Hallo Stemian, apa kabar? Semoga masih dalam lindungan Allah SWT.
Melihat perkembangan dunia perfilman saat ini terutama film actions, banyak sekali sosok super hero yang muncul dengan berbagai kisahnya, petualang menarik dengan berbagai adegan menegangkan tentunya mendorong minat para pemuda untuk menontonnya. Namun, tahukah sahabat stemian sekalian bahwa Islam memiliki sejarah actions yang jauh lebih menegangkan dan jauh lebih luar biasa?
Salah satunya adalah kisah dari salah seorang sosok yang saya kagumi, Khalid adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Pedang Allah yang Terhunus (Sayf Allāh al-Maslūl). Khalid bernama Khalid bin Walid lengkapnya Abū Sulaymān Khālid ibn al-Walīd ibn al-Mughīrah al-Makhzūmī.
Khalid bin Walid selain dikenal sebagai sahabat Rasulullah, Khalid juga merupakan sosok yang memiliki kecakapan dalam bidang militer diatas rata-rata. Dia juga merupakan salah satu panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya. Tentunya Khalid merupakan salah satu pemimpin pasukan Madinah di bawah kekuasaan Nabi Muhammad SAW dan juga penerusnya seperti Abu Bakar dan Umar Bin Khattab.
Dalam kepemimpinan militernya, Jazirah Arab pertama kali dalam sejarah bersatu dalam satu entitas politik yaitu Kekhalifahan. Khalid mengomandani pasukan muslim yang baru terbentuk. Atas izin Allah, Khalid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran, diantaranya melawan Kekaisaran Byzantium yang jumlahnya mencapai 240.000 orang, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan khalifah.
Sebelum masuk islam Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang memimpin pasukan Quraisy dan menjadi mualaf (masuk islam) bergabung bersama Rasulullah setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyyah. Khalid mendapat langsung gelar dari Rasulullah setelah memenangkan pertempuran Mut’ah yaitu pertempuran pertama umat Muslim melawan orang Romawi.
Nama Khalid harum dimana-mana, semua orang memuji dan mengelu-elukannya. Kemanapun Khalid melangkah selalu disambut dengan teriakan, “Hidup Khalid, Hidup Jenderal, Hidup Panglima, Hidup Pedang Allah yang terhunus.” Disebabkan Kemasyhuran nama dan kehebatan Khalid bin Walid, ada satu kisah menarik yang bisa kita pelajari dan amalkan.
Dia sangat sempurna dan ahli dibidangnya. Dia ahli siasat perang, mahir menggunakan segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada di puncak popularitas.
Kisah tersebut dimulai ketika Khalid di kirim surat oleh Amirul Mukminin kala itu, Umar bin Khattab. Dalam surat tersebut dengan jelas Umar berkata bahwa jenderal Khalid di pecat menjadi panglima perang, dan segera menghadap. Dengan sigap Khalid langsung menghadap.
Sesampainya di depan Umar, Khalid memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"
"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.
"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Namun, jikalau boleh tahu, kesalahan apa yang telah saya perbuat?"
"Sahabatku, kamu tidak punya kesalahan."
"Jika tidak punya kesalahan, lantas kenapa saya dipecat wahai Khalifah? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"
"Wahai Khalid ssahbatku. Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."
"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid sahabatku, kamu adalah jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kamu pimpin, dan tak pernah sekalipun kamu kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkanmu. Namun, ingat Khalid, kamu juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kamu saya pecat. Supaya kamu tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kamu tak bisa berbuat apa-apa!"
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada Khalid langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis Khalid berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Kamu saudaraku!
Bayangkan sahabat stemian, Jenderal mana yang dapat melakukan hal mulia seperti itu? Dipecat tanpa alasan namun tetap berlaku mulia. Luar biasanya lagi sahabat stemian, setelah beliau dipecat lagi-lagi beliau kembali ke medan perang. Tapi kali ini tidak sebagai panglima melainkan bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.
Tentunya beberapa prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani itu masih mau ikut bergabung ambil bagian dalam peperangan, padahal telah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."
Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."
Sebuah kisah yang sangat indah dari seorang jenderal, panglima perang, Pedang Allah yang Terhunus yang mungkin sampai detik ini belum ada yang mengalahkan rekor karirnya. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT.
Semoga beliau dimuliakan di sisi Allah SWT. Aamiin.
Dan Semoga para pemimpin bangsa kita mampu belajar dari sepenggal kisah ini. Selain itu, sebagai generasi melenial mari buka mata dan sadarlah bahwa masih banyak kisah luar biasa dari para pejuang islam yang jauh lebih menarik untuk diketahui dari pada film-film actions yang terkadang hanya fantasi belaka.