Copy paste

Words
2582
Reading
12 min
7y
Listen to this post
~17 min

Skip to content

Jejakandi

MENU

CERITA PANJANG, FIKSI, KATANYA SASTRA

Damayanti & Nala : Terlantarkan Di Belantara Tak Bernama

Posted by JEJAKANDI on 17 SEP 2016

“Bumbu masak, sayuran dan buah-buahan segar, dia pasti pergi untuk mengumpulkan itu.” Pikir Damayanti, ketika ia terjaga dari tidurnya, dan menyadari tak seorang pun di sisinya. “Nala?” Namun gung liwang-liwung itu senyap sekali. Suatu hal sedang berjalan tidak seperti sebagaimana seharusnya.

“Nala?”

Ia lalu bangkit dan berjalan diantara lebatnya pohon-pohon raksasa dan berseru memanggil, “Nala!”

Tak ada jawaban.

Mulai menjadi panik maka berteriak-teriak keras-lah putri raja Bhima dari Vidarbha itu. Suaranya menggema di seluruh hutan, “Rajaku! Nala!”

Masih tak ada jawaban, bahkan sahutan dari pepohonan pun tidak.

“Wuaaaaaa, kekasihku telah pergi,” ia meratap. Dalam kepanikan itu, ia marah, frustasi dan menjadi setengah gila, menanyai setiap pepohonan di hutan: “Dimanakah Nala? Dimanakah Raja Nishada berada? Adakah dia menelantarkan aku di hutan ini? Bagaimana ia bisa begitu tega? Lelucon kejamkah ini, yang dimainakan oleh lelaki gila yang kehilangan segalanya di hutan? Nala!”



Sekarang ia menangis tersedu-sedu seraya berjalan berkeluyuran di belantra tak bernama, sepenuhnya tersesat, sebab ia telah lupa jalan menuju Vidarbha, lupa pada tanda yang pernah ditunjukkan oleh Nala padanya. Lalu ketika ia melihat semak-semak yang bergerak-gerak, seseorang mungkin sedang bersembunyi, dia menjerit. “Nala!”

“Kamu kah itu? Keluarlah dan hentikan permainan ini, ini sudah tidak lucu lagi, dan ayo lekas pergi ke Vidarbha menemui ayahku.”

Lantas ia berlari menyisir hutan yang rapat diantara pohon yang satu menuju pohon yang lainnya, menyesatkan dirinya sendiri masuk lebih jauh kedalam kegelapan hutan hingga akhirnya ia mencapai gorong-gorong dalam yang berada tengah hutan dan tidak lagi bisa pergi lebih jauh. Semula dia mengira akan dapat mengikuti jejak yang beberapa membekas di atas tanah di tanah. Tapi itu hanya jejak binatang buas yang menghilang dan berakhir ke dalam gorong-gorong.

“Wuaaaaa,” Ia mulai menangis lagi. ”Nala!” Ia meratap seperti janda, tersesat dalam nestapa, air mata jatuh menodai pipinya yang mulus tak bernoda. Akhirnya, dia duduk lemas pada sebuah batang pohon kering di antara rumput-rumput liar nan tinggi di tepi gorong-gorong. Berduka cita, bercucuran air mata dan tak ada yang menghiburnya.

Tatkala ia menangis, seekor ular ganas dan sangat kuat keluar dari bawah batang pohon. Karena tenggelam dalam kesedihan, dia tidak menyadari bagaimana ular itu mulai merayap melingkari kakinya, dalam sekejap perempuan itu pun tertangkap kedalam belitannya, dan ketika sadar itu sudah sangat terlambat.

“Nala!” dia menjerit histeris ketika ular itu membelit semakin kuat. “Tolong aku!”

Tetapi kini Nala sudah sangat jauh entah dimana dan tidak mendengar jeritan putus asa isterinya. Roh Kali telah merasuki jiwa Nala menjadi bagian lain dari kegelapan hutan dimana dia berkelana dan tersesat.

