Color challenge

khaliel(44)
Published in
#blog
Words
247
Reading
2 min
Listen
Play
9y

AKHIR-AKHIR ini, kalau kamu membaca surat kabar atau menonton televisi, berita yang masih disorot ialah kekerasan terhadap anak. Para ahli dan pemerintah pun sepakat bahwa penguatan di keluarga sangat penting untuk mencegah kejadian tersebut.

Di dalam keluarga yang kuat terjalin komunikasi antaranggota keluarga dan interaksi sosial yang hangat. Tahukah kamu, salah satu kesempatan yang mudah untuk menjalin interaksi tersebut ialah lewat makan bersama di rumah.

Makan bersama ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya merupakan media yang baik untuk berinteraksi. Itu karena interaksi juga merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai contoh, ayah, ibu, dan anak-anak memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai keluarga bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai tujuan tersebut, semua anggota keluarga tentu harus berinteraksi dengan baik sehingga masing-masing saling memahami dan membantu.

Bahkan sebuh riset menunjukkan anak-anak yang punya tradisi makan malam bersama keluarga mereka cenderung tidak minum minuman keras, merokok, menggunakan obat-obatan, hamil di luar nikah, bunuh diri, atau mengalami gangguan makan setelah dewasa.

Namun, alasan kesibukan sehari-hari, sering terlambat pulang karena macet di jalan, menjadi penyebab hilangnya kebersamaan keluarga di meja makan. Boleh dibilang tradisi makan bersama di rumah sudah memasuki fase sekarat.

Padahal, menurut psikolog anak dan keluarga Ajeng Raviando, dengan tradisi bersantap di rumah, para orangtua berkesempatan menanamkan nilai-nilai yang akan diangkat dalam sebuah keluarga.

"Hilangnya tradisi makan bersama berhubungan dengan lahirnya generasi yang tak acuh, seperti banyak terlihat saat ini," ujar Ajeng, saat peluncuran kampanye Tupperware Ciptakan Kembali Tradisi Bersantap di Jakarta, beberapa waktu lalu.

image

Color challenge | Ecency