Seperti janji saya pada postingan sebelumnya, pada postingan ini saya akan berbagi tentang pengalaman saya yang berkaitan dengan menulis.
Sejak baru bisa membaca, saya langsung suka membaca. Saya membaca apa saja (kecuali buku pelajaran). Misalnya jika sedang jalan-jalan dengan orang tua, saya selalu minta agar berkendara pelan-pelan saja, tujuannya agar saya bisa membaca setiap nama toko yang saya lewati. Iya, setiap nama toko di pinggir jalan. every one of it. Seringkali keinginan anak perempuan pertamanya yang sedang gemar membaca dituruti dengan sabar.
Ayah saya selalu membelikan bahan bacaan sesuai permintaan. majalah bobo dan majalah Donald Duck adalah favorit saya. Saya lebih cenderung suka majalah, tidak suka komik. Karena kalo komik, sudah ada gambarnya. Sedangkan jika majalah, gambarnya hanya sedikit, selebihnya saya bebas menggunakan imajinasi.
Saat SMP, saya sekolah di sebuah pesantren di pusat kota Banda Aceh. Saya mulai mengenal majalah Annida yang banyak memuat cerita singkat tentang kehidupan muslimah, novel-novel Asma Nadia, dan tentu saja majalah hidayah tentang siksa kubur, azab, dan lai-lain you name it. Bacaan khas anak pesantren.
Karena tinggal di asrama, tidak banyak hiburan yang bisa saya nikmati. Semua sudah terjadwal. Mulai dari bangun subuh hingga tidur malam. Saat sedang bosan, saya berpikir untuk mencoba menulis cerita. Saya mengambil buku tulis yang masih kosong, lalu semua mengalir begitu saja. Saya menulis (saya menyebutnya novel) yang berjudul “Ada Apa Denganmu”. Karena saat itu sedang booming lagu Peter Pan dengan judul yang sama.
Ada Apa Denganmu versi saya mengisahkan tentang remaja perempuan yang terlahir kembar dan jatuh cinta pada laki-laki yang sama. Saya menulis hingga penuh satu buku tulis AA 40 halaman. Entah bagaimana saya jadi candu. Saya melanjutkan menulis cerita sambungan ke buku kedua. Hingga musim cacar di pesantren tiba. Iya, musim cacar.
Di pesantren, penyakit menular menyebar dengan sangat mudah. Teman saya, Cut Meurah Salmiyah namanya. Dia tidur tepat di ranjang disamping saya. Dia satu-satunya orang yang membaca tulisan saya saat itu. Hingga akhirnya, dia harus pulang karena mendapat giliran cacar.
Saat kembali ke pesantren, mimi (begitu ia akrab disapa) langsung mencari saya. Ia bercerita bahwa cerita yang saya tulis persis sama dengan sinetron yang ia tonton, judulnya juga sama! Saya kaget! Bagaimana bisa persis sama?
Seperti sudah diatur, tiba saatnya giliran saya kena cacar. Izin pulang ke rumah seminggu karena cacar, saya menonton sinetron yang diceritakan mimi. Ternyata benar sama. Saya ingat sekali, sinetron itu diperankan oleh Alyssa Soebandono. Saya tidak habis pikir. Tulisan bocah SMP di sela kebosanannya bisa sama dengan sinetron. Saya merasa ide saya tidak ada bedanya dengan yang lain. Terlalu klise sehingga sama dengan yang lain. Sejak saat itu, saya berhenti menulis.
Hobi membaca tetap berlanjut, saya membaca novel setiap hari. Mulai dari teenlit yang saya sewa di Desperado Jambo Tape (Generasi saya pasti tau), menjadi penjaga pustaka gampong yang penuh dengan buku, novel, komik, bantuan dari Save the children pasca tsunami, hingga Harry Potter yang menjadi favorit saya hingga detik ini.
Pada awal kuliah, saya mengikuti pelatihan pembangunan berkelanjutan. Saat itu ada sesi menulis. Bapak Teuku Kemal Pasya yang menjadi narasumbernya. Saat itu, peserta diajak menonton film Slumdog Millionaire dan meminta kami untuk menulis tentang apa saja terkait film itu. Sudah 5 tahun saya tidak pernah menulis. Sehingga saya merasa keseulitan untuk memulai ketika yang lain sudah hampir selesai.
Saya kesulitan memilih kata pertama. Walaupun saya ingat apa yang dikatakan narasumber “Cara paling jitu untuk memulai menulis adalah MENULIS”. Setelah menarik nafas dalam-dalam, saya mulai menulis saat ada beberapa peserta yang mengumpulkan hasil tulisan mereka. Setelah selesai, Pak Kemal memilih 3 tulisan terbaik, termasuk tulisan saya. Kaget? Iya.
Sepulang dari pelatihan, saya membuat blog. Sempat menulis beberapa tulisan, lalu vakum. Tahun depannya buat blog baru. Menulis beberapa tulisan, lalu vakum lagi. Kenapa? Saya masih belum percaya diri untuk share tulisan saya ke Facebook seperti yang dilakukan beberapa blogger lainnya agar ramai dikunjungi. Jadinya blog saya sepi pengunjung dan saya tidak memiliki stimulun untuk menulis. Padahal, saya punya banyak cerita untuk dibagikan. Hufh!
Sekarang, semoga melalui steemit dan tentunya dengan dukungan dan dorongan dari teman-teman steemit, saya bisa melanjutkan menulis. Walaupun jauh dari sempurna, setidaknya saya punya wadah untuk berbagi pengalaman, ide, atau bahkan sekedar cerita yang tidak terlalu penting, yang penting menulis.
Thank you for Visiting
Have a blessed life
See you on my next post