Hujan gerimis kembali turun membasah bumi, panjaran warna jingga dari ufuk barat masih muncul, jalan padat membuatku harus berteduh sejenak agar tidak basah, hati mulai risau dan gelisah menyaksikan keramaian yang penuh kebisuan, mata hanya tertuju kearah jalan untuk memastikan hujan berhenti. Hujan memberikan tanda romantisme sesaat karena kerinduan ku pada sosok lelaki penyejuk jiwa itu belum terpulihkan, kapan rindu ini bisa terobati.
Tidak bisa dirangkai dalam bentuk kata-kata rada rindu, sebab kata-kata tidak bisa menjadi penawar, cinta suci selalu terukir dalam sanubari, hanya berharap langit untuk menghentikan sejenak menumpah air. Suasana sudah tidak lagi memberikan kenyaman, suasana tidak mendukung walau dalam keramaian.
Tidak ada yang mau mendengarkan cerita kerinduan, tidak ada yang berbaik hati karena semua memanfaatkan untuk kepuasan bathinnya saja, aku mengambil botol yang berisi air putih untuk cuci muka agar bisa menghilangkan kecemasan dan kegelisahan.
Aku hanya bisa mengharap ada obat penawar rindu ini yang sudah lama terpendam, lelaki itu hingga kini belum memperlihatka wujudnya, dia hanya tersimpan dalam ingatanku. Kemana aku harus berlabuh untuk mengobati rindu ini.