اعادة الجمعة
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
Khaidir Ridwan
[email protected]
MARKAZ BAHSUL ILMI AS-SYAFIÍ
DAYAH ULUMUDDIN
UTEUNKOT CUNDA
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penyusun ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Bantuan & hidayah-Nya sehingga Penyusun dapat menyelesaikan “Makalah Tentang I’adah Jumát” ini. Shalawat dan Salam kepada Nabi Muhammad Rasulullah, juga kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.
Penyusun mengharapkan makalah ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca, dan semoga menjadi amal shalih bagi penyusun di hari akhirat kelak.
Akhir kata Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah turut membantu ini menyelesaikan makalah ini, Istimewa pula kepada seluruh pengurus Markaz Bahsul ilmi As-syafii atas kesempatan yang telah diberikan kepada penyusun.
Uteunkot , 08 Agustus 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG ........................ 1
B. RUMUSAN MASALAH 1
C. TUJUAN PENULISAN 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. PENJELASAN TENTANG IÁDAH DHUHUR 2
B. APAKAH BENAR SHALAT DHUHUR PASCA SHALAT JUMÁT TERGOLONG SHALAT IÁDAH DISYARIATKAN............... 3
BAB III PENUTUP 14
KESIMPULAN 14
DAFTAR PUSTAKA 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam adalah sebuah Agama yang sangat menghargai dan toleransi terhadap keberagaman dan perbedaan pemikiran dan pendapat, baik antar sesama muslim ataupun terhadap Agama lain yang bukan Agama Islam. Hal tersebut dibuktikan oleh berbagai tulisan-tulisan ahli sejarah sejak masa-masa awal penyebaran Islam yang di bawa oleh Rasulullah yaitu Muhammad SAW dengan para sahabat beliau dengan misi memperbaiki Akhlak manusia seluruh dunia dengan cara berdakwah dengan metode uswatun hasanah atau keteladanan dari sikap dan budi pekerti kehidupan beliau sehari-hari yang mencerminkan Ahklak yang mulia dan sikap toleransi terhadap keberagaman kultur sosial masyarakat arab di waktu itu. Sehingga metode penyebaran Islam yang beliau lakukan dengan para sahabatnya dinilai paling berhasil sepanjang sejarah peradaban manusia
Maka dari itu, dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang Hukum Iádah Jumát dengan tujuan agar kita umat Islam mengerjakan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat Islam sesuai dengan yang diperintahkan dan menghilangkan rasa curiga yang berlebihan terhadap sesama muslim.
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENJELASAN TENTANG IÁDAH DHUHUR
Makna Iádah :
I'adah berasal dari kata اعاد-يعيد-اعادة yang berarti mengulangi dan mengembalikan. Berkata Al Fairuz Abadi di dalam kamus Al Muhith hal. 320 : اعاده adalah رجعه. Jadi, maksud i'adah dzuhur adalah mengulangi shalat dzuhur setelah pelaksanaan shalat jum'at berjama'ah
Untuk lebih mempersempit masalah penyusun mengambil beberapa contoh kasus fenomena yang terjadi di Aceh bahwa ada masjid tertentu di sebuah daerah,khususnya di Aceh dibiasakan mengerjakan shalat dhuhur selepas menunaikan shalat Jum'at. Hal tersebut dikerjakan karena tokoh agama setempat beranggapan :
Artinya : Tinggalkan hal-hal yang meragukan engkau kepada yang tidak meragukan. (HR. Nasa’i dan Turmidzi).
Dan shalat iadhah dhuhur secara mutlaq juga haram dilaksanakan bila shalat jumát sudah sah dilaksanakan.
Namun jika taádud jumát karena hajat (kebutuhan) karena di dasarkan alas an yg kuat maka boleh taa’dud dan sunat shalat dhudur karena iktiyad.
