Prolog
Orang-orang yang mengejar mimpi dan kebahagiaan, seperti ikan kecil yang mencari keberadaan air
Wik...
Ingin sekali aku bertemu denganmu, ada kerinduan yang merayap di kisi-kisi hatiku, saat membayangkan kita pernah mencoba mengangkangi hidup dengan mengumpulkan serpihan harapan, impian dan angan-angan masa kecil, kita pernah melewati beberapa episode mencekam dalam hidup, Sebahagian mengoyak kebebasan pada bentuk yang tak bertuan, Tidak sedikit yang menelanjangi kita, Menggadaikan kehormatan pada peluh dan beberapa lembar rupiah, kita berpesta dengan menghina peradaban disudut-sudut remangnya kehidupan.
Wik...
Setahun sudah kita berpisah, Aku memberanikan diri untuk menulis surat ini padamu, kulukis semua rasa dan harapku padamu, Bahwa kita pernah bersama dan berharap akan bersama selamanya.
Adakala tanpa kau ketahui, aku sering menjerit, tapi tak jarang berfikir gila untuk menetap disana.
Banyak hal yang ku dapatkan selama aku menggeluti dunia yang kau perkenalkan padaku, Tidak penting orang lain mengenalimu, Yang penting kau mengenali siapa mereka katamu.
Aku terus belajar untuk meraih kepercayaan mereka, Membenahi dan mengisi kekurangan yang mereka lakukan, Karena kepercayaan seperti jaring penyelamat bagi setiap pelompat yang gagal
Aku ingin terus mengasihi mereka yang sering menemuiku, Karena Bila aku tidak menyayangi orang yang sering bertemu, Bagaimana aku akan mencintai Tuhan yang sama sekali "tidak terlihat"
Aku tidak ingin hidup untuk diri sendiri yang singkat dan tak bermakna, maka kupersembahkan hidupku pada semua orang agar terasa panjang dan tak melelahkan, aku sadar bahwa keinginan mewujudkan sesuatu dalam hidup bukan perkara kalah atau menang.
Wik, sahabatku yang baik...
Apakah aku tersiksa?
Bukankah pada hakikatnya Semua kita adalah orang-orang yang tersiksa oleh kerinduan, Lalu kita akan bergerak mengetahui tentang sesuatu yang kita rindukan, Terlepas jalan mana yang kita tempuh.
Apakah aku berdusta pada diriku?
Wik, aku masih ingat ketika kau mengulangi kata yang sama didepan Mas @zainalbakri Mas
@ayijufridar Mas
@mukhtar.juned atau orang yang paling sering mengunjungimu
@yahqan:
Bila hati masih bisa memendam rindu, Maka siapa yang tak kenal dusta?
Kecewakah aku karena pernah mengikutimu?
Tidak Wik, Jauh-jauh hari aku sudah mengeluarkan kata itu dari kamus hidupku, Aku berusaha untuk percaya bahwa pengalaman-pengalaman buruk yang ku alami akan menjadikanku sebagai orang yang lebih baik.
Kau selalu mengatakan padaku, Tidak ada seorangpun yang mampu menterjemahkan hakikat dari rasa sakit, perih atau menderitanya seseorang bila dia sendiri tidak mengalaminya
Bukankah itu jawaban sempurna tentang nilai sebuah kerinduan?
Wik...
Aku telah mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku, mengikhlaskan mimpi dan harapanku yang terlunta-lunta, yang pernah memberangus hati dan jiwa sadarku, seperti tiang yang dimakan rayap.
Antrian petaka telah kulangkahi satu persatu, Krisis moral yang ku alami ku jadikan untuk menempa semangat dan harapanku, karena saat itu, aku tidak ingin mati jika krisis terus berlanjut.
Wiwik...
Seperti rutinitas yang sering kita lalui, entah siapa sekarang yang sedang menidurimu, aku tidak perduli dan tidak ingin mengatakan jalan yang kau tempuh rasanya keliru, karena aku juga pernah memperlakukan malam yang dingin sebagai rumah kegelapan.
Aku hanya ingin memberitahumu, Bahwa aku telah menemukan jalan pulang, Menemukan kembali jiwa dan hidupku, bukan di ranjang berdenyut, tapi dihamparan sajadah, Bukan di erangan dan gelak tawa, tapi pada keharuan dan butir-butir airmata di sepertiga malam, Sehingga usia yang terus bertambah tidak hanya sekedar menjadi pemicu tumbuhnya uban penanda kerentaan...
Wiwik sahabatku yang baik...
Bisa jadi disana menjadi tempat berteduh yang nyaman, Tapi percayalah, itu sama sekali bukan tempat tinggal yang menyenangkan.
Pulanglah Wik, Agar kisah ini bisa kita patri bersama di dinding sejarah hidup yang pernah kita lalui...
Epilog
Jika suka dan derita akan berlalu pada akhirnya, Kenapa kita harus larut didalamnya
Ateuh Cot Paloh Lada