Menulis dan memasak adalah dua aktivitas yang berbeda, namun jika di amati lebih dalam keduanya memiliki kesamaan. Apa itu??
Skill
Skill atau keahlian adalah salah satu kunci untuk melakukan keduanya. Dan untuk menguasai suatu keahlian pada bidang tertentu, dalam hal ini adalah memasak dan menulis tentu tidak bisa seketika.
Butuh waktu yang tidak instan seorang penulis untuk menghasilkan sebuah karya. Begitu juga dalam keahlian memasak.
Aku sering mendengar orang mengatakan, kemampuan menulis saya ini adalah bakat terpendam, keahlian memasak ini adalah bakat terpendam. Nah yang jadi pertanyaan, kenapa terpendam??
Ini seperti sebuah pisau, ambilah pisau dari dapur perhatikanlah baik-baik pisau yang sering digunakan dan pisau yang jarang terpakai. Tentu terlihat sekali bedanya mana yang tajam, mana yang menjadi semakin tumpul.
Aku percaya dalam diri seseorang memiliki suatu talenta yang sudah dianugerahkan Tuhan, hanya saja terkadang kita enggan untuk melatih atau mengasah ketrampilan itu.
Seperti pisau yang tidak pernah digunakan, secara fisik pisau itu nampak masih baru dan tajam tapi coba lihatlah kemampuannya untuk memotong kemudian coba bandingkan dengan pisau yang sudah sering diasah, sering dipakai. Beda bukan?
Begitulah skill yang dimiliki masig-masing orang. Semakin sering terasah maka kemampuannya semakin bertambah.
Menulis merupakan sebuah aktivitas yang menyenangkan, aku yakin pada dasarnya tiap orang memiliki kemampuan ini. Karena sejatinya menulis adalah bercerita lewat kata, hanya saja yang membedakan kenapa ada orang yang bisa menulis dengan ide-ide cemerlangnya sedang di sisi lain ada orang yang terbata-bata saat merangkai kata menjadi rentetan kalimat yang manis.
Memasak terlihat seperti aktivitas sepele yang kerap dilakukan ibu rumah tangga bahkan asisten rumah tangga. Tapi menurutku memasak adalah pekerjaan sulit, tidak bisa orang menghasilkan masakan yang enak hanya dalam satu kali praktek.
Ada yang mengatakan keahlian memasak seorang wanita akan terasah saat memasuki kehidupan rumah tangga. Dan aku, aku nggak percaya dengan pendapat itu karena nyatanya kemampuan memasakku sampai saat ini masih standart, hahhaa.
Memasak juga butuh belajar, lihatlah ada banyak sekolah chef untuk melahirkan seseorang yang handal dibidangnya. Atau amati mereka yang kesehariannya memasak dan memasak, tentu cita rasa masakan yang dihasilkan semakin hari semakin mendekati sempurna.
Menulis dan memasak tidaklah membutuhkan ilmu khusus, yang diperlukan hanyalah kemauan untuk terus mengasahnya setiap hari.
Jika ingin kemampuan menulismu bertambah, latih dan paksalah setiap hari untuk menulis.
Jika ingin keahlian memasakmu bertambah, cobalah terus memasak setiap hari.
Ya dengan demikian menulis itu layaknya sebuah aktivitas memasak, disinilah tugas si penulis menambahkan bumbu dan bahan untuk diolah menjadi sebuah tulisan.
Susah ya?
Wajarlah, jika segalanya terasa mudah kita tidak akan pernah tau bagaimana sebuah proses belajar.
Jika kau ingin menulis, menulislah
Jika kau ingin memasak, memasaklah,
Tapi jika kau ingin kedua-duanya ambilah selembar kertas dan pulpen tulislah apa yang hendak kau masak hari ini. Tulislah dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa masakan ini kau tujukan untuk siapa. Bukankah seperti ini juga sebuah proses belajar?
Selamat menulis ya..
Sampai jumpa postingan selanjutnya....
Terima kasih kepada Kurator Indonesia @aiqabrago dan
@levycore, serta Komunitas Steemit Indonesia atas dukungannya.