Sempat Panas Taik Ayam

Words
172
Reading
1 min
Listen
Play
9y

Gerimis mulai menitik di meja dengan lima gelas cangkir kopi di sebuah warung kopi Aceh bilangan Setia Budi, Jakarta malam ini.

Tak dinyana, rintik itu hanya dianggap angin lalu. Tiga pria jika tak bersama dua anak kudah duduk tepat di tengah warung, di bawah payungan pohon delima

Salah satu dari dua pemuda itu adalah Aku. Bersama Dofa, malam ini kami berjumpa dengan Ali Anwar seorang sejarawan dan Bang Mustafa Ismail, jurnalis kawakan di Tempo. Juga ada Pak Mulyadi Nurdin, Karo Humas Pemprov Aceh yang mengundang ngopi.

IMG-20180212-WA0082.jpg

Perbincangan yang semula hanya tentang hantu pasir eh perlahan mulai beralih ke steemit. Ini gara-gara bang Mustafa.

"Droen na Steemit (Anda punya Steemit)," katanya pada pak Mulyadi

Hanya dari situ, kami mulai riuh dengan cerita pundi-pundi di steemit dan asiknya menarik cuan dari hobi menulis. Saya tersadar seketika. Kenapa saya berhenti menulis ya? Padahal hanya untuk coretan belaka.

Bersyukurnya lagi, saya dimasukan ke dapan grup whatsapp Steemit Chapter Jakarta. Duh mudah2an ini jadi awal untuk konsisten menulis. Karena menulis kau akan abadi.

Hayuk menulis lagi :D