....setelah sampai di rumah sang cucu di heboh kan dengan tamu dan teman sehigga bertambah stres, sehingga sang cucu hanya bisa mengurung diri sendiri dikamar dan tidak ingin di ganggu.
singkat cerita sang cucu sembuh kembali dan terhindar dari maut yang sudah dialaminya beberapa kali di usia muda.
Semenjak saat itu sang cucu panglima almarhum Tgk pulo lebih pendiam dan agak pemarah membuat para pengawal serta keluarga besar almarhum Tgk pulo semakin segan dan takut kepada cucu almarhum Tgk pulo yang semakin dewasa, bahkan kabar tentang kejadian demi kejadian yang dialami sang cucu tersebar keseluruh wilayah kekuasaan almarhum panglima Tgk pulo dengan julukan yang diberikan oleh sang ibunda tercinta dengan panggilan "Maot theun" yang mempunyai beberapa makna dalam bahasa diantaranya, jika menurut kata "Ajal tahan", atau "belum ajal", atau "tertahan nyawa", dan keluarga besar yang berdomisili di kota Medan yang tidak bisa berbahasa Aceh mengatakan "Nyawa Tersaring".
Semenjak kejadian tabrakan sang cucu semakin taat dan semakin rajin beribadah, sang cucu benar-benar berbakti dan belajar menuntut ilmu Dunia dan Akhirat dengan julukan itu.
Diantara satu kelebihan lagi sang cucu setelah sembuh total, suatu hari sedang duduk dengan salah seorang kepala pasukan pengawal almarhum Tgk pulo yang memiliki insting dan pirasat yang sangat tinggi, ketika asik bertukar pikiran dan berbagi cerita datang lah seorang dengan gagah perkasa dan wajah yang sangat sadis penuh kemarahan menghampiri sang cucu dan kepala pasukan sambil berlari dengan mengelurkan senjata api genggam mengarah kepada sang cucu....
Bersambung