Syeikh wahbah Zuhaily menyebutkan tentang hukum shalat Jumát yang Taádud karena hajat sbb :
إن تعددت الجمعة لحاجة، بأن عسر اجتماع بمكان، جاز التعدد، وصحت صلاة الجميع على الأصح، سواء وقع إحرام الأئمة معاً أو مرتباً، وسن صلاة الظهر احتياطاً، فالاحتياط لمن صلى ببلد تعددت فيه الجمعة لحاجة، ولم يعلم سبق جمعته: أن يعيدها ظهراً، خروجاً من خلاف من منع التعدد ، ولو لحاجة. وينوي آخر ظهر بعد صلاة الجمعة أو ينوي الظهر احتياطاً، خروجاً عن عهدة فرض الوقت بأداء الظهر.
• Apabila shalat jum’at berbilang karena ada hajat, seperti sulit berkumpul didalam satu tempat, maka boleh “ta’addudul jum’at” berbilang jum’at, dan sah shalat semuanya menurut pendapat yang lebih shahih. Baik takbiratul seluruh imam itu berbarengan atau secara tertib, dan disunnahkan shalat dzhuhur dengan ihtiyat ( berhati-hati), maka bagi orang yang shalat disatu balad atau wilayah yang berbilang shalat jum’atnya karena ada hajat, dan tidak diketahui terdahulunya jum’at diihtiyatkan mengulang shalat zuhur, karena keluar dari khilaf pendapat yang melarang untuk ta’addud jum’at meskipun ada hajat, dan niat shalat zuhur setelah mengerjakan shalat jum’at, atau niat zuhur karena ihtiyah, agar keluar dari tanggungan kewajiban dalam waktu tersebut dengan mengerjakan shalat zuhur. (Alfiqhul islamy waadillatuhu jild 2: 130)
• Jika melakukan shalat dzuhur, setelah diselenggarakannya shalat jum'at karena berkeyakinan bahwa shalat jum'at tidak menggugurkan shalat dzuhur, maka hukumnya tidak dibenarkan, bahkan menjadi kufur apabila meyakini bahwa pada hari jum'at shalat fardlunya menjadi enam kali dengan asal syara', apabila tidak meyakini shalat fardhu menjadi enam kali maka dihukum ta'zir
Dasar Pengambilan
I'anatut Thalibin Juz II hal. 63
( لَطِيْفَةٌ ) سُئِلَ الشَّيْخُ الرَّمْلِى رَحِمَهُ اللهُ عَنْ رَجُلٍ قَالَ : أَنْتُمْ يَا شَافِعِيَّةُ خَالَفْتُمُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَأَنْتُمْ تُصَلُّوْنَ اللهَ سِتًّا بِإِعَادَتِكُمُ الْجُمُعَةَ ظُهْرًا فَمَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ فِىْ ذَالِكَ، فَأَجَابَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَاذِبٌ فَاجِرٌ جَاهِلٌ فَإِنِ اعْتَقَدَ فِى الشَّافِعِيَّةِ أَنَّهُمْ يُوْجِبُوْنَ سِتَّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ كُفْرٌ وَأَجْرَى عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْمُرْتَدِّيْنَ وَإِلاَّ اسْتَحَقَّ التَّعْزِيْرَ الْلاَّئِقَ بِحَالِهِ الرَّادِعِ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ عَنِ ارْتِكَابِ مِثْلِ قَبِيْحِ أَفْعَالِهِ. وَنَحْنُ لاَ نَقُوْلُ بِوُجُوْبِ سِتِّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ وَإِنَّمَا تَجِبُ إِعَادَةُ الظُّهْرِ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ تَقَدُّمُ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ.
