Di negeri Arab sana ribuan tahun yang lalu, menjadi ibu adalah pilihan orang lain untuk ku. Jika dari pertama kali aku melihat dunia aku dianggap aib yang harus disembunyikan atau disingkirkan, maka merekalah yang memutuskan apakah aku boleh mendapat kesempatan menjadi seorang ibu.
Disini ratusan tahun yang lalu menjadi ibu adalah suatu keharusan. Lagi- lagi, orang lain yang memilihkan apakah aku pantas menjadi seorang ibu. Mereka memilih bibit, bebet dan bobot ku.
Saat ini akulah sendiri yang memutuskan untuk menjadi atau tidak menjadi ibu. Walaupun masih ada paksaan dan bujukan orang terhadap keputusanku, tak lagi begitu masalah saat aku tidak menerima pilihan orang terhadap diriku untuk menjadi ibu.
Dari ribuan tahun lalu cara aku menjadi seorang ibu berubah, kekuatan paksaan orang untuk aku menjadi ibu juga berubah. Tak ayal, cara aku menjalankan peran ku sebagai ibu berubah. Lembut kah, Kasar kah, di rumah kah, di luar rumah kah, bersama anak kah, jauh dari anak kah, .... saat aku memilih menjadi ibu maka aku rasa, aku tetap seorang ibu dengan kekurangan dan kesempurnaan ku sebagai ibu.
Aku tetap dirindukan sebagai ibu...
Jika aku menjadi ibu yang kasar atau lembut,, maka yang dirindukan adalah kelembutan ku. Jika aku di rumah, diluar rumah, aku dekat, atau aku jauh maka yang dirindukan oleh anak- anak ku adalah kebersamaanku dengan mereka Saat aku telah tiada, maka yang dirindukan dariku adalah kembalinya aku dan keberadaanku.
Dalam beberapa kenyataan mungkin bukan aku yang memilih diriku untuk menjadi ibu, bukan orang lain pula yang menjadikan aku ibu, tapi selama aku dianugrahi "rahim" maka aku adalah seorang ibu. Rahim itu lembut, begitu juga aku. Rahim itu kuat dan kokoh begitu juga aku. Rahim mampu memberi kasih sayang dan rasa aman begitulah pula kemampuanku.
Saat aku menjadi ibu, dengan atau tanpa diketahui oleh anak- anak ku, seperti apapun perwujudan dan kemampuan ku yang ku hadir didepan anak- anak ku; hatiku tetaplah hati ibu; tangisku tetap tangis seorang ibu; tawaku, marahku, diamku, teriakan ku, dan senyumku, tetaplah tangis, tawa, marah, diam, teriakan, dan senyuman seorang ibu.
Dan do'aku tetaplah do'a seorang ibu.
Tuhan...( tanpa ku munajatkan pun) tidak pernah menggantikan keindahan, kekuatan, dan kepastian do'a dari ku. Ya! Karena aku adalah IBU....