Utara itu.
Sejak duduk di bangku SD, ia suka menggambar. Namun belum bisa menjahit hingga ia menempuah kuliah. Menamatkan S1, Riswandi melanjutkan S2 di Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat.
“Alhamdulillah dari hasil menjahit dan tata busana ini saya bisa membiayai kuliah sendiri hingga sekarang,” kata pria yang saat ini menempuh S3 Tata Busana juga di UNP itu.
Dia mengaku tetap menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi sembari bekerja. “Menuntut ilmu sambil bekerja itu membuat kita makin mudah dalam berinovasi untuk karya kita,” katanya.
Mulai menjadi instruktur tata busana di LKP Mom ‘n Me Gandapura pada 2014, dia mengajar untuk kursus tata busana dasar dan terampil. Mom ‘n Me sendiri didirikan Siti Aisyah, warga Gampong Lhok Mambang, Kecamatan Gandapura, Bireuen, pada 2012. “Saya ingin membantu masyarakat di sekeliling saya, LKP ini menjadi wadah belajar bagi mereka,” ujar Siti.
Dari awalnya membuka kursus menjahit, kini sudah dimulai kursus tata busana dan menjahit kain perca (ampas jahitan). Pelatihan itu ditujukan bagi ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak putus sekolah dari Gandapura. LKP Mom ‘n Me kemudian dibina oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen. Riswandi mengaku bersyukur bisa mengajar anak-anak putus sekolah di LKP Mom ‘n Me. Dia mendapati minat luar biasa dari peserta yang kebanyakan anak putus sekolah SMP dan SMA.
Original post : http://www.pikiranmerdeka.co/2016/10/22/riswandi-instruktur-penata-busana-andalan-aceh/