Manusia secara teori disebut juga makhluk sosial. Makhluk yang butuh bantuan/pertolongan pihak lain, dan tidak
Menurut Aristoteles dengan Zon Politicon dalam kompasiana.com, mengatakan pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia yang lainnya yang kemudian menghasilkan bentuk kelompok masyarakat. Hal ini disebut makhluk sosial. [source: Kompasiana.com]
Pengaruh ekonomi masyarakat yang kian hari makin terjepit menjadi faktor manusia zaman now terlihat individualis, sikap/sifat ini dulunya menyelimuti manusia yang ada diperkotaan saja. Namun, sifat individual ini pula sudah mulai merambah ke desa-desa, masyarakat seakan acuh tak acuh terhadap sesamanya dan mereka hanya repons pada keadaan kroni (keluarga/kerabat dan teman sejawat). Sikap yang berbentuk kebersamaan memudar dilingkungan mereka dikala sang pemimpin mengajak pada suatu kegiatan sosial. Memang manusia
Manusia diciptakan oleh manusia adalah sama tujuan akhir yakni untuk menyembah-Nya. Tidak ada yang berstatus super power atau "raja segala raja" dikalangan manusia, sekali lagi statusnya sama terkecuali ketaqwaan pada Tuhan Allah SWT.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Intinya, makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dan perlu atau butuh pertolongan pertolongan, melindungi, mencintai dan memberikan dukungan sesama (أَوْلِيَاء بَعْضٍ ). Perbedaan yang ada dalam kehidupan tidak menghalangi dari nilai manusia sebagai makhluk sosial, terlebih lagi beda pemahaman berfikir yang menjadi warna mengarungi hidup dan beribadah pada-Nya. Wallahul Alam.