Syekh Ramli-Semoga Allah merahmatinya-ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata :" Kalian wahai pengikut Syafi'i, kalian telah menyalahi Allah dan rasulnya karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah memfardlukan lima kali shalat sedangkan kalian shalat enam kali dengan kalian mengulangi shalat jum'at dengan shalat dzuhur, maka apakah yang menetapkan pada laki-laki tersebut dalam hal i'adah?"maka syekh Ramli menjawab bahwasannya laki-laki ini adalah orang yang dusta, durhaka lagi bodoh. Jika dia beri'tikad dalam madzhab Syafi'i bahwa mereka mewajibkan enam kali shalat menurut asal syari'at, maka dia kafir dan harus berlaku atasnya hukum-hukum orang yang murtad dan jika dia tidak meyakini kewajiban tersebut dia harus dita'zir yang sesuai dengan keadaannya yang dapat mencegah baginya dan bagi orang-orang yang seperti dia dari melakukuan seperti kejelekan perbuatan-perbuatannya. Kami tidak berpendapat dengan kewajiban enam shalat menurut asal syari'at; dan sesungguhnya kewajiban mengulangi shalat dhuhur hanyalah jika tidak diketahui shalat jum'at yang sah yang mendahuluinya.
Syaikh Abdullah bin Baz berfatwa :
والخلاصة: أن صلاة الظهر بعد الجمعة بدعة وضلالة وإيجاد شرع لم يأذن به الله فالواجب تركه والحذر منه وتحذير الناس منه والاكتفاء بصلاة الجمعة ، كما درج على ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه بعده والتابعون لهم بإحسان إلى يومنا هذا وهو الحق الذي لا ريب فيه ، وقد قال الإمام مالك بن أنس رحمة الله عليه: ( لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها ) . وهكذا قال الأئمة بعده وقبله . والله الموفق
Terjemahan : Sesungguhnya shalat dhuhur setelah shalat Jum’at adalah sesuatu yang baru (bid’ah) yang menyesatkan dan mengada-adakan tuntunan (syari’at) yang tidak di izinkan oleh Allah. Maka wajib meninggalkannya dan memperingatkan masyarakat dari perbuatan itu, sudah cukuplah shalat jum’at saja (tanpa shalat dhuhur lagi), serbagaimana yang telah dipraktekkan oleh Nabi SAW, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai zaman sekarang. Itulah yang haq (benar) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Imam Malik bin Anas berkata: “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.” Dan seperti itulah perkataan imam-imam setelah beliau ataupun setelah beliau. Allah-lah Yang Maha Memberi taufiq.
Tersebut dalam kitab tuhfatul muhtaz syarh minhaj Ibnu hajar hal 202 jilid 9
وَسُئِلَ الْبُلْقِينِيُّ عَنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ لَا يَبْلُغُ عَدَدُهُمْ أَرْبَعِينَ هَلْ يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ أَوْ الظُّهْرَ فَأَجَابَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُمْ يُصَلُّونَ الظُّهْرَ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَدْ أَجَازَ جَمْعٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ أَنْ يُصَلُّوا الْجُمُعَةَ وَهُوَ قَوِيٌّ فَإِذَا قَلَّدُوا أَيْ جَمِيعُهُمْ مَنْ قَالَ هَذِهِ الْمَقَالَةَ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ ، وَإِنْ احْتَاطُوا فَصَلَّوْا الْجُمُعَةَ ، ثُمَّ الظُّهْرَ كَانَ حَسَنًا فَتْحُ الْمُعِينِ وَتَقَدَّمَ عَنْ الْجَرْهَزِيُّ مَا يُوَافِقُهُ وَفِي رِسَالَةِ الْجُمُعَةِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْفَتَّاحِ الْفَارِسِيِّ سُئِلَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْكُرْدِيُّ ، ثُمَّ الْمَدَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْجُمُعَةَ إذَا لَمْ تَسْتَوْفِ الشُّرُوطَ وَصُلِّيَتْ بِتَقْلِيدِ أَحَدِ الْمَذَاهِبِ وَأَرَادَ الْمُصَلُّونَ إعَادَتَهَا ظُهْرًا هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ أَمْ لَا وَأَجَابَ بِأَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ لَا مَنْعَ مِنْهُ بَلْ هُوَ الْأَحْوَطُ خُرُوجًا مِنْ الْخِلَافِ وَمَا فِي الْإِمْدَادِ وَلَا يَجُوزُ إعَادَةُ الْجُمُعَةِ ظُهْرًا وَكَذَا عَكْسُهُ لِغَيْرِ الْمَعْذُورِ فَمَحَلُّهُ عِنْدَ الِاتِّفَاقِ عَلَى صِحَّةِ الْجُمُعَةِ لَا عِنْدَ وُجُودِ خِلَافٍ قَوِيٍّ فِي عَدَمِ صِحَّتِهَا نَعَمْ كَمَذْهَبِ الْغَيْرِ فِي صِحَّةِ الْجُمُعَةِ شُرُوطٌ لَا بُدَّ فِي جَوَازِ.
وَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إذَا فُقِدَتْ شُرُوطُ الْجُمُعَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ فَمَا حُكْمُهَا وَأَجَابَ بِأَنَّهُ يَحْرُمُ فِعْلُهَا حِينَئِذٍ ؛ لِأَنَّهُ تَلَبَّسَ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ نَعَمْ إنْ قَالَ بِصِحَّتِهَا مَنْ يَجُوزُ تَقْلِيدُهُ وَقَلَّدَهُ الشَّافِعِيُّ تَقْلِيدًا صَحِيحًا مُجْتَمِعًا لِشُرُوطِهِ جَازَ فِعْلُهَا حِينَئِذٍ بَلْ يَجِبُ ، ثُمَّ إذَا أَرَادُوا إعَادَتَهَا ظُهْرًا خُرُوجًا مِنْ الْخِلَافِ فَلَا بَأْسَ بِهِ بَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ حِينَئِذٍ ، وَلَوْ مُنْفَرِدًا وَقَوْلُهُمْ لَا تُعَادُ الْجُمُعَةُ ظُهْرًا مَحَلُّهُ فِي غَيْرِ الْمَعْذُورِينَ وَمِنْهُمْ مَنْ وَقَعَ فِي صِحَّةِ جُمُعَتِهِ خِلَافٌ وَسُئِلَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ صَالِحٌ الرَّئِيسُ مُفْتِي الشَّافِعِيَّةِ بِمَكَّةَ الْمُشَرَّفَةِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَلْ يُسَنُّ إعَادَةُ الْجُمُعَةِ ظُهْرًا إذَا كَانَ إمَامُهَا مُخَالِفًا وَأَجَابَ بِقَوْلِهِ نَعَمْ تُسَنُّ إعَادَتُهَا ظُهْرًا حِينَئِذٍ ، وَلَوْ مُنْفَرِدًا لِقَوْلِهِمْ كُلُّ صَلَاةٍ جَرَى فِيهَا خِلَافٌ تُسَنُّ إعَادَتُهَا ، وَلَوْ فُرَادَى وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذِهِ مِمَّا جَرَى الْخِلَافُ فِي صِحَّتِهَا كَمَا نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ التُّحْفَةُ فِي بَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ دُون الْأَرْبَعِينَ يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ مُقَلِّدِينَ لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فِي الْعَدَدِ مَعَ جَهْلِهِمْ بِشُرُوطِ الْجُمُعَةِ عِنْدَهُ ، وَقَالَ لَهُمْ إمَامُهُمْ صَلُّوا وَيَكْفِي ذَلِكَ التَّقْلِيدُ وَأَجَابَ بِقَوْلِهِ نَعَمْ حَيْثُ نَقَصُوا عَنْ الْأَرْبَعِينَ جَازَ التَّقْلِيدُ لِلْإِمَامِ مَالِكٍ لَكِنْ مَعَ الْعِلْمِ بِالشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ عِنْدَهُ وَالْعَمَلُ بِهِ أَيْضًا وَتُسَنُّ الْإِعَادَةُ ، وَأَمَّا قَوْلُ إمَامِهِمْ لَهُمْ وَيَكْفِي إلَخْ فَإِنْ أَرَادَ بِذَلِكَ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ الْعِلْمُ بِالشُّرُوطِ فَهُوَ قَوْلٌ غَيْرُ صَحِيحٍ انْتَهَى مَا تَيَسَّرَ نَقْلُهُ مِنْ تِلْكَ الرِّسَالَةِ بِاخْتِصَارٍ.
