Kehidupan manusia selalu dihadapkan pada berbagai masalah baik yang dihadapi tersebut berdampak positif maupun negatif. Kehadiran masalah dalam kehidupan dapat dijadikan sebagai ujian yang wajib dilalui dengan berbagai macam halangan dan rintangan. Keberadaan ujian dan tantangan hidup membutuhkan sebuah sikap yang tenang dan santai dalam menghadapinya, agar umat manusia mampu melewati setiap tantangan tersebut serta mampu mencarikan jalan keluar dari setiap masalah yang ada mampu diatasi dengan baik. Di sisi lain, hidup yang dilandasi dengan berbagai masalah akan menjadikan umat manusia semakin bertambah dewasa, karena dengan masalah, seorang manusia akan lebih berfikir positif untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Oleh karena itu, setiap manusia diharuskan untuk mampu mengelola setiap cobaan dan ujian yang dihadapinya melalui sebuah sikap tenang. Ketenangan ini hanya mampu oleh dilalui orang yang memiliki sikap sabar, baik dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar maupun dalam menghadapi segala ujian atau musibah yang menimpanya. Kesabaran hanya mampu dipupuk oleh orang-orang yang memiliki tingkat keimanan kuat kepada Allah SWT. Keimanan seorang hamba kepada khaliqnya akan mampu memahami dan mengelola setiap ujian yang datang dalam kehidupannya. Akan tetapi, jika tidak mampu mengelola ujian dengan baik, maka sikap sabar tidak akan timbul dalam diri umat manusia, karena sabar merupakan sebuah sikap yang mampu menghadapi ujian dengan tabah dan tenang. Dalam hal ini, pepatah yang mengatakan kesabaran ada batasnya tidak berlaku bagi orang yang memiliki tingkat keimanan yang kuat. Artinya, sabar dalam menghadapi ujian hidup bagi orang yang beriman tidak memiliki batas, karena mereka menganggap bahwa semua ujian dan cobaan itu datangnya dari Allah SWT, sehingga orang yang berhasil melalui cobaan termasuk orang-orang yang mendapat perlindungan Allah SWT.
Sabar merupakan sikap tabah yang dimiliki seseorang dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, baik yang berhubungan dengan ketaatan dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam hal menghadapi cobaan hidup dalam bentuk musibah. Dalam hal ini, Hasbi Assh-Shidieqy mengemukakan bahwa “sabar merupakan produk dari mengingat janji-janji Alah yang akan diberikan kepada orang orang yang rela memikul kesusahan melaksanakan amal-amal bakti yang sukar dikerjakan, rela menanggung kepahitan karena mengekang diri dari syahwat yang diharamkan serta ia sadar bahwa segala bencana itu dari perbuatan Allah dan dari tasharruf-Nya kepada makhluknya.
Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa sabar timbul dalam diri manusia disebabkan oleh kemampuan manusia dalam mengingat janji-janji Allah SWT, dan Allah SWT tidak pernah ingkar terhadap janji-Nya. Oleh karena itu, sebagai makhluk-Nya, manusia diharuskan memiliki sifat sabar dalam menghadapi berbagai kejadian yang dihadapi dalam hidupnya. Kesabaran terhadap segala sesuatu yang menimpanya juga termasuk bukti kedekatan manusia dengan Allah SWT.