Kebetulan, ketika itu ada seorang pemburu yang sedang menempuh perjalan untuk mencari mangsa. Dia sudah lama menelusuri jejak seeokor rusa jantan yang telah mencebur kedalam air di serokan. Mendengar jeritan seorang perempuan, dia terkejut lalu berlari ke arah dimana kini Damayanti duduk menggeliat tak berdaya, berjuang melawan ular besar yang mengerikan, kuat dan tetap bergeming ketika dipukul.

Sang pemburu menarik busur, seketika panah itu kemudian melesat menghujam ular tepat di kepalanya. Damayanti menggeletarkan tubuhnya membebaskan diri, lalu si pemburu tahu-tahu sudah menangkap ular itu dan mengeluarkan kapak yang tajam yang terselip di pinggangnya dan dengan sekali tebas ia memotong binatang melata itu. Seketika ular itu mati terbunuh.

Melihat darah hitam muncrat dari kepala ular yang terputus itu, Damayanti pun jatuh pingsan.

Sang pemburu merasa kasihan dengan gadis yang tersesat di hutan itu, ia lalu membawanya ke sungai dan membasuh dahinya dengan air dingin. Dan ketika Damayanti telah siuman, ia memberinya makan dari perbekalan yang dibawanya dan memberinya buah-buahan segar dan air minum. Merasakan ketakutannya reda dan kelaparan terobati, Damayanti berterimakasih pada sang pemburu dan tersenyum.

Sang pemburu pun terpesona dengan kecantikan Damayanti. Dan karena basah oleh air yang bercucuran sejak perjalanan di hutan mencari Nala, blus penutup badanya terlihat lekat dan ketat, membuat setiap lekuk tubuhnya yang langsing dan semok kentara sekali. Dan tatkala Damayanti sedang makan, sang pemburu pun memegang tangannya, di penuhi dengan gairah.

“Oh, gadis hutan yang bermata hijau,” katanya. “Oh dinda cantik yang tubuhnya segesit rusa, siapakah engkau? Mengapa engkau berada di hutan yang gelap ini?”

Hampir pingsan karena ketakutan, mata Damayanti membelalak. Siapa pria ini? Ia mempermainkannya dengan sanjungan kata-kata yang manis.

Sang pemburu mulai berani dan memegangi Damayanti lebih kuat. Sang pemburu telah mabuk kepayang, dalam imajinasinya ia tengah menatap Damayanti sudah setengah telanjang, hanya sedikit pakaian yang menutupi tubuhnya. Ia dengan buas memelototi payudaranya yang penuh dan pinggulnya yang bulat, lehernya yang jenjang tangannya yang lembut dan betisnya dan pahanya yang mulus, dia menjadi terbakar oleh birahi.

Kemudian ia menggerataki wajahnya yang seperti bulan purnama, matanya yang berseri seperti bunga seroja dengan bulu-bulu mata yang lentik, dia menjadi semakin gila dan penuh nafsu.

Damayanti yang masih suci pun terkejut. Dia mengayunkan sang pemburu, mendorongnya, dan murka “Beraninya kau menyentuh ratu dari Nisadha!” katanya berang. “Nala akan membunuhmu.”

Pemburu itu tertawa. “Siapa Nala? Kita sendirian di hutan ini. Barangkali itu adalah karma, nubuat untuk kita, takdir kita berada bertemu disini dan bersama.” Katanya. Sang pemburu mengeluarkan pisau dan mengosok-gosokkan bagian yang tajam dengan ibu jarinya. Dia menyeringai lalu merenggut lengan Damayanti. “Apa yang tidak diberikan dengan suka rela dan cinta,” katanya, “bisa di ambil dengan paksa.” Ia memamerkan pisau nan mengkilat di genggamannya, tujuannya sudah jelas.

Pemburu melirik dan menarik tubuh Damayanti lebih dekat kedalam genggamannya. Tetapi Damayanti, perempuan suci dan beriman pada Tuhan-nya, mengutuknya, “Jika aku seorang istri Nala yang sah dan belum berdosa, jika aku masih murni dan tak tercampuri oleh perbuatan nista, maka biarkan makhluk buas ini mati tersungkur di tanah.” Begitu kutukan Damayanti terlontar, pemburu bejat itu seketika tewas ambruk di tanah, seperti pohon yang roboh tersambar petir.

