Kehidupan Malam
BERBICARA tentang lesbi, gay, waria, dan prostitusi; aku pernah melakukan survey kecil-kecilan mengenai mereka. Bahkan, hingga pertemuan ganjil tante-tante dengan berondong di sebuah kafe, serta seluk-beluk pengemis. Dari semua itu, yang susah dijangkau adalah kehidupan gay. Tak terendus sedikit pun. Lesbi dan waria lebih kepada gangguan psikologi yang kelam. Kalau arisan berondong tante-tante berkaitan erat dengan kekecewaan seksual berumah tangga.
Prostitusi lebih kepada ekonomi. Di sisi lain kehadiran anak punk di Aceh memang telah diarahkan, disekenariokan oleh suatu pihak. Kehadiran mereka dimamfaatkan oleh wakil rakyat untuk menutupi ketidak-mampuan mereka melayani rakyat. Mudah saja untuk menarik simpati orang banyak, cukup modal menjual agama atau syariat Islam. Menjelang Pemilukada, kandidat wakil rakyat ramai-ramai mengunjungi dayah, dan ulama-ulama.
Ketika aku tinggal di asrama Askopma, saat bertepatan dengan kampanye, hampir setiap hari kami mendapat undangan silaturahmi dari calon-calon wakil rakyat. Sebenarnya silaturahmi adalah cara para calon yang tidak memiliki uang banyak untuk berkampanye. Siang hari kami diundang makan ke rumahnnya. Setelah makan, calon itu mengutarakan visi-misinya dan apa yang akan dilakukannya jika dia terpilih kelak. Sebelum pulang, kami diberikan kartu nama dan sebuah amplop, isinya sehelai uang 50 ribu rupiah.
Pernah juga suatu sore kami diundang ke rumah salah satu calon lainnya. Dengan bangga si calon memperlihatkan seekor kerbau gemuk miliknya di kandang. Dia berkata bahwa sejatinya dia adalah seorang petani. Nampaknya sang kerbau mengaminkan perketaan sang majikannya dengan cara berak saat kami melihatnya.
Kepada salah seorang mahisiswi senior yang berdiri di samping, aku membisikkan, "Kak, buah zakar kerbau jantan itu besar sekali, ya?"
Dia tersenyum geli, lalu terkikik-kikik.
Setelah makan malam, terjadi sedikit tanya jawab dengan sang calon. Saat pulang, kami berjabat angan. Masing diberikan sebuah amplop. Sang calon meminta dukungan dan mendoakannya agar dia menang pada pemilihan. Begitu tiba di asrama, aku membuka amplop, kembali aku mendapati Wagel Rudolph Supratman di dalamnya.
TERUS terang, aku suka sekali kelayapan ke berbagai kafe menikmati hingga larut malam. Perempuan dan lelaki asyik bercengkrama di kafe-kafe hingga dini hari. Tentu saja itu hak mereka, tetapi bukan budaya timur. Budaya timur jauh lebih baik daripada budaya barat, walau industri film porno terbesar berasal dari Jepang.
Aku mendapati beberapa perempuan yang bekerja di kafe malam hari, di sela-sela waktu luang, mereka ramah-ramah untuk diajak bercanda. Sebagaimana yang kukatakan sebelumnya, aku pernah tinggal di asrama di Darussalam, pada mulanya asrama kami hanya dibatasi oleh aula yang menjadi tempat parkir sepeda motor dengan asrama putri. Kami bisa hidup rukun, sentosa dan damai dengan penghuni putri.
Di sela-sela kerukunan yang sentosa dan damai itu, penghuni asrama putra sering menyelinap ke kamar asrama putri. Penghuni asrama putra juga sering meyelinapkan mahasiswi ke kamar asrama putra. Tetapi, aku masih perjaka, tidak mau terlibat dalam hubungan romantis yang bertabur mesum sehingga aku memilih berkeliaran di luar saja dan baru pulang pada tengah malam.
Di samping kamarku ada seorang bapak-bapak. Dia sedang menempuh pendidikan S-2 di Unsyiah. Saat aku tidak bisa tidur, selalu saja melihatnya, dia tersenyum. Pada suatu malam aku sempat mengeluh padanya karena susah tidur. Kemudian bapak itu membacakan sebuah hadist dan memperlihatkan sebuah buku yang berjudul: Keutamaan Salat Tahajud, dan aku malu sudah bertanya padanya.