Catatan Preman Kampus UNIGHA Bag. 4

Words
1105
Reading
5 min
Listen
Play
9y

Pada bagian sebelumnya aku mendongeng tentang awal mula keterlibatanku dalam kegiatan kampus UNIGHA dan perkenalan dengan beberapa tokoh yang akan menarik untuk didongengkan. Forum konvensi FKIP meninggalkan kesan yang kurang baik bagiku. Nuansa persaingan politik membuatku sangat tidak interest untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Namun seiring waktu berjalan aku mulai mengenal banyak sosok yang nantinya berperan aktif dalam kegiatan kampus. Dari mereka aku mendengar selentingan kabar tentang dinamika yang terjadi pada Pemilahan Raya yang berlangsung. Pemilihan Presiden Mahasiswa periode 2006-2007 dimenangkan oleh Khaifan Sasmita. Selanjutnya aku lebih fokus pada kegiatan kuliahku saja. Pada periode ini sempat terjadi demonstrasi mahasiswa. Namun aku tidak melihat ada isu yang krusial yang menjadi pokok permasalahan. Demo itu sendiri tak sempat kusaksikan karena jadwal kuliahku pada sore hari, sementara demo dihelat pada pagi hari. Dari kabar yang beredar sempat terjadi penyegelan kampus jalan pasi Rawa pada pagi hari, dimana siang dan sorenya seolah tak ada yang tersisa dari demo tersebut. Kesan yang kutangkap ini aksi popularitas semata. Hanya sekedar menjadi topik bahasan mahasiswa yang duduk dikantin saja.

Pada waktu itu aku sendiri mulai terusik dengan keberadaan kampus yang berlokasi di pertokoan jalan Pasi Rawa. Mahasiswa pada waktu itu harus mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kondisi yang memprihatinkan. Ruang kuliah yang terletak di pinggir jalan membuat kami tidak nyaman untuk mengikuti kegiatan perkuliahan. Tidak hanya di Ruko Jalan Pasi Rawa, kami juga belajar di ruang sekolah-sekolah yang ada di Sigli. Tahun 2005 tercatat sebagai tahun kembali ramainya mahasiswa UNIGHA kemudian harinya. Ketidaknyamanan ini mengusikku untuk menelisik lebih lanjut akan penyebab pindahnya kampus ke kota Sigli dari Gle Gapui, Indrajaya. 

Sedikit kembali ke situasi kampus di awal dimana aku sedikit melewatkan tentang konflik yang mendera Aceh yang berakibat pada kampus UNIGHA. Pada tahun 1990, setelah dua tahun berlakunya Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, Kampus yang berlokasi di Gle Gapui mengalami tragedi dibakarnya gedung Bulat Sabit oleh orang yang dikenal (OTK), yang selanjutnya lebih dikenal dengan istilah GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Berbagai isu beredar di masyarakat terkait peristiwa ini. Aku sendiri pada saat itu berumur 9 tahun ikut mendengar langsung dari salah satu karyawan yang ditangkap dan sempat disekap oleh gerombolan itu. Beliau adalah Ghazali Abdullah, yang merupakan adik kandung ibuku. Masih teringat jelas bagaimana pada proses persidangan yang berlangsung Lhokseumawe atau Aceh Utara, Cek Li demikian aku memanggilnya, kutemani untuk menginap di rumah salah satu saudaraku dari pihak ayah di daerah Batuphat. Kami berangkat dari Meureudu dengan bus Tramindo. Dari pembicaraan beliau aku mengetahui bahwa beliau sempat disandera dengan kedua tangan yang diikat, namun kemudian berhasil meloloskan diri dan meminta bantuan ke KORAMIL Mila. Bahkan Aku masih ingat sepeda motor Yamaha pak chik (kakek dari pihak ibu) ikut dibakar dalam peristiwa itu.

Peristiwa pembakaran itu seolah menjadi titik awal terjun bebasnya UNIGHA dari kejayaanya. Alm. Bupati Nurdin AR yang juga merangkap jabatan sebagai Rektor (1984-1999) sempat membawa UNIGHA mengalami masa keemasan pada periode awal kepemimpinannya. Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat ASEAN menjadi peristiwa bersejarah dan dikenang sebagai even yang mampu memperkenalkan UNIGHA hingga keluar negeri. Sosok Alm. Nurdin AR memang fenomenal. Beliau tercatat berhasil merangkul tokoh Aceh yang juga konglomerat di Indonesia, Ibrahim Risyad untuk menjadi donatur utama pembangunan Kampus. Pergaulan beliau yang luas dengan berbagai kalangan baik politisi maupun seniman membuat kampus acap kali dikunjungi oleh para pejabat pada masa itu. Sastrawan sekelas Taufik Ismail dan L.K Ara pun konon pernah singgah di kampus ini. Taufik Ismail sendiri mendapat kehormatan untuk mencipatakan Mars Kampus Jabal Ghafur.