“ Seseorang bertanya kepada Bulqainy tentang sebuah desa yang tidak sampai bilangan ahli Jumát 40 orang, apakah desa tersebut mendidirikan Shalat Jumát atau shalat dhuhur? Maka Bulqainy menjawab bahwa mereka harus shalat dhuhur berdasarkan Mazhab Imam Syafii, sebagian jamaáh Ulama membolehkan shalat jumát dan pendapat ini kuat, bila telah melakukan shalat Jumát maka bagus melaksanakan shalat dhuhur.
Pada penjelasan alinia berikutnya bila tidak cukup syarat untuk mendirikan jumát apakah boleh shalat jumát untuk tujuan ikhtiyat ? maka jawabannya boleh shalat juma’t karena ikhtiyat mengikuti pendapat salah satu mazhab yg membolehkan dan kemudian shalat iadah dhuhur pun dibolehkan bahkan disunatkan. Hal ini menurut penyusun di dasarkan pada pemikiran dan tidak ditemukan dalil nas nya dalam penjelasan tersebut. Menurut penyusun walaupun sandaran mengerjakan Iadah dhuhur ada referensinya , namun secara kekuatan dalil tidak dappat dipertanggung jawabkan secara kongkrit.
Syarat bilangan Jumát 40 orang laki-laki juga dijelaskan dalilnya dalam kitab Syarah Muhazzab :
قال المصنف رحمه الله
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Menurut Analisis penulis, Tidak ada sebuah alasan yang tepat untuk melaksanakan shalat Iadah dhuhur bila shalat jumát yang dilaksanakan disebuah mesjid sudah yakin sah, lengkap syarat dan rukunnya, bahkan sebagian hal tersebut dilarang melakukannya.
Apabila seseorang telah menunaikan shalat jumat, maka tidak ada lagi baginya kewajiban untuk melakukan shalat Dhuhur. Kecuali bila dia tidak mendapatkan shalat jumat.
Jika melakukan shalat dhuhur pasca shalat Jum'at itu karena keraguan sahnya jumát hukumnya shalat íádah dhuhur tidak boleh dilaksanakan (haram dilaksanakan).
Secara Dalil tidak ditemukan hadist-hadist yang menunjukkan Hukum Sunnat Iádah dhuhur karena untuk memelihara khilaf sah jumát, namun secara pemikiran, penyusun mendapati rujukan di beberapa kitab referensi yang menyatakan sunat iádah dhuhur.
Namun Jika melakukan shalat dhuhur setelah diselenggarakan shalat Jum'at itu karena yakin ta'addud (jumlah shalat Jum'at yang diselenggarakan di satu kampung lebih dari satu), maka hukumnya wajib shalat dhuhur hal ini berdasarkan rujukan dari kitab ( Al Umm, jld:1 hal: 221)
DAFTAR PUSTAKA
Imam Sayuthi, asybah wannadhzair
Abdurrahman bin Muhammad Husen, Bugryatul Murtasyidin, ( Beirut: Darul Fikr, )
As-Syafii, Al Umm, jild:1( Beirut: Darul Fikr, )
Wahbah Zuhaily, Fiqih Islam Waadilatuh
Abubakar Syata, Iannatut thalibin
Ibnu Hajar, Tuhfatul Mukhtaj syarh minhaj.
Abi Zakaria Mahyiddin An-Nawawi, Syarah Muhazzab.
Abdul Aziz bin Baz, Majmu’ Fatawa
Abi Zakaria Mahyiddin An-Nawawi, Syarah Muhazzab,Darul Fikri