Setelah tewasnya sang pemburu, Damayanti pun seorang diri mulai berjalan lagi menjelajahi hutan belantara yang menyeramkan, mengancam dan penuh bahaya. Terdengar bunyi jangkrik yang mengerik menjadikan hutan yang gelap semakin mencekam. Dia kemudian berjalan lembut dan hati-hati melewati gua singa, melintasi tempat persembunyian harimau, rusa, banteng dan binatang buas lainnya. Berbagai jenis burung beraneka warna berlompatan dari dahan-kedahan. Hutan ini tak berpenghuni sebab disana hidup banyak kanibal dan bangsa pemakan daging manusia. Damayanti lalu mengambil jalan menjauh melewati sarang manusia-manusia rakus dan para pencuri, dimana manusia-manusia liar dan perampok tinggal.

Pelbagai pohon tumbuh di hutan itu dari pohon bambu hingga pohon beringin, kemudian pohon buah-buahan; jambu, mangga dan nangka lalu pohon besar dan berbatang kuat pohon asam dan kayu eboni. Dia kemudian berjalan melewati rumpun apel merah dan mangga, lalu melewati kebun tebun. Ia mengambil jalan dimana banyak bunga yang mekar: Seroja, Dahlia dan Melati. Ia kemudian berhenti di bawah ribunan pohon ara yang bayangannya meneduhinya dari matahari yang menyengat dan pohonnya menjatuhkan buah. Ia memakan buah ara yang jatuh itu.

Ia mulai melangkah lagi memasuki lipatan hutan selanjutnya, kini mencapai rumpun pohon beringin yang sudah sangat tua. Sulur-sulur beringin yang rumit, ruwet dan kusut menjulur-jurlur menghambat jalannya untuk mencapai sungai kecil. Sungai dan anak sungai mengalir deras melalui hutan melalui rawa-rawa. Sekarang rumpun pohon lebih bermacam-macam lagi. Dan Damayanti menyusuri rumpun demi rumpun, tersesat, masih mencari suaminya Nala yang telah dikuasai oleh roh Kali.

Ketika dia telah melewati tempat yang rimbun, celah-celah gunung nampak kehijauan, danau dan pantai nampak lembut seperti genangan kristal. Burung-burung dan binatang buas segala bentuk dan jenis pun berkeliaran disana di hutan yang penuh demit, lelembut, peri dan kurcaci. Dia terheran dengan banyak rupa tempat persinggahannya ke hutan itu. Tetapi tidak dimanapun ia melihat gerangan Nala berada. Kemudian dia merana lagi seperti sia-sia mencari. Setiap tubuhnya menggingil oleh penderitaan.

Di telah berjalan melenceng semakin jauh sejak lupa jalan menuju Vidarbha, kelaparan dan stress karena terpisah dengan suaminya, dan ia mulai meratap lagi.

Oh Raja Nisadha,
dikau yang perkasa,
berdada lapang dan berlengan kuat,
kemana engkau pergi
dan mengapa engkau meninggalkan daku
di hutan tak bernama?
Oh Tuanku
akankah aku mati sendirian
sengsara di hutan, dicabik-cabik binatang buas?
Duhai, Kekasih,
mengapa engkau meninggalkanku?

Dan Damayanti bangkit lagi dan pergi ke utara sampai berhari-hari ia kemudian mencapai rumpun-rumpun pohon dimana pertapa suci membuat pertapaannya di hutan yang keramat.

I do fall in love to this Damayanti, as a man. As a storyteller I am about to completely love these tale and wish to retell as completed.

Damayanti dan Nala (C) Andy Riyan
Terlantarkan Di Belantara Tak Bernama| jejakandi@jejakandi

Advertisements

REPORT THIS AD

REPORT THIS AD

BAGIKAN INI:

Click to share on Facebook (Opens in new window)

Click to share on Twitter (Opens in new window)

Click to share on Tumblr (Opens in new window)

More

Damayanti Wiwaha "Pernikahan Damayanti"In "CATATANPENA"

Segi Empat #2In "Cerita Panjang"

Segi Empat #1In "Cerita Panjang"

bahasaindonesiabharatayudhaceritacintadamayantiFIKSIKisahnalaramayanasastrawayang

Post navigation

PREVIOUS POSTTeh Pahit Tanpa Gula

NEXT POSTSimply Live Free And Happy

26 CommentsADD YOURS

MOMO TARO says:

17 Sep 2016 at 9:32 pm

Kenapa suka sama Damayanti yang ini?

