Jeungki Image Source
Sometimes the idea does not appear When we are busy looking for it everywhere and ask anyone we encounter. The idea emerged at a time of unpredictable, Sometimes he arrived on time we're busy working or are driving a vehicle. In my case so want to write this article about technology, the idea of writing that will be set forth in the next paragraph is precisely born while I clean my home page.
Previously, I've never written about the technology that is currently already a requirement i.e., laptops. however, in this occasion I wanted to write a bit about the traditional technology named Jeungki (in aceh).
What Is Jeungki ..??
students learn about jeungki Image Source
Not know it will not appear anyway adoringly, before leaving for further It's good we know ahead of time what is "jeungki". Jeungki or there are also some people of aceh call it "jengki", is a tool for pounding rice into flour, mashing all the ingredients in ie bu peudah (traditional cuisine), and also rice or sago mashing. For the last two I have never seen it.
Jeungki made of sstrong and hard wood as merbau, this is so that the jeungki can be used or used in a long period of time, In addition heavy wooden can also generate collision results good quality, due to the pressure of the wood is also hard. In the division, jeungki consists of two types of the first is jeungki ie (air-red) and the second is jeungki that require human power to work. [ Source ]
The Parts At Jeungki.
Bagian Leusong Image Source
Jeungki is a single entity name the other part consists of several that has a different name as well as functions that are not the same. However, at the time of manufacture all components that are interconnected each other, the first is the "Jeungki, next is "Alu", and the last is "leusong".
During the process of workmanship jeungki is driven by human by way of stepping on the part jeungki. So that jeungki up and down, then needed a pair of skeleton that is as high as 1 m, the framework is attached to a two with a wood useful for create jeungki moves up and down. If the best friend ever step on the part of jeungki, certainly we feel is footing a soft, but the typical produce and hard at the end. [ Source ]
At the end of a long jeungki ranging between 3-4 meters, installed a part named "alu" (aceh language alee-red), ALe that I mean the must be made of strong wood and hard, because his job is mashing and smoothes the existing rice at the dimples.
The other part is the mortar, an instrument made of wood, and also there's the choosing materials of stone, mortar the outer shape and also in the dimples usually a round or square. However, the dimples on the jeungki, usually round-shaped on the inside, in a column that's round put ingredients that want pounded. [ Source ]
Jeungki In Local Wisdom of Aceh People.
students learn about jeungki Image Source
Take a look and find out There are three components that are present in the jeungki, then of course we understand that every time jeungki surgery, means need people totaling more than one (many-red). There are people who work step on the part of jeungki, usually there is some.
Also on duty at the dimples, for this section need people who have the skill level of the gods. Why ..? because the needed dexterity and speed in arranging material collisions and also so that such materials out of zones dimples, and last for the hand of people that working in the dimples are not exposed to lacing alu.
Jeungki teaches how to a good cooperation and it also has a social value among the people of aceh. It can be seen at the time of mashing with jeungki, and there also silaturrahim between people staying awake.
The conclusion.
As a native Acehnese, I am very proud because there are tools or traditional technology that could bring together togetherness and also membagun kokompakan between citizens. But on one side I also terhenyak because it populations jeungki increasingly rare from time to time, jeungki already lost prestige with modern technology.
If in the past every home in the countryside have jeungki each, Nowadays it has changed. Now, maybe in one gampong (village-red) There are only a few jeungki only. It seems to me, though jeungki already lost prestige with modern technology in this case it is polishing technology of rice or rice.
we have the right to introduce jeungki to the young people who live in the Millennial age, so that they understand and know that jeungki not simply a tool penumbuk/polishing, but he was also as a container social significance will be loaded.
Bahasa Indonesia
Jeungki Image Source
Terkadang ide tidak muncul ketika kita sibuk mencarinya ke mana-mana dan bertanya pada siapa pun yang kita jumpai. Ide muncul pada saat tidak terduga, kadang kali ia tiba pada saat kita sedang sibuk bekerja atau sedang mengendarai kendaraan. Dalam kasus saya sehingga ingin memnulis artikel tentang technology ini, ide tulisan yang akan termaktub di paragraph berikutnya justru lahir sewaktu saya membersihkan halaman rumah.
Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang teknologi yang saat ini sudah menjadi kebutuhan yaitu, laptop. Namun, dalam kesempatan ini saya ingin menulis sedikit tentang teknologi tradisional yang bernama Jeungki (dalam masyarakat aceh).
Apa Itu Jeungki..??
Tidak kenal maka tidak akan muncul pula rasa sayang, sebelum berangkat lebih jauh ada baiknya kita mengenal lebih dulu apa itu “jeungki”. Jeungki atau ada juga sebagian masyarakat aceh menyebutnya “jengki”, adalah sebuah alat untuk menumbuk beras menjadi tepung, menumbuk segala bahan dalam ibu peudah (kuliner tradisional aceh), dan juga menumbuk padi ataupun sagu. Untuk ke dua nama terakhir saya belum pernah melihatnya.
