Tau apa kau tentang adab?
Lalu memaki pemilik rumah, dirumahnya sendiri?
Tahu apa kau tentang norma?
Lalu mencaci mereka yang membela pemilik rumah?
Kau bilang didistrict tempat kau tinggal mahar itu sangat tinggi, setinggi marwah penduduk distrik.
Namun umpatanmu, seperti ras yang tidak mendapat taufiq.
Judul mu pun seperti anak paud yang belum mengerti lalu memintak mimik saat rapat pemilihan keuchik.
Ku pikir, mungkin kau belum pulang larut malam.
Tidak hanya pemilik, pena pun harus memiliki etika.
Apa yang kau tuai dengan komentar penghancur namamu dan nama chaptermu?
Hebat?
Unggul?
Cool?
Pernahkah kau duduk dan berpikir memakai element dalam batok kepala, otak lembut disisi depan?
Andai komentar itu tidak ada, andai tulisan berjudul cacian itu tidak ada?
Apa salah mereka?
Apa ada mereka datang kerumah emakmu mengmis sp?
Apa ada?
Jika kau tidak senang diam saja, karena itu belum merugikan kamu dan keturunan mu.
Jika tidak senang cukup buat tulisan cantik, tidak mesti datang dan mengajak perang!
Dalam puisi taik ku ini bisa membuatmu picik bahkan energik, damai lalu berjabat tangan.
Tidak hanya dia yang kau sakiti, semua yang membaca tiap tulisan panduan steemit pemula tersakiti kawan.
Silahkan kau buru aku lalu menyuruhku membuka tirai cadarku seperti kaphir-kaphir diluar negeri sana.
Silahkan ragu dengan ku.
Silahkan tuduh aku juga pemberontak bahkan teroris.
Kau bilang kau pandai melacak, tapi kurasa untuk mengisi chanel tv yang baru diganti kode kau tak mampu.
Silahkan tuan, silahkan!
Menyo hana yang pu ditot, pane patot asap mubura.
Jika ingin berperang tancapkan bendera perang, sehingga kita bisa membuat masyarakat netral steemit terluka, sipil memakan ketakutan, sama halnya seperti konflik yang membuat para sipil hijrah kelain wadah.
08/04/2018 @putribalqis