Poetry

Words
183
Reading
1 min
Listen
Play
8y

image

DENTINGAN MENIT MEMUTAR ARAH
Muklis Puna

Kau dan Aku dalam antrean pada gelapnya lorong
Kau pendobrak gerbang istana
Tali pusar melilit di jalanmu
Aku merangkak di ujung lorong,
menyusuri alur bulan menuju sabit

Dentingan menit memutar arah
Kau tergesa-gesa menopang langit
Darah persalinan bunda masih menetes di mata kaki
Ari- arimu belum habis disantap belatung,
Kau sudah berlarian menjengkal bumi dan matahari

Aku memikul ragu di pundak
Barisan pulau menjalar di jidatku
Danau peluh terlalu dalam di lesung pipi
Kenapa jasadmu tak membekas bayang
Kenapa kakimu tak mencium tanah
Atau mungkin Kau jelmaan selingkuhan malaikat

Kau dan Aku berada dalam kereta panjang
Adakah kau dengar raungan peron , merangkak menuju akhir kalimat hidup
Aku tlah kau campakkan dalam jarak tak berrentang
Padahal setelah kau dahaga dengan susu bunda,
Aku menyusul giliran

Kini, tlah kulepaskan pelukan harapan
Jemari tak lagi merangkul kepalan
Lengan kubiarkan sejajar bahu
Mataku tlah kuberi tirai
Sang pemburu nyawa merampas harapanku pada jiwamu yang angkuh

Aku tetap menanti di ujung lorong
Saat waktu mengundang pulang
Antrean kini membuncit mengapit masa
Penngait mu patah digilas peron kereta

Lhokseumawe, 8 Mei 2017

Poetry | Ecency