Like

Reply

JEJAKANDI says:

17 Sep 2016 at 9:41 pm

Oh maybe just like Nala, fall in love since what brahmana told him.

Damayanti, Wilutama dan Kamaratih, aku sudah jatuh cinta sejak mendengar namanya. Dan setelah membaca kisah Damayanti secara menyeluruh oh dia benar-benar istimewa secara manusiawi, dan mulailah mengarang cerita dari kisah itu.

Liked by 1 person

Reply

IMRON FHATONI says:

18 Sep 2016 at 10:06 pm

Mantap. Salam kenal mas 

Liked by 1 person

Reply

JEJAKANDI says:

19 Sep 2016 at 5:37 am

Salam kenal juga, :v

Liked by 1 person

Reply

ANONYMOUS says:

24 Aug 2017 at 11:46 pm

Hehe sesudah baca kisah Damayanti lanjutan, ya saya jadi tau mengapa mas memilih cerita ini..better late than missing..Salaam

Like

Reply

JEJAKANDI says:

25 Aug 2017 at 4:46 pm

Salaaaaam, Mbak Damayanti. Benarkah sekarang tahu mengapa cerita ini dipilih? Atau komentar sebelumnya dipostingan ini telah memberitahukan mu? 

Like

Reply

YANTI says:

24 Aug 2017 at 11:48 pm

Sorry..nama saya kehapus gak sengaja

Liked by 1 person

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 7:26 am

Aku baru selesai membaca ulang sambungan kisah ini. Iyaah aku udah lumayan mengerti mengapa mas memilih diaaa

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:41 pm

Coba mengapa aku memilih damayanti? Kalau kamu bilang karena kecantikannya… salah besar!!

Like

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 7:35 am

Kok aku baru melihat lagi postingan ini..So, mungkin kalau sudah membaca keseluruhan cerita aku akan bertambah mengerti.

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:40 pm

Ya kemana aja sih hahaha… Sebenarnya masih panjaaaaaaaaaaaang banget, tapi mau nyertian kembali aduh butuh waktu. Butuh feel untuk menyesuaikan dengan zaman now

Like

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 7:40 am

Aku jadi memerlukan kamus deh. Ada ‘semok’ ..apa tuh artinya. Lalu ada ‘ menggerataki’, perasaan sih itu kerjaannya tikus. Dan itu penjahatnya lucuuu hwahaha

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:39 pm

semok itu… ah gimana ya, tubuh perempuan yang aduhai dengan segala lekuk kesempurnaannya begitu. Kerjaan tikus mah mengerati bukan menggerataki.

Like

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 7:46 am

Kamu pinter dehh cerita dehh membaca kontras antara kekasaran orang jahat itu dengan kehalusan dan kecantikan Damayanti..

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:38 pm

Ahaaa thank you,

Like

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 7:52 am

Maksudku aku membaca kontrasnya itu

Like

Reply

YANTI says:

9 Sep 2017 at 8:11 am

Eeeh that bad guy is in fact rude and sadis ….Leave me alone 

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:37 pm

The world without wicked, impossible! The world without evil, the good will never happen, the world without its pair… it’s not the world anyway.

Like

Reply

JEJAKANDI says:

16 Sep 2017 at 8:37 pm

The world without wicked, impossible! The world without evil, the good will never happen, the world without its pair… it’s not the world anyway.

Like

Reply

YANTI says:

18 Sep 2017 at 4:15 am

Yeah I must agree….becaoooose the wicked one is you hahahhhha, …….and the good one is….me hihihi

Like

Reply

JEJAKANDI says:

20 Sep 2017 at 9:31 pm

Ahahaha yeah I am the wicked one and I am proud to be who I am. To make other people feel better and more confident and motivated… because there is someone like me who always struggle to be that good, it’s a good thing anyway… Yeah good at least for me.