Jeungki terbuat dari bahan kayu yang kuat dan keras seperti kayu mebau, hal ini supaya jeungki dapat dipakai atau digunakan dalam jangka waktu yang lama, selain itu kayu yang berat juga bisa menghasilkan hasil tumbukan yang berkualitas baik, karena tekanan dari kayu juga keras. Dalam pembagiannya, jeungki terdiri dari dua jenis yang pertama adalah jeungki ie (air-red) dan yang ke dua adalah jeungki yang membutuhkan tenaga manusia untuk bekerja. [ Source ]
Bagian-Bagian Pada Jeungki.
Bagian Leusong Image Source
Jeungki merupakan satu kesatuan nama yang terdiri dari beberapa bagian lainnya yang memiliki nama berbeda serta fungsi yang tidak sama. Namun, pada saat pengerjaan semua komponen itu saling berhubungan satu sama lain, yang pertama adalah ”Jeungki, kemudian “Alu”, dan yang terakhir adalah “leusong”.
Seaktu proses pengerjaannya, jeungki digerakkan oleh manusia dengan cara menginjak bagian jeungki. Supaya jeungki naik turun, maka diperlukan sepasang kerangka yang setinggi 1m, ke dua kerangka tersebut disambung dengan sebuah kayu yang berguna untuk membuayt jeungki bergerak naik turun. Jika sahabat pernah menginjak bagian jeungki, tentu yang kita rasakan adalah injakan yang lembut, namun menghasilkan suara yang khas dan keras di ujungnya. [ Source ]
Pada ujung jeungki yang memiliki panjang berkisar antara 3-4 meter, dipasang sebuah bagian yang bernama “alu” (alee-bahasa aceh red), ale yang saya maksud tersebut harus terbuat dari kayu yang kuat dank eras, karena tugasnya adalah menumbuk dan menghaluskan beras yang ada di bagian lesung.
Bagian lainnya adalah lesung, sebuah alat yang terbuat dari kayu, dan juga ada yang memilih bahan lesung dari batu, bentuk luar dan juga dalam lesung biasanya bundar atau persegi. Namun, lesung yang ada pada jeungki, biasanya berbentuk bundar di bagian dalamnya, dalam kolom bundar itulah nantinya diletakkan bahan yang ingin ditumbuk. [ Source ]
Jeungki Dalam Kearifan Lokal Masyarakat Aceh.
students learn about jeungki Image Source
Melihat dan mengetahui ada tiga komponenyang terdapat dalam jeungki, maka tenntu kita paham bahwa setiap kali jeungki dioperasi, berarti membutuhkan orang yang jumlahnya lebih dari satu (banyak-red). Ada orang yang bekerja menginjak bagian jeungki, biasanya di sana ada beberapa orang.
Juga yang bertugas di bagian lesung, untuk bagian ini membutuhkan orang yang memiliki skill tingkat dewa. Kenapa..? karena diperlukan kecekatan dan kecepatan dalam mengatur bahan tumbukan dan juga supaya bahan tersebut tidak keluar dari zona lesung, dan juga supaya tanga orang yang bekerja di lesung tidak terkena hantaman alu.
Jeungki mengajarkan cara kerja sama yang baik dan juga memiliki nilai social antara masyarakat aceh. hal tersebut bisa dilihat pada saat orang menumbuk dengan jeungki, dan di sana pula silaturrahim antara masyarakat tetap terjaga.
Kesimpulan.
Sebagai warga Aceh asli, saya sangat bangga karena terdapat alat atau teknologi tradisional yang bisa menyatukan tali silaturrahim dan juga membagun kokompakan antar warga. Namun di satu sisi saya juga terhenyak karena populasi jeungki semakin langka dari waktu ke waktu, jeungki sudah kalah pamor dengan teknologi modern.
Jika dahulu setiap rumah di pedesaan memiliki jeungki masing-masing, dewasa ini hal tersebut sudah berubah. Sekarang, mungkin dalam satu gampong (desa-red) hanya terdapat beberapa jeungki saja. Hemat saya, meskipun jeungki sudah kalah pamor dengan teknologi modern dalam hal ini adalah teknologi penghalus padi atau beras.
Sudah sewajibnya bagi kita dan para orang tua, guru, untuk mengenalkan jeungki kepada muda-mudi yang hidup di zaman milenial ini, supaya mereka paham dan tahu bahwa jeungki bukan semata alat penumbuk/penghalus, melainkan ia juga sebagai wadah yang sarat akan makna social.
Link Referrences :
www.facebook.com
www.travellinkinfo.com
suaatjeh.blogspot.co.id
budaya-indonesia.org
portalsatu.com