Entah kebetulan atau tidak, Gle Gapui tempat berdirinya kampus Jabal Ghafur seolah mempunyai sensitifitas tertentu terkait situasi politik di Aceh. Pada masa DI/TII, bukit ini menjadi tempat kembalinya pasukan DI/TII Aceh pimpinan Letkol. Hasan Saleh beserta 10.000 prajuritnya ke pangkuan ibu Pertiwi. Terbakarnya kampus gedung Bulat Sabit juga menjadi indikator meningkatnya eskalasi konflik di Aceh. Puncaknya adalah tahun pasca 1999, tahun dimana Bapak Nurdin AR meninggal, Aceh kembali didera Konflik. Runtuhnya rezim Suharto  pada tahun 1998 akibat krisis moneter (Krismon) yang mengakibatkan kekacauan di pusat dan berbagai daerah lainnya membuat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai terang-terangan mengobarkan perlawanan untuk merdeka dari Indonesia. UNIGHA kembali menuai imbasnya. Eskalasi kontak senjata yang terus meningkat membuat para pengelola Yayasan Pembangunan Kampus Jabal Ghafur yang estafet kepemimpinannya diambil oleh Drs. Hanif Basyah harus memindahkan kegiatan kuliah ke kota Sigli yang berpusat di Ruko Jl. Pasi Rawa. Keputusan yang kemudian menuai pro dan kontra tersendiri terkait internal Yayasan yang masih menyimpan misteri sampai saat ini. 

Pada tahun 2007 setelah kurang lebih dua tahun menjalani trayek Meureudu-Sigli untuk kuliah, aku lantas mengambil keputusan untuk pindah ke Sigli. Kami mempunyai sebuah rumah di PERUMNAS Kuta Budee yang telah lama disewakan.

(My Family di Rumah Perumnas Rawa)

Keputusan ini berdampak pada mulainya aku terlibat lebih jauh dalam berbagai kegiatan kampus. Rumahku ini mulai acap kali didatangi oleh teman-teman mahasiswa. Mulanya hanya jadi tempat kumpul sambil bercanda membahas hal-hal yang kami anggap lucu di kampus. salah satu teman yang ingin kuceritakan secara khusus disini adalah ROBERT CHENERY. 

Gitar dan musiklah yang mempertemukan kami. Hari itu aku menumpang shalat di Sekretariat PEMA UNIGHA. Kebetulan salah satu pengurusnya berasal dari Meureudu, Maskur, kami akrab memanggilnya koko. Selepas shalat aku bermaksud pamit, namun mataku tertumbuk pada sebuah gitar di Sekretariat itu. Akupun memainkannya, lagu Iwan Fals menjadi pilihanku. Tak lama berselang turunlah seseorang dari lantai 2 bangunan itu. Dia menyapa dan duduk didepanku. Penampilannya rapi dan tergolong necis untuk ukuran mahasiswa. Sepatu jinggle ala koboi dengan besi yang bisa berputar dibelakangnya menambah keunikan sahabatku yang satu ini. Aku sendiri tak kalah rapinya. Tak banyak yang kami bicarakan, namun suasananya cukup mengesankan. Kami memang pribadi yang supel dan mudah berkawan satu sama lain. Pada akhirnya kantin Pak wan lah yang menyatukan aku dengan semua sahabat yang kukenal dikampus ini.

Robet adalah pria dengan bakat entertainer yang luar biasa. Dia punya skill musik yang mumpuni dan bisa menghasilkan pundi rupiah jika bidang ini digelutinya dengan serius. Dia dengan gitarnya berpotensi untuk mengguncang dunia musik Aceh yang masih terbatas pilihannya. Beberapa lagu ciptaannya sangat empuk untuk didengarkan dan renyah untuk dinyanyikan. Namun terbatasnya akses kita sebagai orang daerah membuat asa lebih itu menjadi belum bisa terwujud pada saat itu. Ada yang unik dari persahabatan kami. Pada suatu hari dia datang padaku dan memanggilku "Bang". Itu tidak pernah terjadi diawal kami berteman. Usut punya usil ternyata kami masih saudara dari pihak ibu masing-masing. Dikampus sendiri Robet terkenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja. Dia punya banyak sekali teman. Hampir semua yang mengenalnya bisa dibuat tertawa oleh asiknya orang yang satu ini. Di kampus dia pernah menuai kontroversi dengan keisengannya menghadiahkan "Ketupat Bangkahulu" kepada PRESMA dimana Robet menjadi Mentri Seni dalam kabinet Sang Presiden itu. 

Sekian dulu dan masih akan bersambung .......

Catatan Preman Kampus UNIGHA Bag. 4 | Ecency