Like

Reply

JEJAKANDI says:

20 Sep 2017 at 9:31 pm

Hahaha

Like

Reply

YANTI says:

18 Sep 2017 at 4:45 am

Ooo jaddi kisah ini panjang banget dan lamaaa. Kalau nyeritainnya sambil naek gunung bisa nyampe ke Shangri-la, di Himalaya, nanti ketemu putri Manohara yang cantik juga walau gak semok kayak miss damayanti ..


Like

Reply

JEJAKANDI says:

20 Sep 2017 at 9:32 pm

Betuuuuuuulll makanya aku sering frustrasi kalau ada yang pengen aku bikin cerita terus.

Like

Reply

YANTI says:

18 Sep 2017 at 5:02 am

Aduh salah bukan miss damayanti (me no semok). Maksud saya Damayanti Nala..

Like

Reply

YANTI says:

25 Sep 2017 at 4:43 am

Yeah..hey wicked guy.. yeah I’m feeling better and motivated now, though not confident yet.
Bolehlah sekarang..
We are the world
We are the children…A better world for you and all of us.

Like

Reply

Katakan sesuatu/ Say something

Your email address will not be published.Required fields are marked *

COMMENT

NAME *

EMAIL *

WEBSITE

Notify me of new comments via email.

Notify me of new posts via email.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Search for:

CATEGORIES

Categories Select Category CATATANPENA (199) CURHAT (35) DETAK JIWA (19) OPINI (9) prosa (46) FIKSI (68) Cerita Panjang (6) CERPEN (23) minificción (3) MINISERI (12) PUISI (27) FILE (5) FOTO BERCERITA (6) Jejak Tertulis (205) English Corner (28) Experiences Sharing (42) Katanya Sastra (107) Menulis Bebas (22) PoJok Musik (1) Pojok Peralatan (1) Sebuah Kisah (13) LETTER (34) ADVENTURE (3) poems (24) PETUALANGAN (18) Tak Berkategori (4) TANPA HASHTAG (1) TEMAN BERJALAN (6)

FOLLOW BLOG VIA EMAIL

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 682 other followers

FOLLOW

RECENT POSTS

Menjadi Kutu Buku Bukan Jaminan Mutu27 Sep 2019

Review Buku : Angsa Liar – Sampulnya Aja yang Porno, Isi Bukunya Jauh dari Porno21 Sep 2019

Lea, Si Gadis Kecil Dari Avonica3 Sep 2019

Cara Yang Bisa Dilakukan Untuk Meningkatkan Skill dan Hal Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Public Speaking1 Sep 2019

Setelah Itu Lupa28 Aug 2019

POSTS I LIKE



Meneroka Sertifikasi Penulis d…on Manistebu.Com



Beginilah Rasanya Bius Total (…on momo taro



Kyoto, Satu Hari Dalam Musim G… on Cerita Riyanti



The Grass Is Always Greener (S…on Lightscapes Nature Photography Blog



The Story Behind the Image: In…on Lightscapes Nature Photography Blog



Kisah Tolkien: Penulis yang Hi…on Yudhi Herwibowo



Skeletons outside the closeton write meg!

TOP POSTS & PAGES

Menulis Kalimat Langsung

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (Resmi)

Tentang The Fall dan The Silmarillion

Damayanti & Nala : Terlantarkan Di Belantara Tak Bernama

Kapan Harus Ganti Paragraf Baru?

Kopi Fisika

Damayanti Wiwaha "Pernikahan Damayanti"

Aku Cinta Rupiah

Segi Empat #2

Perkin's Country Store and Merry's House

RECENT COMMENTS

jejakandi on Menjadi Kutu Buku Bukan Jamina…bicara on Menjadi Kutu Buku Bukan Jamina…bicara on Menjadi Kutu Buku Bukan Jamina…jejakandi on Menulis Kalimat LangsungNofi Ramadhani on Menulis Kalimat Langsungtheschoolofmaster on Cara Yang Bisa Dilakukan Untuk…jejakandi on Cara Yang Bisa Dilakukan Untuk…

Advertisements

REPORT THIS AD

TWITTER

INSTAGRAM

FACEBOOK

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here:Cookie Policy

Copy paste | Ecency